Di Balik Tenggelamnya Kapal Ophelia, Bukti dari Perjuangan Melalui Doa 

Di balik peristiwa tenggelamnya kapal Ophelia pada 24 November 1931, beredar kisah di kalangan masyarakat Sarolangun yang diceritakan turun-temurun.

Penulis: Abdullah Usman | Editor: Teguh Suprayitno
Tribunjambi/Abdullah Usman
Tugu Kapal Karam Ophelia di kawasan Ancol Sarolangun. 

 

TRIBUN JAMBI, SAROLANGUN - Di balik peristiwa tenggelamnya Kapal Ophelia pada 24 November 1931, beredar kisah di kalangan masyarakat bahwa peristiwa itu tidak lepas dari do'a warga yang diijabah dengan keberadaan kapal tersebut. 

Berdasarkan kisah sejarah dan keterangan pemerhati sejarah Sarolangun, bahwa keberadaan Kapal Ophelia di Sarolangun pada tahun 1931 tersebut bukan sekedar bersandar di pelabuhan. 

Melainkan di masa itu, Kapal Ophelia ini memiliki misi untuk penarikan pajak bumi di kawasan hilir Sarolangun. Karena pada masa itu akses darat masih belum sepenuhnya terbentuk, maka akses air menjadi alternatif untuk menjadi sarana penarikan pajak. 

Namun pada masa yang sama, kondisi perekonomian masyarakat kala itu dapat dikategorikan dalam kondisi sulit (paceklik). Sehingga secara tidak langsung, keberadaan Kapal Ophelia yang menjadi sarana penagihan pajak tersebut akan menjadi hantu bagi masyarakat. 

"Berdasarkan cerita yang beredar di masyarakat, sebagai bentuk meminta petunjuk kepada sang pencipta. Masyarakat hulu dan hilir kala itu, melakukan sholat dan doa bersama di tanjung atau pinggiran sungai. Dengan tujuan untuk mendapatkan petunjuk dan solusi atas kondisi kala itu, " ujar Herman satu dari pemerhati sejarah sarolangun sekaligus ketua organisasi Sarolangun Tempo Doeloe, Rabu (24/8/2022). 

Berdasarkan sejarah pula, tidak berselang lama peristiwa tenggelamnya kapal Ophelia itu pun terjadi. Dimana dalam sejarah juga dijelaskan jika tenggelamnya kapal tersebut setelah beberapa meter lepas dari pelabuhan menuju kawasan hilir berniat untuk melakukan penarikan pajak. 

"Kalo kita simpulkan, kami lebih percaya kejadian tersebut tidak lepas dari kuasa tuhan. Buah dari doa orang orang yang teraniaya kala itu, " tuturnya.

Baca juga: Sekilas Tentang Tugu dan Kapal Ophelia di Sarolangun

Lanjutnya, kisah warga yang menggelar doa dan meminta petunjuk tersebut juga bukan sekedar cerita isapan jempol semata. Melainkan juga berdasarkan literatur atau sumber tulisan, yang dikutip narasumber dari sebuah catatan tulisan veteran perjuangan sarolangun bernama Mukti Nasruddin. 

Dari bukti tulisan tersebut, memecahkan atau memantapkan jika tenggelamnya kapal Ophelia yang lokasinya saat ini tepat di depan kawasan ancol sarolangun ini bukan akibat peperangan ataupun dari sebuah pemberontakan. Melainkan murni kecelakaan dan kelalaian nahkoda. 

Halaman
12
Sumber: Tribun Jambi
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved