Editorial

Kerajaan Ferdy Sambo

Kasus pembunuhan berencana Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat membuka tabir adanya pengaruh Irjen Pol Ferdy Sambo bagaikan kerajaan di tubuh Polri.

Editor: Sulistiono
CAPTURE YOUTUBE
Irjen Pol Ferdy Sambo 

POLRI tidak boleh melempem menangani kasus tewasnya Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat. Siapa pun yang terlibat, seret ke meja hijau. Tegakkan hukum seadil-adilnya.

Kita semua sudah tahu, otak di balik pembunuhan Brigadir Yosua, sapaan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat, ternyata atasannya sendiri. Irjen Pol Ferdy Sambo.

Mantan Kadiv Propam ini bukanlah polisi biasa. Dia adalah jenderal bintang dua yang punya pengaruh luar biasa di tubuh Polri. Bahkan, Irjen Pol Ferdy Sambo ini diibaratkan memiliki kerajaan sendiri di dalam institusi Polri. Ya, kerajaan Ferdy Sambo.

Istilah kerajaan Ferdy Sambo itu dilontarkan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Polhukam), Mahfud MD. Kerajaan Ferdy Sambo, kata Mahfud MD, seperti sub-Mabes yang sangat berkuasa di institusi Polri.

Kuatnya pengaruh kelompok Irjen Pol Ferdy Sambo inilah yang membuat sulitnya pengungkapan kasus pembunuhan berencana Brigadir Yosua. Untuk menutupi peran Sambo, puluhan polisi terlibat membantunya.

Setidaknya sampai saat ini ada 63 anggota polisi diperiksa oleh tim Inspektorat Khusus (Irsus) Polri. Dari jumlah itu, 36 orang di antaranya diduga melanggar etik terkait upaya menghalangi proses penyidikan kasus pembunuhan berencana Brigadir Yosua.

Ada oknum polisi yang bertugas mengacak-acak tempat kejadian perkara, menghilangkan barang bukti, hingga mengarang cerita skenario pembunuhan. Skenario drama pembunuhan berubah-ubah. Dari tembak menembak, pelecehan seksual, perbuatan yang merusak harkat dan martabat keluarga di Magelang. Entah nanti ada skenario apalagi.

Prajurit di kerajaan Ferdy Sambo yang terlibat kasus tewasnya Brigadir Yosua ini terdiri tiga klaster. Pertama, pelaku yang merencanakan dan mengeksekusi Brigadir Yosua. Kedua, klaster obstruction of justice yang bertugas membuang barang bukti hingga mengarang rilis palsu. Ketiga, anggota polisi yang ikut-ikutan.

Tim Khusus dan Tim Irsus Polri harus bergerak cepat. Pengungkapan kasus ini sudah terlalu lama. Sekarang, kita melihat kasus ini telah memunculkan berbagai spekulasi liar.

Di media sosial, misalnya, sudah beredar poster yang menggambarkan jaringan Kekaisaran Sambo yang terkait operasi 303, perjudian. Di media sosial pun juga beredar video, dimana rakyat meneriaki "Sambo.. Sambo.. Sambo.." ketika melintas rombongan polisi.

Fenomena di sosial media ini tentu sangat mengganggu dan membuat citra polisi semakin lemah dan tidak mendapat apresisasi di hati masyarakat.

Maka dari itu Polri harus gerak cepat. Hari ini, kabarnya Mabes Polri akan merilis perkembangan kasus pembunuhan Brigadir Yosua. Semoga saja benar, dan ada kemajuan dalam upaya membuka kasus pembunuhan berencana Brigadir Yosua. Kita ingin kasus tewasnya Brigadir Yosua ini menjadi terang benderang, sehingga isu liar di ranah publik bisa diminimalisasi.

Mari kita fokus pada kasus hukumnya. Maka proses hukum hendaknya bisa cepat, segera diproses di pengadilan. Publik akan menyimak kebenarannya di pengadilan. Jaksa dan hakim pun harus bisa mengawal kasus ini, dan benar-benar mampu menghasilkan keadilan.

Rakyat ingin hukum ditegakkan. Institusi Polri harus bersih dan bisa dipercaya. Dengan kejadian kasus ini, kita sangat berharap Kapolri Listyo Sigit Prabowo menjadikannya sebagai momentum bersih-bersih di tubuh Polri.

Bubarkan kerajaan-kerajaan yang ada di tubuh Polri. Terutama kerajaan Ferdy Sambo. Tidak boleh ada lagi kerajaan-kerajaan lain di tubuh Polri. Salam presisi! (*)

Sumber: Tribun Jambi
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved