Budiman Sudjatmiko Kirim Surat ke Megawati Di Masa Genting, Potret Kedekatan dengan Megawati

Kedekatan Budiman Sudjatmiko dengan Megawati Soekarnoputri dan Taufik Kiemas terbangun sejak lama.Utamanya jelang runtuhnya rezim Orde Baru.

Penulis: Deddy Rachmawan | Editor: Deddy Rachmawan
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Politikus PDI Perjuangan, Budiman Sudjatmiko saat di gedung Tribun Network, Jakarta, Selasa (15/8/2023). Dia menjelaskan alasan pertemuannya dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan perkembangan politik jelang Pemilu 2024. 

TRIBUNJAMBI.COM – Sikap politik Budiman Sudjatmiko yang berseberangan dengan sikap partainya, PDI Perjuangan, memantik reaksi petinggi parpol tersebut.

PDIP mantap memilih kadernya, Ganjar Pranowo sebagai bakal calon presiden. Sedangkan Budiman Sudjatamiko justru mendukung bakal calon presiden dari Partai Gerindra, Prabowo Subianto.

Terlepas dari perbedaan sikap politik itu, Budiman Sudjatmiko memiliki kedekatan emosional dengan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.

Termasuk dengan suami Megawati, almarhum Taufik Kiemas.

Kedekatan Budiman Sudjatmiko dengan Megawati Soekarnoputri dan Taufik Kiemas terbangun sejak lama. Utamanya jelang runtuhnya rezim Orde Baru.

Budiman yang mendirikan Partai Rakyat Demokratik atau PRD dituduh menjadi dalang kerusuhan penyerbuan kantor DPP PDI pada Juli 1996. Peristiwa yang kemudian dikenal dengan kasus Kudatuli atau Kasus 27 Juli.

Setelah itulah ia bersembunyi dari kejaran aparat. Pasca krusuhan ia sempat bertemu dengan Taufik Kemas.

Dalam bukunya Anak-Anak Revolusi Budiman Sudjatmiko mengatakan, saat bertemu suami Megawati Soekarnoputri tersebut, ia ditanya oleh Taufik Kiemas.

Taufik bertanya soal kacamata Budiman yang tak ada. Biasanya Budiman memakai kacamata. Lalu Taufik Kiemas memberikan Budiman uang untuk membeli kacamata yang baru.

Baca juga: Status Keanggotaan Budiman Sudjatmiko di PDI Perjuangan Akhirnya Diputuskan

Di buku itu, pria yang lahir pada 10 Maret 1970, juga bercerita ia menulis surat untuk Megawati Soekarnoputri. Surat itu ia tulis dalam pelariannya dari kejaran aparat. Surat itu disampaikan melalui Saut Sirait untuk diteruskan ke Sabam Sirait lalu ke Megawati.

Ini isi surat Budiman tersebut:

Bu Mega, saat ini kami sedang diburu. Tetapi Ibu tidak perlu khawatir. Kami siap menjalani ini semua. Gelombang aksi kemarin sudah tidak bisa ditarik mundur lagi.

Perlawanan kita harus terus dilanjutkan. Sekarang adalah waktunya bagi Ibu untuk mengambil alih bersama Gus Dur.

Sebagaimana Corazon Aquino dan Kardinal Jaime Sin yang bangkit memimpin rakyat Filipina melawan rezim Marcos. Sebagaimana juga Aung San Suu Kyi dan bikhu bikhu Budha memimpin rakyat Birma melawan kediktatoran Jenderal Ne Win. Kobarkanlah api perjuangan itu.

Salam Perjuangan

Halaman
12
Sumber: Tribun Jambi
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved