Sekilas Tentang Tugu dan Kapal Ophelia di Sarolangun

Beberapa bagian penting pada tugu kapal karam Ophelia sudah hilang, termasuk prasasti dan marmer hitam yang menjadi ciri khas. 

Penulis: Abdullah Usman | Editor: Teguh Suprayitno
Tribunjambi/Abdullah Usman
Tugu Kapal Karam Ophelia di kawasan Ancol Sarolangun. 

TRIBUNJAMBI.COM, SAROLANGUN - Beberapa bagian penting pada Tugu Kapal Karam Ophelia sudah hilang, termasuk prasasti dan marmer hitam yang menjadi ciri khas. 

Tugu tersebut cukup menarik, terutama lokasi yang berada di tengah kota atau pinggiran kawasan Ancol Sarolangun yang cukup mudah dijangkau.

Tugu berbentuk petak, memiliki tinggi sekitar 250 sentimeter, dengan sisi simetris dan berwarna khas dengan beberapa sudut pada bagian tugu cukup mencolok berada di salah satu sudut Ancol Sarolangun

Meski tugu tersebut tidak memperlihatkan seperti monumen kapal karam pada umumnya berbentuk kapal, namun tugu peninggalan sejarah penjajah Belanda ini memiliki nilai dan bukti sejarah cukup kental.

Baca juga: Permasalahan Bawaslu dan Pemkab Sarolangun Selesai, Siap Sukseskan Pemilu 2024

Pada tahun 1936-2000an pada bagian depan tugu, terdapat satu kotak besar yang bagian depannya ada marmer ukuran 50x40 sentimeter. Konon, marmer itu telah hilang lantaran tangan jahil. Lalu di sisi kanan dan kiri ada kotak yang lebih kecil dengan marmer bertuliskan bahasa Belanda.

Ada catatan menyebutkan beberapa orang pasukan Belanda beserta istrinya dan kanselir, meninggal di Kapal Hekweider (lambung) "Ophelia. Tulisannya, "eee aan de gevallen makers ges neuveld in dienst verdronken", yang artinya "hormat kepada teman teman yang gugur tenggelam dalam tugas.

Ophelia adalah sebuah hekwieler atau kapal roda lambung yang didesain khusus untuk transportasi perairan dangkal. Ophelia memiliki panjang 25 m, lebar 4.85 m dan tinggi 8.5 m dari permukaan sungai. 

Memiliki draft 60 cm dan freeboard (jarak antar permukaan air dengan lantai dek bawah) 15–20 cm. Rendahnya freeboard ini menyebabkan Ophelia mudah karam karena air dengan mudah masuk ke dek ketika Ophelia miring.

Baca juga: Dinkes Sarolangun Tegaskan Masyarakat Pentingnya Pola Hidup Sehat

Kecepatannya Ophelia adalah 10.5 km/jam. Dikirim tahun 1918 dari galangan kapal bekas di Sekanak yang berada di dekat Jembatan Ampera Palembang saat ini. 

Walaupun merupakan sebuah hekwieler bekas, namun Ophelia dalam kondisi sangat baik pada saat Bencana di Sarolangun, karena pada April 1931 Ophelia diperiksa dan diperbaiki total di Industriele Maatschappij Palembang hingga akhirnya tenggelam 7 bulan kemudian.

Kondisi monumen tersebut telah banyak mengalami perubahan dibandingkan dengan kondisi awal. Di antaranya adalah 1. Hilangnya prasasti marmer yang berukirkan nama-nama korban oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab, 2. Lantai monumen yang awalnya berjumlah 3 tingkatan sekarang menjadi 1 tingkatan dan di keramik hitam sehingga monumen terkesan menjadi lebih pendek, 3. Area depan monumen diberi pagar pelindung dari stainless steel dan 4. Pada kaki depan monumen diberi tulisan timbul “TUGU KAPAL KARAM”. 

Pada isi prasasti tersebut terpahat ada 18 nama-nama korban bencana Ophelia, antata lain:

Anna Catharina Blok Caspari (1885-1931), Petugas Pertanian Kelas 1 E. H. Stuut Sersan Eropa Van Bochem, Sersan II Jawa Slamet, Kopral Sunda Gumiwang, Agen Polisi Suparta, Doelsalim, 11 Fuselir jawa : Atmowidjojo, Sanmoehana, Legiman, Wirjowikarso, Soepardi, Dirwan, Kasanpawiro, Ngadiman, Kanan, Kasanmoehadi, Sardi. (usn) 

Simak berita terbaru Tribunjambi.com di Google News

 

Sumber: Tribun Jambi
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved