Polemik di Papua
Pelajar di Papua Tolak Makan Bergizi Gratis, Jubir KNPB Singgung Penjajah Datang dengan Dua Wajah
Sejumlah pelajar di Papua unjuk rasa menolak salah satu program unggulan presiden Prabowo Subianto, Makan Bergizi Gratis.
TRIBUNJAMBI.COM - Sejumlah pelajar di Papua unjuk rasa menolak salah satu program unggulan presiden Prabowo Subianto, Makan Bergizi Gratis.
Pelajar tersebut menuntut agar pemerintah mengganti program tersebut dengan pendidikan gratis.
Penolakan yang terjadi di beberapa wilayah di Bumi Cendarawasih tersebut direspon Juru Bicara Internasional Komite Nasional Papua Barat (KNPB), Viktor Yeimo.
Dia menyinggung penjajahan yang terjadi di dunia. Dia mengungkapkan bahwa sepanjang sejarah, penjajah selalu datang dengan dua wajah.
Kata dia, wajah pertama datang dengan tangan menindas, tangan lainnya menawarkan kebaikan.
Yeimo menjelaskan, penjajah di berbagai belahan dunia telah menggunakan makanan sebagai senjata untuk membunuh, melemahkan dan menundukkan bangsa yang mereka jajah.
"Di Kanada, 1940-an sampai 1950-an, penjajah memaksa anak-anak sekolah di asrama makan makanan yang penuh zat kimia. Mereka bilang itu makanan sehat, tapi itu membuat anak-anak gizi buruk, lemah, sakit dan banyak mati," jelasnya melalui telepon selulernya kepada Tribun-Papua.com, Senin (17/02/2025).
Selain itu, kata Yeimo, selama perang Iran-Irak, ada laporan pasokan susu bubuk yang diberikan kepada anak-anak sekolah di Irak dan mereka telah terkontaminasi dengan zat beracun.
Baca juga: Aksi Tolak Makan Bergizi Gratis di Wamena Papua Ricu, Ada Kepulan Asap
Baca juga: LBH Dampingi 15 Pelajar Diamankan Aksi Tolak MBG di Papua: Dibungkam, Alasan Tak Dapat Izin Polisi
Akibatnya, ribuan anak mengalami keracunan massal, banyak yang meninggal atau mengalami gangguan kesehatan permanen.
"Di Afrika Selatan 1980-an, di bawah rezim apartheid, anak-anak sekolah kulit hitam diberi makanan yang telah dicampur dengan zat kontrasepsi dan bahan kimia lain, melemahkan sistem kekebalan tubuh mereka," ujarnya.
Ini Lanjut Yeimo, dilakukan untuk mengurangi pertumbuhan populasi kulit hitam dan menjaga dominasi kolonial kulit putih.
"Di Afghanistan, anak-anak dan pejuang diberikan makanan gratis yang ternyata sudah diracuni oleh Uni Soviet. Setelah mereka makan, tubuh mereka melemah dan banyak yang mati perlahan-lahan," ujarnya.
Dari sejarah yang dijelaskan itu Yeimo mengatakan bahwa penjajah tidak pernah memberi makan tanpa tujuan baik di dalamnya.
"Anak-anak sekolah juga menjadi target karena mereka adalah masa depan dari bangsa yang ingin ditundukkan penjajah. Penjajah selalu membunuh, merampas dan menindas, tetapi di saat yang sama, mereka membangun jalan, sekolah, rumah sakit, dan membagikan makanan," kata Mantan Ketua KNPB Pusat tersebut.
Belajar dari sejarah dunia, hal ini bukan karena mereka peduli, tetapi karena memastikan adanya sifat tunduk dan taat kepada negara tanpa sadar maupun tidak sadar.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.