Ketika Kabar Kemerdekaan Indonesia Tiba di Jambi 78 Tahun Lalu, Momen Pemuda Kibarkan Merah Putih

Proklamasi diketahui oleh rakyat di daerah Jambi tanggal 18 Agustus 1945, melalui telepon dari AK Gani di Palembang.

Penulis: Deddy Rachmawan | Editor: Deddy Rachmawan
Tribun Jambi
Menara Air peninggalan zaman Belanda di Kota Jambi. Tak terawat. (Tribun Jambi/Teguh Suprayitno) 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Mukty Nasruddin, seorang pejuang Jambi mencatat momen saat kabar kemerdekaan Indonesia tiba di Jambi. Ia, menuliskan Jambi di masa itu dalam bukunya Jambi dalan Sejarah Nusantara.

Saat Bung Karno dan Bung Hatta membacakan Proklamasi 17 Agustus 1945, peristiwa itu tak langsung diketahui warga di Jambi.

Mukty Nasruddin mencertitakan tentang ketakutan rakyat Jambi saat akan menyampaikan berita bahwa Soekarno-Hatta membacakan Proklamasi 17 Agustus 1945.

Zainul Bahri seorang Wedana di Tembesi ketika itu, bahkan ragu untuk menaikkan bendera merah putih setelah menerima kabar Proklamasi dibacakan.

Menurut Mukty kabar kemerdekaan itu baru sampai ke Tembesi delapan hari setelahnya. Informasi itu mulanya didapat Ibrahim, seorang pegawai Kantor Pos Tembesi.

Ia kemudian menggelar pertemuan di rumahnya dengan beberapa orang terkemuka dan sepakat mengutus Zainuddin Abbas dan A Muhib menemui Wedana Zainul Bahri unyuk mengibarkan merah putih di kantor pemerintah.

Baca juga: Wali Kota Jambi Instruksikan Warga Pasang Bendera Merah Putih di Setiap Rumah

Sementara dalam buku Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Jambi yang diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1978 Proklamasi diketahui oleh rakyat di daerah Jambi tanggal 18 Agustus 1945, melalui telepon dari AK Gani di Palembang.

“Pada mulanya Zainul Bahri memang agak ragu-ragu oleh karena tidak atau belum ada perintah dari penguasa Jepang yang resikonya paling ringan terkena tampar dan itu bagi seorang yang sudah termasuk umur matahari condong ke barat (tua,red) adalah sangat berat.”  Begitu Mukty Nasruddin menulis.

Baca juga: Penyusunan Teks Proklamasi Disusun Jelang Sahur pada 9 Ramadan 1364 Hijriah

Di Tungkal adalah M Kurchi, Kepala Kantor Kawat yang membaca sinyal morse bahwa proklamasi kemerdekaan sudah dilakukan.

Bermula dari informasi itulah, Kurchi menyampaikannya kepada Mahyudin Diah, Kepala Kantor Pabean di Kuala Tungkal.

Di Kota Jambi, kabar itu diterima jauh lebih cepat, yakni pada 20 Agustus 1945. Seorang staf di Kantor Penerangan Jepang Jambi mengatahuinya namun Jepang menutup rapat-rapat informasinya.

Barulah, akhirnya pada hari Rabu 22 Agustus  Kepala Pemerintahan Militer Jepang Cokang Kakka (Gubernur Militer) Jambi Syiu (Keresidenan) mengundang pejabat dan intelektual Jambi bahwa perang Asia Raya selesai dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaan 17 Agustus.

Baca juga: Begini Kesiapan Paskibra Kabupaten Tebo Jelang Peringatan Hari Kemerdekaan

Ketika itu pula Belanda melalui pesawat menyebar pamflet yang menerangkan Jepang sudah bertekuk lutut.

Nah, menara air PDAM yang kini berada di seberang Museum Perjuangan Rakyat Jambi, di sanalah pertama kali bendera merah putih dikibarkan.

“Di hari itu, sekelompok pemuda pimpinan R Husin Akip mengibarkan bendera merah putih di puncak menara air (watertoren),” ungkap Mukty.

 

 

Begitulah, kabar kemerdekaan diterima dan disebarkan ke rakyat. Tiap daerah di Jambi punya cara berbeda mendapatkannya.

 

Sumber: Tribun Jambi
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved