Kabar Duka dari Sumatra Barat, 37 Orang di Agam-Tanah Datar Meninggal Akibat Lahar Dingin Marapi
Aliran banjir lahar dingin Gunung Marapi meluap ke jalan dan menerjang masuk rumah-rumah, pertokoan dan kantor bahkan merubuhkannya.
TRIBUNJAMBI.COM, PADANG - Hujan cukup deras mulai mengguyur kawasan sekitaran Gunung Marapi, Sumatra Barat, pada Sabtu (11/5/2024) pukul 19.00 WIB.
Sekira dua jam kemudian, kekhawatiran warga terjadi.
Banjir lahar dingin menerjang permukiman warga, hingga mengakibatkan 37 orang meninggal dan belasan orang hilang.
Banjir lahar dingin Gunung Marapi menerjang Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanah Datar.
Aliran banjir meluap ke jalan dan menerjang masuk rumah-rumah, pertokoan dan kantor bahkan merubuhkannya.
Jefri, warga Nagari Bukik Batabuah, Kabupaten Agam, yang selamat menceritakan peristiwa tersebut.
Saat itu, dia bersama warga lainnya berhasil menyelamatkan tetangganya yang hampir hanyut terbawa derasnya aliran banjir lahar dingin Gunung Marapi Sumbar yang terjadi pada hari, Sabtu (10/5) malam.
Jefri menceritakan sekira pukul 19.00 WIB hujan yang cukup deras sudah mulai mengguyur kawasan sekitaran Gunung Marapi.
Sekira pukul 20.00 WIB, aliran air di sungai yang sebelumnya pernah terjadi banjir, kembali tersumbat material pasir dan kayu-kayu besar.
"Saat tersumbat itu warga banyak yang keluar dan bekerja sama untuk mencoba membersihkan yang menyumbat," ujarnya.
Hujan turun semakin deras, aliran air pun semakin tinggi dan kencang.
"Karena tersumbat itu, air menjadi meluap dengan intensitas yang lebih besar dari banjir ketika bulan Ramadhan lalu," katanya.
Sekira pukul 21.00 WIB, hal yang ditakutkan terjadi, banjir lahar dingin menerjang permukiman warga.
"Saat banjir itu, rumah saya tidak terlalu tinggi airnya, jadi saya langsung mengambil kain untuk ditutup ke lubang pintu agar tidak masuk, tapi saya berada di luar untuk melihat-lihat dan berkomunikasi dengan tetangga yang juga ada memantau," ujarnya.
Saat berada di luar, Jefri melihat tetangganya seorang ibu-ibu yang saat itu berusaha untuk keluar karena air di rumahnya mulai tinggi tersapu banjir.
"Karena melihat itu, saya bersama warga lainnya langsung mengejar ibu tersebut. Alhamdulillah bisa kami kejar dan selamatkan," ujarnya.
"Setelah itu kita juga membantu keluarganya yang lain bersama warga untuk mengevakuasi ke tempat yang lebih aman," pungkasnya.
Data yang dihimpun Tribun hingga Minggu (12/5) pukul 19.00 WIB dari Kantor SAR Kelas A Padang, korban meninggal dunia akibat bencana galodo atau banjir bandang berjumlah 37 orang.
Dari jumlah tersebut, 19 orang di antaranya dari Kabupaten Agam, 9 orang dari Kabupaten Tanah Datar, 1 orang dari Padang Panjang, dan 8 orang dari Padang Pariaman.
Sementara itu, belasan orang masih dicari tim gabungan, yakni 3 orang dari Agam, 14 orang dari Tanah Datar, 1 orang dari Padang Panjang.
Selain itu, untuk di Padang Pariaman masih dalam pendataan Kantor SAR Kelas A Padang.
Tiga Daerah
Wakapolda Sumbar, Brigjen ol Gupuh, mengatakan hujan deras mengakibatkan bencana tanah longsor dan banjir bandang.
"Bencana itu terjadi di Kabupaten Tanah Datar, Agam dan Kota Padang Panjang," ujarnya.
Akibat bencana itu, terdapat 50 bangunan rusak parah, serta fasilitas umum seperti sekolah, musala dan pelayanan publik lainnya.
Terpantau dari lokasi Jalan Nasional Silaiang Kecamatan X Koto, Tanah Datar, kondisi jalan di kilometer 64/200 putus total. Terlihat sejumlah bangunan di Taman Wisata Alam di sekitar lokasi rusak parah, banyak material banjir berserakan di sekitar TWA.
Jalan Nasional Putus
Kondisi jalan Nasional Padang-Bukittinggi di Batang Anai, Silaiang, Tanah Datar putus total, pengendara bisa memilih jalur alternatif via Singkarak atau Kelok 44.
Kedua jalur tersebut menurut Kapolda Sumbar Irjen Pol Suharyono relatif aman untuk dilalui sampai saat ini.
Jalan alternatif via Singkarak, bisa dilalui dari Sitinjau Lauik, Solok, Singkarak dan Padang Panjang. Sedangkan jalan alternatif via kelok 44 bisa dilalui dari BIM, Ulakan, Pariaman, Tiku, Lubuk Basung, Maninjau, Kelok 44 dan Padang Luar.
"Kondisinya memang jalan alternatif via Malalak sudah bisa dilalui, tapi Malalak lokasinya rawan longsor," ujar Kapolda.
Menurutnya, dengan kondisi cuaca saat ini, kemungkinan longsor di jalur Malalak masih bisa terjadi.
Kendati demikian, pihaknya mengimbau agar masyarakat yang tidak memiliki keperluan mendesak dari Padang ke Bukittinggi atau sebaliknya, bisa menunda perjalanan terlebih dahulu.
Kafe Lembah Anai tak Tersisa
Cafe Xakapa yang pernah hits dengan pemandangan Air Terjun Lembah Anai dan aliran sungai, habis tak tersisa akibat banjir lahar dingin.
kafe di daerah Lembah Anai, Kabupaten Tanah Datar itu turut terbawa arus banjir lahar dingin.
Terlihat di lokasi, kafe dua lantai di sisi sungai jalan lintas Padang-Bukittinggi tersebut tidak menyisakan puing bangunan satu pun.
Hanya terlihat badan jalan yang dahulunya menjadi tempat parkir kendaraan di cafe tersebut.
Warga setempat bernama Eka (50) mengatakan cafe tersebut terbawa oleh banjir bandang.
"Banjirnya sangat cepat dan tiba-tiba, jadi tidak ada yang melihat pasti bagaimana bangunan kafe itu hilang," ujarnya.
Kendati bangunan Cafe Xakapa hilang, beberapa meter dari sana ada bangunan masjid yang masih kokoh, namun tidak terusik oleh banjir bandang.
Saat di lokasi kejadian beberapa warga terdengar bergurau, bahwa Cafe Xakapa sudah berlayar sesuai namanya.
Perlu Sabo Dam
Ade Edward, ahli geologi dari Sumatera Barat, mengatakan pemerintah harus serius menanggulangi risiko bencana di daerah aliran sungai (DAS) Gunung Marapi.
Banjir lahar dingin yang masuk ke permukiman menjadi tamparan bagi pemerintah untuk tidak tinggal diam dan segera menanggulangi dampak, mulai dari dampak korban jiwa hingga kerusakan infrastruktur.
"Pasca lahar dingin sebelumnya di Bukik Batabuah itu sebenarnya warga di sekitar DAS harus dipindahkan, tapi ini tidak dipindah, alur sungai dibiarkan saja, yang dibersihkan yang di jalan saja, alur sungai tak dirawat," kata Ade Edward.
Curah hujan dan erupsi Marapi tidak bisa dibendung.
Namun pemerintah bisa memitigasi potensi bencana, yakni merelokasi masyarakat di DAS yang berhulu di Marapi.
Selain itu, pengendalian aliran sungai amat perlu dilakukan pemerintah. "Dari peta yang kita lihat, setidaknya ada 24 jalur sungai dari puncak Gunung Marapi.
Itu ancaman bahaya bagi daerah hilir, sehingga secara kultural atau budaya masyarakat harus diberi pemahaman, dilatih, agar tahu mana daerah-daerah yang bahaya.
Masyarakat harus dipindahkan atau direlokasi yang tinggal di DAS," kata Ade.
Selain merelokasi warga, hal paling penting menurut Ade yang harus dilakukan pemerintah ialah mengendalikan sungai. Pembangunan Sabo Dam dan embung dianggap solusi jangka panjang yang tak bisa dikesampingkan.
"Sabo Dam dan embung itulah yang akan mengendalikan air sungai sehingga tidak melebar kemana-mana. Sebagai pengendali sungai, agar sungai tidak meluber ke pemukiman. Sehingga walaupun lahar dingin turun, tapi tetap di jalurnya," ulas Ade.
Membangun sabo dam memang membutuhkan waktu dan biaya yang besar, namun itu harus dikerjakan. Sembari itu masyarakat juga harus direlokasi, dan pemukiman harus ditata kembali.
"Memang tidak semua masyarakat mampu untuk pindah, di sana lah peran pemerintah. Pindahkan, relokasi, jangan dibiarkan tinggal di kawasan rawan bencana, itu tak bisa ditunggu," imbuh Ade.
Bencana banjir lahar dingin yang terjadi di Agam dan Tanah Datar itu terjadi karena aliran sungai yang tidak dikendalikan, menyebabkan material dari Marapi terbawa aliran sungai, dan masuk ke pemukiman warga.
"Solusi jangka panjangnya, secara kultural pemerintah harus terus melakukan pendidikan, sosialisasi, pelatihan dan penyadaran ke masyarakat. Lalu, secara struktural, infrastrukturnya harus dibangun Sabo Dam di 24 aliran sungai dari puncak Gunung Marapi. Memang besar biayanya, tapi harus dilakukan," kata Ade.
Sebelumnya, ia telah mewanti-wanti bahwa aktivitas Gunung Marapi Sumbar tidak bisa diprediksi.
Ia memperkirakan aktivitas Marapi Sumbar akan seperti Gunung Merapi di Yogyakarta.
"Perlu pemerintah yang kuat dalam menghadapi bencana. Jadi jangan diabaikan ini. Harus serius mulai dari pemerintah kabupaten/ provinsi dan pusat," ulasnya.
Ia kemudian menyesalkan momen hari kesiapsiagaan bencana pada bulan lalu yang dipusatkan di Kota Padang, saat itu sebagian kecil warga di Kota Padang dilatih siap menghadapi potensi gempa dan tsunami.
Padahal, menurut Ade mestinya momen hari kesiapsiagaan bencana nasional itu digelar di sekitar Gunung Marapi.
"Itu keliru (hari kesiapsiagaan bencana nasional di Padang). Jadi, kebijakan nasional sendiri tidak mengarah ke situ, harusnya di Agam atau Tanah Datar, sebagai upaya kesiapsiagaan terhadap potensi bencana di Gunung Marapi.
Kenapa kesiapsiagaan itu bukan untuk Marapi, ini yang kita sesalkan, ini pembelajaran juga untuk BNPB agar fokus ke mitigasi Marapi, pungkasnya. (tribunpadang.com/fajar/panji/wahyu wahar)
Baca juga: Kang Mus Tersenyum Saat di Polres Jakarta Barat, Epy Kusnandar Ditangkap Polisi karena Kasus Narkoba
Baca juga: Tiga Bendera Kuning di Desa Palasari Ciater, Tiga Pelajar SMK Bersahabat Sehidup Semati
Dua Meninggal usai Kereta Tabrak Mobil Siswa SMAN 10 Padang, termasuk Anak Kapolres Solok |
![]() |
---|
Rabu Pagi, Gunung Marapi di Sumbar Erupsi Lagi Disertai Dentuman |
![]() |
---|
Identitas Pelaku Rajapati Dua Pekerja Perempuan di Kebun Sawit Sangir Batang Hari |
![]() |
---|
Perkara Pinjam Uang Rp400 Ribu Berujung Maut, Pria di Sumbar Ditemukan Tinggal Rangka |
![]() |
---|
Sejoli Tega Gugurkan Paksa Janin 7 Bulan: Menabung Beli Obat Aborsi hingga Kubur Bayi |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.