WAWANCARA EKSKLUSIF
Detik-detik Adian Napitupulu Ngomong Langsung ke Jokowi Soal Capres Ganjar Pranowo
Bang Adian selama ini juga berkomunikasi aktif dengan Pak Jokowi. Abang melihat positioning Pak Jokowi itu gimana sih, terkait Pilpres 2024...
Waktu kita kongres terakhir, kita bersepakat dalam kongres untuk menyerahkan itu 100 persen kepada ketua umum. Jadi walaupun saya punya pandangan pribadi, saya punya harapan, saya punya keinginan, saya harus tunduk kepada komitmen kita buat beberapa tahun yang lalu dalam kongres dan saya tidak boleh mengikatinya.
Bu Mega tentu tidak menutup diri dari masukan? Jadi apapun itu, kalaupun menjadi wacana boleh saja kan?
Tidak. Ada mekanisme memberikan masukan kepada ketua umum melalui struktur partai DPP dan sebagainya, tetapi tidak melalui publikasi media.
Jadi memang ada standar dan SOP-nya, ya?
Ya, dong, kita kan membuat sebuah partai ada strukturnya di dalamnya bagaimana mungkin kita tidak mempercayai mereka.
Kita sepakati strukturnya begitu kita hormati. Bagaimana menghormatinya ya mengikuti mekanisme struktural itu.
Kalau kemudian mau semua orang bicara suka suka tentang keinginan dia, yang kasihan rakyat nanti bingung sendiri.
Belum apa apa sudah sebut nama sebut nama tidak boleh.
Bang Adian percaya tidak, bahwa endorsment atau sikap politik dan posisi Pak Jokowi akan sangat menentukan siapa yang bakal menjadi pemenangan pada Pilpres 2024 mendatang?
Punya pengaruh, iya, tetapi yang menentukan pada akhirnya adalah kedaulatan rakyat.
Suara rakyat.
Dia punya pengaruh, pasti dong.
Dia presiden saat ini.
Jadi faktor apa yang memperngaruhi Pak Jokowi punya influence terkait itu?
Tingkat kepuasan rakyat sangat tinggi, kepercayaan rakyat sangat tinggi, itu belum pernah dialami semenjak kita melakukan pemilihan presiden secara langsung, ini luar biasa menurut saya dan dampak yang adalah orang sangat percaya pada Jokowi.
Ada orang menyebut bahwa, Pak Jokowi tidak ikut cawe-cawe dalam Pilpres 2024. Menurut abang gimana?
Cawe-cawe itu kan maknanya luas ya.
Misalnya begini, ketika kemudian ada orang membawa nama dia kemana-mana nama Jokowi fotonya dipasang di mana mana, segala macam dengan membangun persepsi seolah olah mendukung seseorang, ya presiden harus cawe-cawe dong dengan menegaskan itu bukan keinginan saya.
Presiden kan tidak pernah melarang fotonya dipasang siapa pun, tetapi kemudian kita melihat ada dalam kontestasi saat ini bagaimana kemudian presiden seolah-olah diganggu, kerjaan-kerjaan bersama dengan membawa bawa dia seolah-olah kamu berpasangan dengan ini ya, kamu berpasangan dengan ini ya, kamu gabung disini ya, segala macem, seolah-olah semuanya atas perintah presiden.
Menurut saya itu tidak bagus buat presiden.
Biarkan saja dia punya tugas besar, tugas tugas yang harus di ahiri dengan sangat bagus.
Jangan disibukkan dengan hal-hal remeh temeh begitu.
Perintah presiden gabung ke sana minta presiden kamu ke sini.
Itu sebenarnya hanya klaim ya Bang?
Klaim, persepsi, ya ngaku ngaku.
Tapi sepanjang abang tahu, presiden tidak punya niatan atau gerakan seperti itu ya?
Enggak.
Saya tanya, saya tanya ke Pak Presiden.
‘Bapak kemana nanti Pak?’
Setelah begini-begini, oke.
Setelah Bapak begitu-begitu, bapak kemana?
Ganjar Pranowo.
Dia bisa berdalih dengan banyak argumentasi lain, kita menunggu survei, kita menunggu koalisi, tidak.
Dia menyebut Ganjar Pranowo, clear di telinga saya.
Tapi dia tidak menyodorkan pilihan cawapres?
