Kolom

Puan: Sang Maharatu

Puan berarti nyonya. Maharani, maharatu. Beruntunglah Maharatu cucu Sukarno dan putri Megawati.

Editor: Deddy Rachmawan
istimewa
Antony Zeidra Abidin 

Makro sosiologi dengan gamblang dapat menjelaskan fenomena struktural ini.  Artinya, Mega maupun Prabowo kimia kulturalnya tidak nyambung dengan rakyat.

Hal yang menjadikan SBY, anak kolong ygan bapaknya pensiun letnan dua jadi pemenang ketika 2 kali berhadapan dengan Mega.

Bahkan pasangan Mega- Prabowo pun tak berkutik pada Pemilu 2009 ketika berhadapan dengan anak kolong itu.

Baca juga: Reaksi Santai Prabowo Subianto Dipasangkan Dengan Jokowi di Pilpres 2024

SBY, proses sosialisasinya di lapisan terbesar rakyat Indonesia yang hidup masih pas-pasan. Dengan semangat prajuritnya Prabowo Subianto masih mencoba ikut 2 pemilu selanjutnya. Lawannya figur kurus, tukang mebel, rakyat biasa.

Secara sosiologis, Prabowo ga bakal bisa menang jika tidak banting setir. Memilih cawapres bukan hanya pertimbangan dukungan fulus.

Puan Maharani tunggangi kuda putih asal Portugal bersama Prabowo Subianto.
Puan Maharani tunggangi kuda putih asal Portugal bersama Prabowo Subianto. (KOMPAS TV)

Sang Maharatu, yang pernah belajar sosiologi di FISIP UI itu, dengan ilmunya mestinya bisa beradaptasi. Dan memilih wakil yang kimianya nyambung dengan rakyat.

Membalik budaya “langit” yang pernah membentuk sistem kepribadiannya.  Menjadi tokoh wanita yang menjiwai hati nurani rakyatnya.

Akan menjadi penyambung lidah rakyat Indonesia.

Presiden pertama wanita RI dipilih langsung rakyat.

Sayang, belum apa-apa sudah salting lagi. Lempar kaos ke masa sambil merengut. Tampaknya, tak mudah tugas Bu Mega.

Menjadikan Maharatu berjiwa kerakyatan. Menghayati kehidupan kaum marhaen. Wong cilik dalam arti sesungguhnya. (*)

Zurich, 29 Sept 2022.

*Antony Z Abidin, mantan Wakil Gubernur Jambi

Sumber: Tribun Jambi
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved