Breaking News:

Pengamat Unja Sebut Koalisi PKB-Gerindra Sangat Rapuh,Tapi Saling Melengkapi

Jelang Pemilu 2024 para elit politik mulai melakukan manuver politik untuk menyusun koalisi.

Penulis: Danang Noprianto | Editor: Teguh Suprayitno
Tribun Solo
Prabowo dan Cak Imin. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Jelang Pemilu 2024 para elit politik mulai melakukan manuver politik untuk menyusun koalisi.

Terlihat beberapa partai sudah melakukan koalisi, terbaru PKB yang dipimpin Cak Imin berkoalisi dengan Gerindra pimpinan Prabowo Suianto.

Pengamar Politik Universitas Jambi, Hatta Abdi Muhammad mengatakan fenomena koalisi seperti ini dalam kontestasi elektoral di Indonesia adalah koalisi yang sangat rapuh. 

Karena orientasi koalisi sangat didominasi oleh kepentingan politik belaka, bukan kepada spektrum pandangan ideologi serta platform partai yang mirip-mirip sehingga koalisi terbangun atas dasar pembangun politik bangsa. 

Oleh karena itu koalisi parpol jika dilihat dari perspektif yang lebih substansial, siapa akan berkoalisi dengan siapa, menjadi hal yang normatif saja. 

"Jika dilihat dari manuver politik akan memiliki kacamata yg lebih menarik untuk dianalisa. Seyogyanya koalisi partai politik ini menjadi keniscayaan karena hal ini menjadi jalan satu satunya jika figur yang ingin diusung sebagai capres-cawapres dapat mulus melangkah," ujarnya, Minggu (19/6/2022).

Baca juga: Nasdem Umumkan Capres, Nama Ganjar, Anies dan Prabowo Paling Populer

Hatta menyoroti koalisi yang terbangun antara Gerindra dengan PKB bisa dilihat dari beberapa analisa politik yang cerdik.

"Koalisi ini dipandang sebagai koalisi yang saling melengkapi. Bukan saja dilihat dari perspektif ideologi bahwa Gerindra teridentifikasi sebagai partai nasionalis dan PKB sebagai partai yang agamis," jelasnya.

Namun dikatakan Hatta juga terdapat catatan menarik. Pertama, Gerindra sangat memahami bahwa PKB dan figur Cak Imin memiliki kekuatan terutama di wilayah Jawa Timur yang secara wilayah adalah salah satu yang memiliki DPT besar serta kekuatan dominasi kekuatan nahdliyin-nya sehingga diharapkan dapat dijadikan lompatan angka elektoral yang signifikan.

Kedua, PKB menganggap koalisi dengan Gerindra juga penting, hal ini berkaitan dengan memanfaatkan coat-tail effect / efek ekor jas tingginya figur capres potensial yang memiliki elektabilitas yang cukup tinggi yaitu partai gerindra itu sendiri dan figur Prabowo Subianto, sehingga secara langsung juga dapat dijadikan senjata memastikan elektoral PKB berada di papan atas dalam pemilu ke depan.

Baca juga: PKB dan Gerindra Sepakat Kerja Sama untuk Pemilu 2024, Cak Imin Calon Presiden?

Ketiga, koalisi Gerindra - PKB sebenarnya juga bagian dari strategi koalisi bukan saja dapat mengacaukan frekuensi koalisi diantara parpol lainnya sehingga lebih jauh diharapkan dapat menggaet parpol lainnya yang secara mesin elektoral tidak cukup baik dan tidak memiliki daya magis untuk menjeskan siapa kira-kira capres yang dapat mereka usung. 

Menurut Hatta koalisi ini di desain untuk merampingkan kandidat capres-cawapres juga serta menyingkirkan capres potensial lainnya yang saat ini berada di posisi atas berdasarkan hasil berbagai lembaga survei.
 
Terakhir ia katakan Posisi PKB juga bisa jadi menjadi partai penentu arah koalisi diantara parpol yang ada karena Gerindra dan PKB memiliki gabungan angka elektoral yang besar.

Simak berita terbaru Tribunjambi.com di Google News

 

Sumber: Tribun Jambi
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved