Kamis, 9 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Ekologi

KKI Warsi: Perubahan Iklim Memperparah Kebakaran Hutan Jambi

Luas lahan yang terbakar di Jambi berdasarkan analisis citra satelit sentinel 2 yang dilakukan Tim GIS KKI Warsi yaitu seluas 357 ha lahan dan hutan

Editor: Suang Sitanggang
TRIBUNJAMBI/HO/KKI WARSI
Ilustrasi. Kondisi di titik kebakaran hutan di Jambi pada karhutla 2019. 

TRIBUNJAMBI.COM - Aprilia membuka kran, hendak membilas masker rambut yang sejak tadi membungkus rambutnya. Kran berputar, air tidak kunjung keluar.

Sumur mengering karena hujan sudah sebulan tidak kunjung membasahi Kota Jambi. Ia harus menunggu dua jam agar air kembali terisi dan aktivitas paginya harus tertunda. Bencana kecil bagi Aprilia di bulan Agustus.

Kemarau Agustus yang dihadapi oleh masyarakat Kota Jambi dampaknya ketiadaan air untuk aktivitas mandi. Namun bagaimana dengan daerah lainnya?

Bergeser saja kita sedikit ke Kabupaten Muaro Jambi. Musim kemarau di kabupaten ini menyulut api dan menyebabkan kebakaran. Daerah yang sebagian besarnya merupakan lahan gambut, mengering dan rentan mengalami kebakaran.

Luas lahan yang terbakar berdasarkan analisis citra satelit sentinel 2 yang dilakukan oleh Tim GIS KKI Warsi yaitu seluas 357 ha lahan dan hutan.

“Berdasarkan sebarannya terjadi di areal gambut dan tanah mineral yang terindikasi ada konflik lahan,” kata Adi Junedi Direktur KKI Warsi.

Tahun ke tahun, kebakaran hutan dan lahan terus berulang terjadi di Provinsi Jambi. Pada tahun 2023 sebanyak 335 hektare lahan dan hutan di Provinsi Jambi terbakar.

Kejadian tahun ini dan tahun sebelumnya menjadi catatan buruk dalam pengelolaan hutan di Provinsi Jambi, yang terus mengalami degradasi dari tahun ke tahun.

Provinsi Jambi kehilangan hutan sebanyak 73 persen dalam 50 tahun terakhir. Pada 1973 tutupan hutan Jambi tercatat 3,4 juta hektare. Namun pada 2023, tutupan hutan di Jambi hanya tinggal 922.891 hektare.

Kehilangan ini awalnya disebabkan perubahan kawasan hutan menjadi areal penggunaan lain, pemukiman, dan perkebunan.

Saat ini, kebakaran hutan dan lahan terus mengancam kawasan hutan tersisa. Kebakaran hutan di Jambi hampir selalu diakibatkan oleh ulah manusia sebagai bagian dari upaya pembukaan lahan, namun menyebar di luar kendali karena cuaca kering dan panas, dan diperburuk dengan perubahan iklim.

“Hutan menjadi salah satu benteng terakhir kita dalam mengendalikan dampak perubahan iklim. Namun, juga menjadi faktor yang memperburuk perubahan iklim apabila terus mengalami kebakaran,” kata Adi Junedi.

Kebakaran hutan menjadi penyumbang utama emisi karbon global dan dengan demikian menyebabkan pemanasan melalui efek rumah kaca. Apabila terus terjadi kebakaran hutan, emisi yang dihasilkan akan semakin banyak sehingga memicu pemanasan global dan peningkatan suhu atau yang disebut dengan perubahan iklim.

Pun sebagai sesuatu yang berkelindan dan berkait, perubahan iklim memperparah terjadinya kebakaran hutan. Badai dan peningkatan suhu membuat kebakaran hutan sulit dikendalikan.

“Kondisi hari ini kita terjepit oleh perubahan iklim. Kebakaran hutan menyebabkan perubahan iklim. Begitupun sebaliknya, satu-satunya upaya kita adalah menjaga hutan yang tersisa saat ini agar tidak mengalami kebakaran,” kata Adi.

Sumber: Tribun Jambi
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved