Sosok Presiden Iran Ebrahim Raisi, Helikopternya Hilang saat Kunjungan Kemarin
Profil Presiden Iran, Ebrahim Raisi yang hilang bersama helikopternya karena cuaca buruk, Minggu (19/5/2024).
Presiden Iran, Ebrahim Raisi
TRIBUNJAMBI.COM - Profil Presiden Iran, Ebrahim Raisi yang hilang bersama helikopternya karena cuaca buruk, Minggu (19/5/2024).
Pemerintah Iran saat ini sudah menyatakan ini adalah kecelakaan, dan puluhan tim dikerahkan untuk mencari dan menyelamatkan pemimpin Iran tersebut, seperti laporan kantor berita resmi Iran, IRNA.
Selain Presiden Iran, helikopter juga membawa Menteri Luar negeri Iran Hossein Amir-Abdollahian, Gubernur Azerbaijan Timur Malik Rehmati, dan Imam Salat Jumat Tabriz Ayatollah Al-Hashem.
Kabarnya, helikopter hilang di kawasan pegunungan berkabut di Provinsi Azerbaijan Timur, Iran.
Karena lokasi kejadian berada di pegunungan yang berkabut tebal, operasi pencarian dan penyelamatan diperkirakan akan memakan waktu lama.
Berikut sosok Presiden Iran Ebrahim Raisi
Presiden garis keras Iran, Ebrahim Raisi, oleh media Barat lama dianggap anak didik pemimpin tertinggi Iran dan sebagai pengganti potensial di dalam teokrasi Syiah negara tersebut.
Raisi, 63 tahun, sebelumnya menjabat sebagai kepala peradilan Iran. Dia gagal dalam pencalonan presiden pada tahun 2017 melawan Hassan Rouhani, seorang ulama yang relatif moderat yang berhasil mencapai kesepakatan nuklir Tehran dengan kekuatan dunia pada tahun 2015.
Baca juga: Helikopter Presiden dan Menlu Iran Dilaporkan Jatuh Karena Cuaca Buruk
Baca juga: Pengakuan Saka Mantan Terpidana Pembunuhan Vina dan Eki di Cirebon, Bukan Geng-Tak Punya Motor
Pada tahun 2021, Raisi mencalonkan diri kembali dalam pemilihan presiden.
Raisi memenangkan hampir 62 persen dari 28,9 juta suara, dengan tingkat partisipasi terendah dalam sejarah Republik Islam tersebut. Jutaan orang tinggal di rumah dan yang lain membatalkan suara.
Raisi menunjukkan sikap yang tegas ketika ditanya dalam konferensi pers setelah terpilih tentang eksekusi tahun 1988, yang dituding Barat terjadi pengadilan palsu terhadap tahanan politik, milisi, dan orang lain yang kemudian dikenal sebagai "komisi kematian" pada akhir perang Iran-Irak yang berdarah.
Setelah Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ruhollah Khomeini, menerima gencatan senjata usulan PBB, anggota kelompok oposisi Iran Mujahidin-e Khalq, yang dipersenjatai oleh Saddam Hussein, menyerang Iran dari perbatasan Irak dalam serangan mendadak. Iran berhasil menghalau serangan mereka.
Pengadilan dimulai sekitar waktu itu, dengan terdakwa diminta untuk mengidentifikasi diri mereka sendiri.
Mereka yang menjawab "mujahidin" dijatuhi hukuman mati, sementara yang lain ditanyai tentang kesiapan mereka untuk "membersihkan ranjau bagi pasukan Republik Islam," menurut laporan Amnesty International tahun 1990.
Kelompok-kelompok hak asasi internasional memperkirakan hingga 5.000 orang dieksekusi mati. Raisi saat itu bertugas di komisi-komisi tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/20052024-Presiden-Iran-Ebrahim-Raisi.jpg)