Pilpres 2024

Fenomena Bongkar Kasus Diprediksi Terjadi Jelang Pilpres 2024, Anis Matta: Mirip Pemilu 2014

Jelang pelaksanaan Pilpres 2024 diprediksi akan terjadi fenomena bongkar kasus seperi yang terjadi pada Pemilu 2014 silam.

Editor: Darwin Sijabat
Ist/Kolase Tribun Jambi
Jelang pelaksanaan Pilpres 2024 diprediksi akan terjadi fenomena bongkar kasus seperi yang terjadi pada Pemilu 2014 silam. 

TRIBUNJAMBI.COM - Jelang pelaksanaan Pilpres 2024 diprediksi akan terjadi fenomena bongkar kasus seperi yang terjadi pada Pemilu 2014 silam.

Prediksi itu datang dari Ketua Umum Partai Gelora, Anis Matta.

Dia menyebutkan behwa penomena saling bongkar kasus atau dirty job itu akan mendominasi pemberitaan politik.

Bahkan hal itu diprediksi akan terjadi selama enam bulan kedepan hingga 14 Februari 2024.

Dia menyebutkan bahwa indikator saling bongkar kasus tersebut sangat kuat.

"Nanti akan kita lihat dalam sisa waktu 6 bulan ke depan sampai Pilpres, akan ada fenomena bongkas kasus yang terjadi terus menerus. Ini akan mendominasi semua berita politik, itu indikatornya sangat kuat," kata Anis Matta dalam keterangannya, Selasa (18/7/2023).

Menurut Anis Matta, fenomena bongkar kasus jelang Pilpres 2024, karena bakal calon presiden (bacapres) yang akan mengikuti kontestasi mengalami krisis ideologi, krisis narasi dan krisis kepemimpinan.

"Jadi kira-kira saya punya empat perspektif untuk membaca, mengapa ada fenomena saling bongkar kasus sekarang jelang Pilpres. Pertama itu, ada efek dosa, kedua ada konflik elite, ketiga sedang krisis narasi dan keempat teori Tumit Achilles," ucapnya.

Baca juga: Gibran Ditunjuk jadi Juru Kampanye Ganjar Pranowo di Pilpres, Ngaku Siap dan Menunggu Arahan

Baca juga: Bertemu di Pangandaran, Susi Pudjiastuti Minta Prabowo Subianto Lakukan Ini Demi Nelayan

Baca juga: Penjelasan TNI dan Respon Ganjar Pranowo Usai Baliho Berisi Fotonya Dicabut di Markas Muara Teweh

Perspektif efek dosa, kata Anis Matta, sebenarnya tidak terkait dengan proses politik atau Pilpres 2024. Sebab, Islam mengajarkan, bahwa seseorang yang melakukan dosa membuat cahaya dalam hatinya menjadi meredup, hatinya gelap dan mengeras, serta menjadi orang yang kasar, kesepian dan ketakutan.

"Sekarang coba bayangan kalau dosa itu dilakukan berjemaah. Ada satu titik dosa itu, tidak bisa ditutupi dan auratnya akan terbuka. Dan waktu Allah SWT ingin menghinakan seseorang, tidak ada yang bisa menghidarkan. Jadi kita lepaskan dulu dari proses politik, bahwa orang yang melakukan dosa pasti akan dihinakan, cepat atau lambat," ujarnya.

Anis Matta lantas mengibaratkan hal itu dengan jenazah yang ingin ditutupi dengan kain kafan, ternyata tidak cukup atau tidak bisa ditutupi dengan kain kafan tersebut, karena telah dihinakan Allah SWT, akibat efek perbuatan dosa yang telah dilakukannya.

"Dalam konteks politik, itu maksudnya satu dosa yang ditutupi dengan perlindungan politik atau hukum itu, ada limit waktunya atau limit dosanya terakumulasi, pasti akan terbuka," katanya.

Di dalam politik, lanjut Anis Matta, harusnya membawa kesadaran bahwa seseorang itu hendaknya takut kepada Allah SWT untuk melakukan perbuatan dosa, bukan takut dikejar aparat penegak hukum.

"Jadi kalau kita bicara soal efek dosa ini, dosa yang bukan diada-adakan, tapi dosanya sudah ada, tapi dikapitalisasikan secara politik. Kalau takut dikejar hukum, ya jangan melakukan dosa dan kita harus lebih banyak takut kepada Allah SWT," ucapnya.

Anis Matta menambahkan, ada satu ulama yang menyatakan, bahwa para pendosa yang melakukan perbuatan dosa, hatinya akan dibutakan.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved