Sabtu, 2 Mei 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Perang Rusia Ukraina

Selama Perang 9000 Tentara Ukraina Terbunuh, Bagaimana dengan Rusia?

Ukraina harus kehilangan 9000 tentara selama invasi Rusia dalam beberapa bulan terakhir.

Tayang:
Penulis: Heri Prihartono | Editor: Heri Prihartono
AFP/Arris Messinis
Pasukan Ukraina membawa rekan mereka yang terluka. Ukraina membutuhkan banyak senjata untuk hadapi Rusia. Ukraina harus kehilangan 9000 tentara selama invasi Rusia dalam beberapa bulan terakhir. 

TRIBUNJAMBI.COM - Ukraina harus kehilangan 9000 tentara selama invasi Rusia dalam beberapa bulan terakhir.

Korban dari pihak Ukraina terus bertambah seiring invasi Rusia yang masih berlangsung hingga saat ini.

Hal ini disampaikan Jenderal Valeriy Zaluzhny, Panglima Tertinggi Ukraina.

Pihak Rusia mengumumkan pembaruan jumlah tentaranya yang tewas pada 25 Maret lalu hanya 1.351 orang.

Di sisi lain para pejabat militer AS memperkirakan awal Agustus lalu 70.000 hingga 80.000 tentara Rusia tewas atau terluka selama perang.


PBB mengatakan 5.587 warga sipil telah tewas dan 7.890 terluka selama invasi Rusia ke Ukraina.

Badan anak-anak PBB mengatakan pada Senin (22/8/2022), setidaknya 972 anak-anak Ukraina telah tewas atau terluka sejak Rusia menginvasi.

Direktur Eksekutif UNICEF, Catherine Russell mengatakan angka itu adalah angka yang diverifikasi PBB, tetapi pihaknya yakin jumlahnya jauh lebih tinggi.

Dilema Tentara Rusia

 Dilema tentara Rusia hanya memiliki dua pilihan, dipenjara atau berperang melawan Ukraina.

Tentara Rusia yang menolak berperang melawan Ukraina akan menghadapi resiko dipenjara.

Resiko dipenjara harus dihadapi tentara Rusia yang menolak perang dengan Ukraina.

Hal ini terjadi pada prajurit Brigade Serangan Udara Pengawal ke-11, sebuah unit militer dari Republik Siberia Buryatia.

Brigade yang ditempatkan di Ukraina sejak invasi Rusia mengajukan pengunduran diri mereka awal bulan ini. Namun permintaan tersebut mendapat perlawanan dari otoritas militer Rusia.

“Awalnya ada 78 (penentang), tetapi setelah beberapa putaran pemaksaan, komando militer berhasil mengurangi jumlah itu,” kata salah satu pendiri organisasi anti-perang Free Buryati Foundation, Vladimir Budaev, yang dikutip dari The Moscow Time, Minggu (24/7/2022).

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved