Update Pencarian 6 Korban Banjir dan Longsor di Pesisir Selatan Sumbar Warga Buka dan Sahur di Tenda

6 korban banjir dan longsor di Kabupaten Pesisir Selatan, belum ditemukan. Meski Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Padang, Sumatera Barat (Sumbar

Editor: Suci Rahayu PK
BPBD Pesisir Selatan
Puluhan kendaraan tertimbun longsor di Pesisir Selatan, sejak Jumat (8/3/2024) 

Kerabatnya mengelap perabotan rumah, mengepel lantai, dan menyemprot halaman rumah yang masih penuh dengan lumpur. Di halaman rumahnya pula, berbagai macam perabotan lainnya berserakan hendak dibersihkan.

Baca juga: Prediksi Skor Al Ittihad vs Al-Hilal, Cek Head to Head dan Statistik Tim, Kick off 02.00 WIB

Baca juga: Jelang Pendaftaran CPNS dan PPPK 2024 - Dibuka April, Berikut Cara Cek Formasi

Pemandangan lain juga terlihat di rumah-rumah lainnya di sepanjang Jalan Nagari Taratak Timpatih, Kecamatan Batang Kapas.

"Ini sudah tiga hari sejak Kamis kami bersihkan, belum juga selesai, masih sebanyak ini. Ini harus selesai sekarang, kalau tidak besok puasa kerja lagi, 'yo panek' (melelahkan)," keluh Irap dalam bahasa Minang.

Banjir menerjang 14 kecamatan di Pesisir Selatan pada Kamis hingga Jumat (7-8/3/2024) gara-gara sungai-sungai besar yang berdekatan dengan pemukiman warga meluap sejadi-jadinya.

Tanah-tanah bukit yang ambruk menimpa rumah-rumah yang ada di bawahnya.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pesisir Selatan mencatat lebih dari 28 ribu kepala keluarga (KK) yang terdiri dari 74 ribu lebih jiwa, terdampak.

Sebanyak 1.554 rumah rusak dan tak sedikit rumah yang hilang digendong air bah. Setidaknya 24,668 ribu rumah terdampak, terendam air hingga dua meter dan menyisakan lumpur yang tebal kala surut.

Hal serupa juga terjadi di 34 masjid, musala, dan surau. Kemudian tidak kurang dari 16 jembatan dan 355 titik ruas jalan rusak dan sulit dilalui.

Batang Kapas merupakan satu di antara beberapa kecamatan di Pesisir Selatan yang terdampak parah. Kecamatan lainnya ada Sutera, persisnya di Nagari Rawang Mudiak Utara Surantiah.

"Apa boleh buat, lumpur masih banyak tentu harus dibersihkan," kata Romi (32) warga Kampung Batu Bala, Nagari Rawang Mudiak Surantih dalam bahasa Minang kepada TribunPadang.com, Senin (11/3/2024) pagi.

Lumpur yang dibawa air dari hulu mengendap di pemukiman Batu Bala, termasuk di dalam rumah, dengan ketinggian lebih dari semata kaki orang dewasa (sekitar 15 hingga 20 centimeter).

Selain membersihkan rumah, warga di sini juga masih gotong royong membersihkan pemukiman yang didiami 221 kepala keluarga itu.

Pasalnya, tak hanya lumpur, air bah juga membawa sampah alam dari hulu yang tak terbilang banyaknya. Batang kayu berukuran besar yang memenuhi kampung perlu dipotong-potong agar mudah dipindahkan.

"Kalau sahur kita memasak bersama di tenda tempat mengungsi. Yang kita masak bahan-bahan seadanya. Bantuan-bantuan yang datang. Kalau buka lihat nanti lah," kata Romi.

Beda lagi di Kecamatan IV Jurai. Warga memenuhi anak-anak sungai yang sedikit bersih untuk mencuci semua pakaian yang kotor. Kaum ibu-ibu mencuci dan bapak-bapak mengangkut ke rumah.

Halaman
123
Sumber: Tribun Padang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved