Banjir di Jambi
Perambahan dan Galian C Diduga Penyebab Banjir di Kerinci dan Sungai Penuh Jambi
Galian C ini bukan hanya beroperasi di sekitar bukit di Kecamatan Gunung Kerinci, bahkan sudah beroperasi di aliran Sungai Batang Merao.
Penulis: Herupitra | Editor: Suci Rahayu PK
Perambahan hutan dan galian C disinyalir penyebab banjir di Kerinci, Jambi
TRIBUNJAMBI.COM - Pertambangan dengan cara pengerukan tanah atau biasa disebut dengan galian C semakin menjamur.
Galian C ini bukan hanya beroperasi di sekitar bukit di Kecamatan Gunung Kerinci, bahkan sudah beroperasi di aliran Sungai Batang Merao.
Informasi yang berhasil dihimpun di lapangan, saat ini hanya ada dua galian C di Kerinci yang memiliki izin.
Meski dua galian C ini sudah memiliki izin dari Pemerintah, namun untuk Amdal masih dipertanyakan.
Aktivitas pengerukan tanah atau galian C di Kerinci, Kabupaten Kerinci membuat air Sungai Batang Merao menjadi keruh.
Kondisi ini dikeluhkan warga yang tinggal di sepanjang aliran sungai tersebut.
"Karena keruh, warga enggan memanfaatkan air Sungai Batang Merao untuk keperluan sehari-hari," ujar Danur, warga Depati Tujuh, Kabupaten Kerinci.
Baca juga: Pemkab Kerinci Akan Laksanakan FGD Terkait Penyebab Bajir di Kerinci Jambi
Baca juga: Pemkab Tebo Terima DBH Sawit Rp14,1 Milar, Bakal Bangun Infrastruktur Perkebunan
"Dulu air Sungai Batang Merao sangat bersih dan jernih. Tapi sekarang airnya kuning, makanya tidak kita manfaatkan takut penyakit kulit dan lainnya," ucapnya.
Gusril warga lain juga sangat menyayangkan akibat dampak galian C membuat aliran Sungai Batang Merao menjadi keruh dan penyebab terjadinya pendangkalan sungai.
"Kejadian ini sudah berlangsung lama, namun tidak ada tindakan dari pihak yang berwenang," ujarnya.
Sama dengan galian C, perambahan hutan di Kabupaten Kerinci baik hutan produksi maupun Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) marak terjadi.
Berdasarkan hasil kajian Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Kerinci Unit I, sebanyak 30 persen masuk ketegori kritis. Itu dari total kawasan hutan yang dikelola KPHP seluas 34.250 hektare.
Bukan hanya itu saja, akan tetapi juga di wilayah Taman Nasional Kerinci Siblat (TNKS) yang hingga saat ini marak dilakukan perambahan.
Beberapa waktu lalu Kepala Saksi I Wilayah TNKS, mengakui bahwa pihaknya masih menemukan perabahan hutan TNKS.
"Ya, sampai saat ini kita masih menemukan perambahan hutan TNKS," katanya.
| Pemkab Kerinci Akan Laksanakan FGD Terkait Penyebab Bajir di Kerinci Jambi |
|
|---|
| Polisi Buru Pelaku Perampasan Senjata Aparat di Puncak Papua, TPNPB-OPM Siap Melawan |
|
|---|
| Pemkab Tebo Terima DBH Sawit Rp14,1 Milar, Bakal Bangun Infrastruktur Perkebunan |
|
|---|
| Pj Bupati Muaro Jambi Bachyuni Deliansyah Dampingi Gubernur Al Haris Safari Subuh di Sekernan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/03012024-banjir-kerinci212.jpg)