75 Tahun PMKRI: Harapan dan Tantangan!
Hari ini kita semua, seluruh warga Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia merayakan 75 tahun hari jadi perhimpunan kita.
*Oleh: Margareta Yunita Lani Domaking (Bendahara Umum PP PMKRI 2020-2022)
Hari ini kita semua, seluruh warga Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia merayakan 75 tahun hari jadi perhimpunan kita.
Untuk ukuran manusia 75 tahun terbilang tua meski tak tua-tua amat.
Untuk ukuran organisasi kemahasiswaan usia 75 mengandung dua hal sekaligus: bisa jadi tua renta tak lagi produktif ataukah memasuki masa dewasa yang makin matang dalam menghadapi dunia dan tantangannya.
Dalam permenungan saya, PMKRI tidak berada persis pada posisi yang pertama juga yang ke dua.
PMKRI tak renta juga tak dewasa-dewasa amat meski kita sudah berusia 75 tahun. Kita sedang berada dalam simpangan jalan antara yang pertama dan kedua.
Situasi di persimpangan ini adalah situasi yang rentan sekaligus rapuh. Jika salah langkah, kita bisa terpeleset ke dalam penyakit tua renta yakni pikun, kekanak-kanakan, dan akhirnya mati.
Seperti manusia lanjut usia kebanyakan yang pikun, organisasi pun bisa pikun; hilang kepekaan terhadap kenyataan di sekitar, mulai menjauh dari visi dan misi organisasi, kehilangan spirit tiga benang merah dalam gerak juangnya, dan akhirnya tak punya warna dan pendirian dalam pergaulan antar organisasi.
Apakah hari ini PMKRI masuk dalam kategori pikun? Jawabannya kita renungkan bersama!
Yang kedua usia 75 bisa dikatakan sebagai usia matang. Matang dalam artian kita menjadi relevan atau nyambung dengan situasi saat ini. Seperti orang tua yang meskipun tua tetap bisa nyambung ketika ngobrol dengan Gen Z yang terpaut jauh sekali usia dan mentalitasnya.
Tidak semua manula bisa nyambung enak Ketika ngobrol dengan generasi sekarang, sebaliknya banyak yang memaksakan sikap pendiriannya kepada anak-anak muda.
Jika demikian maka manula yang demikian akan terasing dan menjadi tidak relevan dengan situasi sekarang.
Organisasi pun demikian, jika tidak menjadi jawaban bagi para mahasiswa yang adalah Gen Z maka dengan sendirinya menjadi tidak relevan dengan tuntutan zaman, tidak nyambung dengan kondisi dan harapan yang diperlukan oleh Gen Z.
Siapa yang akan masuk menjadi anggota PMKRI jika PMKRI tidak relevan, tidak menarik, dan tidak menjadi solusi untuk setiap pertanyaan yang terlontar? Apakah PMKRI relevan dengan situasi saat ini?
Apakah usia 75 tahun sebangun dengan kematangan? Jika kita tidak relevan dengan zaman, maka PMKRI hanya sekedar organisasi tua yang tidak relevan dan akan selalu memaksakan diri dan kehendak kepada Gen Z yang terlampau jauh perbedaan usianya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/Margareta-Yunita-Lani-Domaking-Bendahara-Umum-PP-PMKRI-2020-2022.jpg)