Pesawat Aztec Kecelakaan di Jambi Saat Karhutla, Pilot Kisahkan Pengalamannya
Di tengah penerbangan itu, pilot Gunardjo mendengar suara yang lain dari mesin, baling-baling pesawat tersebut berputar mel
Penulis: Deddy Rachmawan | Editor: Deddy Rachmawan
TRIBUNJAMBI.COM - Sejumlah kecelakaan pesawat terbang pernah terjadi di Jambi. Salah satunya adalah kecelakaan yang terjadi pada 12 September 1972.
Kecelakaan pesawat terbang ini dikisahkan langsung oleh sang pilot, Kapten Gunardjo dalam bukunya, Langit Tiada Batas, Kisah Nyata Pengalaman Terbang.
Kapten Gunardjo menerbangkan Pesawat Aztec atau piper dari Bandara Kemayoran di Jakarta menuju Rengat di Riau.
Surat kabar Sinar Harapan terbitan 16 September 1972 mewartakan peristiwa ini dengan judul berita Pesawat Piper Kecelakaan di Jambi. Lalu di bawahnya diberi subjudul Milik Perusahaan Perancis.
Pesawat terbang jenis Piper ini memiliki nomor register PA 23 pktpr itu mendarat darurat pada 12 September 1972 pukul 10.25. Pesawat kecil itu keluar landasan hingga 150 meter dari landasan pacu.
Saat itu, di Sumatera termasuk di Jambi sedang terjadi kebakaran hutan dan lahan atau karhutla. Kapten Gunardjo mengisahkan, sejak pesawat melintasi pantai Sumatera pemandangan mulai kabur, bukan karena awan.
"Tetapi oleh asap-asap karena banyak pembakaran hutan. Berbeda deng awan-awan, asap ini tidak ada batasnya di bawah sana akan merapat ke tanah. Apalagi saat masih pagi, kabut pagi masih ada, menambah suramnya suasana," tulis Kapten Gunardjo dalam bukunya.
Baca juga: Tinjau Lokasi Karhutla, Pj Bupati Muaro Jambi Bersama Danrem Patroli ke Lokasi
Di tengah penerbangan itu, pilot Gunardjo mendengar suara yang lain dari mesin. Dari bunyi aneh itu, ia menarik kesimpulan bahwa baling-baling pesawat tersebut berputar melebihi batas atau overspeeding.
Ketegangan pun mulai terjadi. Pesawat menukik dengan cepat. "
Kira-kira tujuh ratus kaki semenit, mesin rusak ini menambah halangan untuk maju karena baling-balingnya berputar tanpa memberikan dorongan apa-apa tetapi berputar sendiri karena angin - wind milling," tulis Kapten Gunardjo .
Baca juga: Pemuda Korban Gempa Turki dan Suriah Diselamatkan Setelah 96 Jam Tertimbun Puing-Puing Bangunan
Di tengah situasi genting itu, Gunardjo ingat bahwa ia belum lama saya melewati reporting point di dekat Jambi. Ia pun memutuskan untuk mendarat darurat di Palmerah. Ketika itu Bandara Sultan Thaha masih bernama Lapangan Terbang Paalmerah.
"Keadaan itu saya radiokan ke lapangan Palmerah saya katakan bahwa saya mengalami kesulitan mesin dan berniat mendarat di situ."
"Saya ketahui kemudian posisi pesawat kira- kira di atas Muara Tembesi yang terletak di hulu Sungai Batanghari. Sungai besar itu hanya remang-remang saja ditutup oleh asap kabut pagi. Sementara itu saya sibuk sekali mengurusi pesawat saya yang mau turun terus, saya berteriak kuat-kuat kepada semua penumpang agar mengikat tali pengaman erat-erat, melepas kaca mata mereka dan duduk tenang-tenang. Sambil mengurusi pesawat itu mata saya liar mengawasi landasan terbang, di mana letaknya yang tepat. Dengan terkejut sekali saya lihat landasan sudah ada di bawah saya, karena asap tadi saya tidak berhasil melihat landasan lebih cepat sehingga rencana saya untuk mendarat seketika menjadi kalang kabut," cerita Gunardjo dalam bukunya.
Detik-detik menjelang pesawat tiba di darat, Gunardjo melihat sayap pesawat hampir terkena pohon. Pesawat lalu kembali naik dan ia belokkan. Ia melihat kawasan yang pohon-pohonnya berwarna hitam terbakar.
"Di situ pesawat saya jatuh dengan suara keras dan lari meluncur di antara pohon-pohon kecil, kemudian berhenti karena tertahan dua batang pohon," ujar Gunardjo menceritakan peristiwa horor itu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/Pesawat-Piper-PA-28-180.jpg)