Menyampaikan, yang terbaik adalah si ini dan si ini, beliau sampaikan.
Tapi tidak bisa saya sampaikan ke publik.
Tahu bahwa beliau memberikan saran begitu?
Betul.
Dan menurut abang, pemberian saran ini termasuk cawe-cawe enggak?
Nggak dong, saya ini kader partai, dia kader partai.
Dia menjadi problem kalau dia menyampaikan terbuka.
Sebagai Presiden RI saya mendukung si ini, si itu.
Tidak doang.
Karena dia adalah presiden bagi seluruh rakyat Indonesia.
Presiden bagi seluruh rakyat yang bergabung di partai manapun, tapi dia sama saya sebagai sesama kader partai, bisa dong kita berbicara dari hati ke hati.
Kalau selama ini, Pak Jokowi memberikan rekomendasi, apa itu juga kemudian Bu Mega akan memperhatikan masukan-masukan yang seperti itu?
Begini, Ibu Ketum kami ini orang yang sangat bijaksana.
Dia tidak lahir tiba-tiba dalam posisi sekarang, melewati proses yang luar biasa, kerasanya, dan saya percaya tidak pernah dilewati oleh ketum parpol lain di mana pun di Indonesia ini.
Dari proses perjalanan itu saya percaya dia itu pengambil keputusan betul-betul lewat kontemplasi yang mendalam pemikiran yang mendalam dan sebagainya.
Lalu kalau pertanyaannya apakah dia mau mendengarkan Presiden Jokowi saat memberikan masukan, jangankan presiden, pembicara pembicara diskusi itu saja dia dengarkan.
Dia juga sering nonton YouTube, dia baca, dia lihat yang lain dan itu menjadi masukan dibuat dia.
Apalagi yang disampaikan oleh seorang presiden, pasti dia dengarkan.
Kalau boleh saya tahu, selama ini menurut pengetahuan abang, apakah hubungan komunikasi Bu Mega dan Pak Jokowi itu oke-oke saja atau bagaimana?
Sangat oke-oke saja. Sangat baik-baik saja.
Tidak tuh yang diembuskan di luar, inikan embusan-embusan tidak bertanggung jawab untuk memecah belah kami.
Tapi kami sampaikan upaya upaya itu akan gagal. Upaya untuk memisahkan antara PDIP dengan Jokowi, antara ketua umum dengan Jokowi, antara Jokowi dengan kami, segala macam itu pasti akan gagal.
Upaya yang sama sudah dilakukan berkali-kali kepada PDIP, dari puluhan tahun yang lalu.
Dan sejarah mengatakan upaya itu akan gagal. Berkali-kali coba dan berkali-kali gagal.
Kalau ada orang tidak percaya dan mencobanya silakan kalau mau menimati kegagalan lagi.
Selama proses komunikasi Pak Jokowi dengan Bu Mega, tentu akan ada dinamikanya. Tentu dong antar dua orang pasti ada dinamikanya. Apakah dinamika-dinamika itu sampai pada dinamika yang sangat prinsipil, artinya ada perbedaan pendapat?
Jadi begini, dinamika antar anak SD dengan SD, dinamika antar anak SMP dengan SMP, dinamika mahasiswa dengan mahasiswa, dan dinamika para pemimpin negara dengan pemimpin negara, tentunya tidak sama lah.
Bagaimana mereka berkomunikasi, menggunakan pilihan diksi, kata, kalimat, pasti jauh lebih dewasa dan bijaksana.
Itu pasti lah, jangan dibayangkan dinamika seperti dinamika anak SMP atau lulus SMA, dikuasai emosi, tidak.
Ini dinamika antar pemimpin negara, dinamika mantan presiden dan presiden, dinamika antar ketum parpol dan kadernya, yang sekarang menjadi presiden dan tentunya dinamika dewasa bijaksana dan semuanya penuh orientasi kebangasaan.
Ada banyak pengamat yang mengatakan bahwa PDIP menjaga betul Pak Ganjar ini supaya betul-betul menjadi petugas partai yang tegak lurus, tidak seperti misalnya lebih bebas ketika era Pak Jokowi dulu?
Ganjar Pranowo itu pernah menjadi anggota DPR, artinya dia berkomunikasi dengan banyak orang.
