Editorial

KDRT dan Keberanian Berbicara

Setelah kasus KDRT Lesti Kejora dan Rizki Billar teruar banyak yang terhenyak. Maklum, selama ini pasangan tersebut kerap memamerkan kemesraan.

Editor: Deddy Rachmawan
net
Ilustrasi KDRT 

Pembicaraan kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT kembali memenuhi ruang publik. Meskipun tak sedikit dari pembicaraan itu keluar dari substansi. Malah aneka meme Lesti Kejora sebagai korban KDRT, yang jauh dari rasa empati juga berseliweran di media sosial.

Begitulah, setelah kasus KDRT pasangan Lesti Kejora dan Rizki Billar teruar banyak yang terhenyak. Maklum saja, selama ini pasangan selebritas tersebut kerap memamerkan kemesraan.

KDRT sesungguhnya terkait dengan relasi kuasa. Selama pasangan suami istri paham dengan posisinya masing-masing tak seharusnya kekerasan tersebut terjadi.

Suami istri adalah pasangan yang saling melengkapi satu dengan yang lain.

Mengutip  data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi dalam buku Jambi dalam angka, kasus perceraian di Jambi terbilang tinggi.

Dari 24.993 pernikahan di tahun 2020, ada 3.883 kasus perceraian. Jumlah itu membengkak pada tahun 2021 yang membukukan 5.000 kasus perceraian dari 25.837 pernikahan.

BPS mencatat ada banyak sebab terjadinya perceraian. Antara lain karena tidak akur, perjudian, pasangan dipenjara hingga kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Memang KDRT bukan sebab utama disbanding sebab lain semisal selingkuh.

Pada 2020, perceraian di Provinsi Jambi akibat KDRT tercatat 37  dan 36 kasus di 2021.

Mereka yang menjadi korban KDRT sudah seharusnya tahu bagaimana menyuarakan apa yang dialami. Memang secara psikologis, ketakutan-ketakutan akan menghantuinya.

Utamanya mengenai bagaimana nasib anak, malu dan lain sebagainya.

Baca juga: Pengadilan Agama Tebo Catat Sepanjang Tahun 2022 Kasus KDRT Nihil, Angka Perceraian Cukup Tinggi

Jambi mengenal seloko bejenjang naik, betanggo turun. Maknanya kurang lebih segala sesuatu harus sesuai jalurnya.

Maka apapun masalah di rumah tangga, terlebih KDRT haruslah diselesaikan bersama di rumah terlebih dulu. Bila rumah tak bisa menyelesaikan, ada keluarga yang lebih luas. Apapun itu, KDRT tidaklah patut dilakukan. Bahkan dalam agama Islam saja suami tak bisa semena-mena.

Baca juga: Lesti Kejora Dikabarkan Pergi Umroh, Sempat Ngaku Trauma dengan Rizky Billar

Baca juga: Beranda Perempuan Terima 30 Laporan Kekerasan Terhadap Perempuan, 5 Kasus KDRT

Namun yang jelas berani berbicara adalah langkah pertama untuk menyelesaikan persoalan.  Komunikasi.

Komunikasi kedua belah pihak menjadi penting. Namun bila kekerasan terus saja terjadi, tentu membawanya ke ranah pidana atau melaporkan ke pihak berwajib menjadi langkah terakhir. (*)

Sumber: Tribun Jambi
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved