Pemilihan Presiden 2024
PPP DKI Rekomendasikan Anies Berpasangan Dengan Gubernur Ini di Pilpres, Untuk Selamatkan Partai
Pengamat Politik Universitas Telkom Dedi Kurnia Syah menilai, PPP melihat tokoh calon presiden yang memiliki kedekatan karakter dengan pemilih.
TRIBUNJAMBI.COM - Anies Baswedan dan Khofifah Indar Parawansa direkomendasikan untuk maju sebagai calon Presiden dan Wakil Presiden dalam ajang Pemilihan Presiden 2024 mendatang.
Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PPP DKI Jakarta yang merekomendasikan Anies-Khofifah ke PPP.
Usulan itu diputuskan dalam Rapat Pimpinan Wilayah (Rapimwil) PPP DKI Jakarta di Hotel Sofyan, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (14/4/2/2022) petang.
Pengamat Politik Universitas Telkom Dedi Kurnia Syah menilai, PPP melihat tokoh calon presiden yang memiliki kedekatan karakter dengan pemilih.
Yakni, kelompok menengah bawah dan muslim afiliasi nahdliyin atau tokoh yang berpeluang meningkatkan elektabilitas PPP itu sendiri.
Jaum nahdliyin adalah golongan kaum muslimin Indonesia yang membagi budaya keagamaan yang sama, dan secara organisasi terlembagakan dalam bentuk NU.
"Dengan kondisi itu, nama semisal Khofifah menjadi yang paling dekat, tetapi persoalannya elektabilitas Khofifah sendiri masih di jajaran terendah dibanding tokoh lainnya,” kata Dedi Kurnia Syah, Senin (18/4/2022).
“Meski Khofifah punya basis pemilih Fatayat yang bisa saja dianggap potensial," sambungnya.
Anies Baswedan sendiri, kata Dedi, secara personal sudah punya modal popularitas dan elektabilitas.
Bukan itu saja, karakter Anies Baswedan yang tenang dan pandai sebagai tokoh muslim, bakal mudah beradaptasi dengan kelompok nahdliyin.
"Masalahnya, PPP bagi Anies tentu bukan prioritas, karena porsi suara PPP di parlemen yang bukan kelompok pemengaruh dalam koalisi,” ujar Dedi Kurnia Syah.
“PPP di 2024 masih tetap sebagai mitra koalisi yang belum tentu punya kans (peluang) mengusulkan. Kecuali tokoh yang ia usulkan senada dengan partai politik dominan lainnya," katanya.
Ia menjelaskan,pengusungan calon presiden dari PPP berorientasi untuk menyelamatkan PPP dari ambang kegagalan di tahun 2024.
Sebab, PPP berstrategi menyelamatkan partai lama tersebut melalui penawaran capres-cawapres.
"Dengan kondisi itu, PPP memilih tokoh yang punya kans mengungkit elektabilitas PPP, meskipun tokoh tersebut belum tentu potensial terusung,” kata Dedi Kurnia Syah.