LIPUTAN KHUSUS

Kisah Hendry Dilema, Penyadap Karet di Jambi Dihantam Harga yang Tak Bersahabat Tiga Tahun

Menurutnya, petani di desanya belum terlalu berminat untuk beralih menjadi petani kelapa sawit. Pilihan itu tidak dapat dilakukan karena modal

Penulis: tribunjambi | Editor: Duanto AS
TRIBUN JAMBI
Tribun Jambi Edisi Senin 19 Juni 2023 

TRIBUNJAMBI.COM, MUARABUNGO - Meski banyak petani/pekebun karet yang beralih ke kelapa sawit atau profesi lain lantaran harga jual tak menguntungkan, masih ada yang tetap bertahan.

Itu seperti yang dilakukan Hendry (42), petani karet di Desa Lubuk Benteng, Kecamatan Bathin III, Kabupaten Bungo.

Hendry tidak punya banyak pilihan untuk beralih mengganti tanaman karet ke tanaman lain, karena harus merogoh kocek.

Dia mengaku masih bertahan dengan pekerjaan sehari-hari sebagai penyadap karet, meski harga karet hanya di angka Rp8.000-9.000 per kilogram.

"Masih bertahan di karet karena ini pencarian utama mayoritas masyarakat desa, sejak nenek, kakek, hingga sampai ke kita," kata Hendry kepada Tribun Jambi, Minggu (18/6).

Menurutnya, petani di desanya belum terlalu berminat untuk beralih menjadi petani kelapa sawit.

Pilihan itu tidak dapat dilakukan karena modal untuk kelapa sawit sangat tinggi, tidak sebanding dengan pendapatan petani.

Selain itu kebun miliknya tak begitu luas, padahal kelapa sawit membutuhkan luas lebih dari dua hektare.

Hampir 90 persen masyarakat Desa Lubuk Benteng masih mempertahankan pohon karet.

Walaupun, ada sebagian yang sudah beralih menjadi petani kelapa sawit, menambang emas ilegal, karena himpitan beban ekonomi yang makin memperparah kondisi.

"Kalau kami di sini belum sanggup karena modal untuk nyumbang karet, bibit sawit pupuk dan lainnya butuh modal besar. Kebun kami pun hanya sedikit cuma 1 hektare. Hanya orang tertentu yang beralih ke sawit, yang cuma punya modal," ujarnya.

Pendapatan dalam satu kali timbang di tauke ditambah kondisi cuaca panas seperti saat ini, paling banyak 60-70 kilogram.

Kata Hendry, itu pun hasilnya tidak menentu, karena berpatokan pada berkembangnya daun pohon karet.

"Kadang dapat Rp600 ribu-Rp700 ribu rupiah satu kali timbang dalam satu minggu, di tauke belum masuk potongan. Belum lagi kita kadang minjam uang samo tauke, pas timbang karet harus bayar berapa lah lagi kita bawa balek duit," katanya.

Biasanya, petani setempat menjual hasil panen getah meraka kepada tauke di sekitar desa.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jambi
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved