Cerita Petani Karet di Bungo Terpaksa Bertahan Meski Harga Murah
Petani karet di Desa Lubuk Benteng, Kecamatan Bathin III, Kabupaten Bungo, terpaksa bertahan akibat tak punya modal.
Penulis: Rifani Halim | Editor: Teguh Suprayitno
TRIBUN JAMBI.COM,MUARABUNGO- Petani karet di Desa Lubuk Benteng, Kecamatan Bathin III, Kabupaten Bungo, Jambi tidak punya banyak pilihan untuk mengganti kebun karetnya dengan tanaman lain. Mereka tak punya modal akibat harga karet yang tak kunjung naik.
Hendry (42) petani karet di Desa Lubuk Benteng mengaku, masih bertahan sebagai penyadap karet meski harga karet sekarang hanya Rp 8.000 hingga 9.000 per kilogram.
"Masih bertahan di karet karena ini pencarian utama mayoritas masyarakat desa, sejak nenek, kakek hingga sampai ke kita," kata Hendry saat diwawancarai Tribun Jambi, Minggu (18/6/2023).
Menurutnya, petani di desanya belum terlalu berminat untuk beralih menjadi petani kelapa sawit karena butuh modal besar.
Hampir 90 persen masyarakat Desa Lubuk Benteng masih mempertahankan kebun karetnya walaupun sebagian sudah beralih menjadi petani kelapa sawit. Sebagian warga juga kerja sebagai penambang emas ilegal karena himpitan ekonomi.
"Kalau kami di sini belum sanggup karena modal untuk numbang karet, bibit sawit pupuk dan lainnya butuh modal besar. Kebun kami pun hanya sedikit cuma 1 hektare. Hanya orang tertentu yang beralih ke sawit, yang cuma punya modal," ujarnya.
Penghasilan dalam satu kali timbang di tauke ditambah cuaca panas seperti saat ini, kata Hendry paling banyak hanya dapat hasil 60-70 kilogram. Tapi hasil itu tidak menentu, karena berpatokan pada berkembangnya daun pohon karet.
"Kadang dapat Rp 600-700 ribu satu kali timbang dalam satu minggu, di tauke belum masuk potongan. Belum lagi kita kadang minjam uang samo tauke, pas timbang karet harus bayar berapa lah lagi kita bawa balek duit," katanya.
Biasanya, para petani setempat menjual hasil panen getah mereka kepada tauke di sekitar desa. Setelah itu, tauke menjual keberbagai pabrik seperti di Kabupaten Bungo ataupun ke Kota Jambi.
Dengan harga seperti saat ini, tentunya petani karet kekurangan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan biaya anak untuk bersekolah. Menurutnya, hasil itu cuma bisa memenuhi makan untuk sehari-hari, tidak bisa memenuhi kebutuhan lain.
"Kalau harga diatas Rp 12 ribu, paling minim Rp 10 ribu bisa mungkin kita buat untuk simpanan 200 ribuan satu kali timbang. Kalau sekarang langsung habis bae hasil itu," sebutnya.
Untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, petani biasanya tidak mengandalkan karet saja. Kata Hendry masyarakat desa setelah menyadap karet bertani tanaman lain, seperti padi sawah, kacang-kacangan, jagung dan macam-macam sayuran.
"Agar meringankan beban kita menanam padi juga agar kita tidak beli beras, sehabis motong ( menyadap) karet petani langsung ke sawah," cerita Hendry.
Selain itu, tidak hanya pencurian buah kelapa sawit yang sering terjadi di wilayah perkebunan masyarakat tetapi di desa Lubuk Benteng juga terdapat pencuri yang mengambil hasil penan petani karet yang membuat sedih para petani. Selain itu, banyak pula pohon karet yang mati.
"Ado juga yang nyuci kateg di pokok batang, kadang kita sudah sembunyikan masih ada aja yang hilang. Ada juga pohon karet yang mati kalau pohon sayo ada mungkin 50 sampai 100 batang yang mati," kisahnya.
Baca juga: Harga Anjlok, Petani Karet di Sarolangun Beralih Tanam Sawit
Baca juga: Ketua DPRD Jambi Dorong Pemerintah Cari Solusi Anjloknya Harga Karet
Baca juga: Harga Karet Jeblok, Petani Karet di Jambi Pilih Jadi Buruh Kebun Sawit
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/petani-karet-di-jambi.jpg)