Rahasia Rahmat Widayat Kembangkan Mic Coffee, Kopi Bengkulu Dipasarkan di Jambi
Rahmat Widayat mendirikan merk Mic Coffee Roastery dengan produk unggulan berupa kopi robusta dari Bengkulu. Bagaimana cara dia mengelola usahanya?
Penulis: Mareza Sutan AJ | Editor: Mareza Sutan AJ
TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Sekitar tiga tahun lalu, Rahmat Widayat yang menggemari kopi mulai merintis usahanya sendiri. Dia mendirikan merk Mic Coffee Roastery dengan produk unggulan berupa kopi robusta dari Bengkulu. Bagaimana cara dia memulai dan mengelola usaha tersebut, dan apa rahasianya?
Tahun 2021, pria itu berpikir untuk memulai usaha kopi di Jambi. Saat itu kopi sedang ramai-ramainya, menjadi gaya hidup. Meski tempat ngopi menjamur di banyak tempat, bagi Rahmat Widayat, kopi kemasan tetap punya pasar tersendiri.
Itulah yang akhirnya mendorong dayat untuk merintis usaha kopi di Jambi. "Jadi punya ide jualan kopi Bengkulu di Jambi," kata dia memulai obrolan, tempo hari.
Jenis kopi yang diolahnya adalah robusta. Kopi rakyat, katanya. Menurut Dayat, dengan harga yang relatif murah, robusta punya ciri khas tersendiri di hati penikmatnya.
Lebih spesifik, dia menceritakan kopi itu dipasok dari daerah Curup, Lebong, dan Kepahiyang. "Rasanya lebih ekslusif, lebih halus," imbuhnya, memberi penilaian terhadap rasa kopi tersebut.
Karena itulah, dia ingin membawa cita rasa ekslusif itu ke Jambi, saat itu. Dia pun mulai membuat kemasan yang menarik, dengan berat kopi yang berbeda. Ada yang 24,5 gram, 45 gram, dan 95 gram.
Rahmat Widayat memasarkan kopinya ke warung-warung dan beberapa retail dan supermarket. Selain itu, dia juga terbuka untuk penjualan dengan sistem pemesanan daring atau online melalui media sosial.
Membuat konsumen percaya akan rasa kopinya merupakan tantangan yang sulit dia taklukkan dalam tiga tahun terakhir. Hal itu karena, umumnya konsumen sudah punya pakem tersendiri terhadap kopi favorit mereka, entah itu kopi kemasan atau kopi lokal.
"Kebanyakan sudah terbiasa (dengan rasa kopi yang sering diminum)," ulasnya.
Untuk itu, dalam promosinya, dia memberi kesempatan pada sebagian calon konsumen menyeduh langsung kopi yang mereka sajikan. "Kalau dia nggak nyicip langsung, pasti dia nggak mau," ujarnya.
Karena sistem penjualannya saat itu menitipkan melalui distributor seperti warung dan retail, maka ada modal tertahan yang belum bisa dia putar. Oleh karena itulah dia memutuskan untuk mengambil pinjaman melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI.
Kata Dayat, prosesnya terbilang cepat. Pihak BRI hanya perlu melakukan pengecekan rumah dan tempat usaha. "Mereka interview juga, tanya penghasilan berapa, enggak sulit," jelasnya.
Dana itulah yang kemudian dia manfaatkan untuk membekap keuangan ketika produk yang dia pasarkan belum dibayar. Saat ini, produk kopinya telah tersebar di banyak warung dan retail di Jambi.
Apa Itu KUR BRI?
Sebagai informasi, KUR merupakan kredit modal kerja dan atau investasi dengan batas atas kredit hingga Rp500 juta. Melansir dari bri.co.id, kredit ini bisa diberikan pada usaha mikro, usaha kecil, dan koperasi dengan nisnis produktif yang akan mendapat jaminan dari perusahaan penjamin.
| Udin Abdillah Wariskan Tenun Tanjung ke Anak Muda, BRI Bantu Pembinaan dan Promosi |
|
|---|
| Dari Pasar Lokal hingga Luar Negeri, Pempek Cek Lala Berkembang dengan Pertahankan Cita Rasa |
|
|---|
| Pilu dalam Doa Anak Ilham Pradipta: Ya Allah, Boleh Nggak Sebentar Aja Ayah ke Sini |
|
|---|
| Tabel Angsuran KUR BRI Limit Pinjaman hingga Rp500 Juta dengan Tenor 1--5 Tahun |
|
|---|
| Tabel Angsuran KUR BRI 2026 Limit hingga Rp500 Juta serta Syarat Pengajuan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/Kolase-Mic-Coffee-31032024.jpg)