Lalu menjadi gubernur, dia berkomunikasi dengan banyak sangat orang sebagai politikus dan kader PDI perjuangan.
Dia tahu mana yang boleh, mana tidak memadai, sesuai kebijakan dan langkah partai dia tahu dan tidak ada larangan hingga saat ini.
Yang melarang siapa banyak orang yang bilang 'Wah Pak Ganjar dikekang', buktinya mana.
Kasih buktinya dong.
Apa ada borgolnya, rantainya, ada talinya segala macem, buktikan lah.
Kalau kita menghabiskan usia kita memperdebatkan desas-desus, rumor yang tidak bisa dipertanggung jawabkan karena tidak ada bukti, ngapain.
Buktinya sederhana, ada tidak pengawalan yang luar biasa untuk Ganjar selama ini.
Didampingi ke mana-mana tidak ada.
Ketika dia turun ke rakyat, siapapun bisa bersalaman dengan dia, bercakap- cakap menyapa, bercakap-kacap dengan dia, sampai hari ini misalnya dia di Jateng bergantian orang datang dari segalam macem latar belakang.
Saya bisa kumpulkan banyak banget foto deh, nah ini kan ada cerita yang sengaja di bangun seolah-olah dia itu dilarang, dari mana.
Petugas partai tidak cuma Ganjar, saya petugas partai, ketum juga petugas partai, Jokowi petugas partai.
Pertanyaannya kita ada tidak petugas partai dari PDIP yang mendapatkan kepercayaan publik mencapai 82 persen, ada, siapa namanya, Jokowi.
Ada tidak yang mendapat kepuasan sampai 80 persen, ada.
Namanya siapa, Jokowi.
Artinya sebagai petugas partai, Jokowi disukai rakyat. Jokowi, rakyat puas pada kerja-kerjanya.
Artinya apa, kepercayaan rakyat itu bukan pada istilah terminologi petugas partai, tetapi pada kerjanya, programnya, pada apa yang dilakukan.
Ada yang mengklaim, petugas rakyat. Loh, rakyat belum menugaskan dia kok sudhah memklaim sudah menjadi petugas rakyat.
Yang menugaskan dia sebagai capres, itu rakyat atau partai.
Partai, ya petugas partai dong.
Dia bukan petugas rakyat.
Bagaimana mekanisme untuk mengambil keputusan bahwa rakyat mengambil dia sebagai capres, tidak ada.
Itu kan tidak logis.
Biasa saja, masalahnya di mana.
Nanti kita akan urai dalam visi misi, di visi misi itu nanti akan diuji pemikiran, diuji ide, diuji orientasi, diuji tunjuannya, dulu visi misi yang diperjuangkan Presiden Jokowi beda jauh dna bertolak belakang dengan apa yang disampaikan Pak Prabowo di 2014 maupun 2019.
Sekarang terbukti, bahwa yang benar adalah visi misi yang dibawa oleh Jokowi.
Dan visi misi yang dibawa oleh Jokowi ini dirumuskan oleh salah satunya PDIP.
Dan visi misi yang dirumuskan PDIP itu kemudian disetujui oleh Prabowo dengan bersedia menjadi menterinya presiden.
Lah nanti kita lihat, jangan diperdebatkan istilahnya, perdebatkan isinya, substansinya, programnya, ide-idenya, pemikirannya di debat visi misi. (tribun network/yuda)
Baca juga: Adian Napitupulu: Kenapa Lu Begitu Bud?
Baca juga: Adian Napitupulu Buka-bukaan, Apa yang Mau Dikhawatirkan Soal Projo Dukung Prabowo
Saksi Kata: Sesepuh Kenali Asam Atas Kota Jambi Siap Mati, Heran Zona Merah Pertamina |
![]() |
---|
SAKSI KATA Pasien Somasi RSUD Kota Jambi, Pengacara: Anak 4 Tahun Meninggal |
![]() |
---|
Juliana Wanita SAD Jambi Pertama yang Kuliah, Menyalakan Harapan dari Dalam Rimba |
![]() |
---|
SAKSI KATA: Pengakuan Rosdewi Ojol Jambi yang Akunnya Di-suspend karena Ribut vs Pelanggan |
![]() |
---|
SAKSI KATA: Pengakuan Ayah Ragil Soal 2 Polisi yang Bunuh Anaknya di Polsek Kumpeh Muaro Jambi |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.