Korban Begal Jadi Tersangka, Amaq Sinta: Saya Ingin Bebas Supaya Tenang

Nama Murtede alias Amaq Sinta (34) ramai diperbincangkan lantaran status dirinya yang ditetapkan sebagai tersangka padahal menjadi Korban begal.

Sumber: Tangkapan layar KOMPAS TV
Korban begal yang menjadi tersangka, Murtede alias Amaq Sinta (34) warga Dusun Matek Maling, Desa Ganti, Kecamatan Praya Timur, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). 

 

TRIBUNJAMBI.COM, PRAYA- Nama Murtede alias Amaq Sinta (34) terus jadi diperbincangkan publik setelah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polsek Lombok Tengah atas tewasnya dua begal.

Amaq Sinta merupakan korban begal, namun saat dibegal dia melawan hingga menyebabkan dua begal tewas.

Pria 34 tahun itu tinggal di Desa Ganti, Praya Timur, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). Dia berharap bisa bebas murni sebelum persidangan.

"Saya ingin bebas supaya bisa tenang dan bekerja kembali seperti biasanya," katanya di Praya, NTB, Sabtu (16/4/2022).

Dia mengaku gelisah ketika ada di dalam jeruji besi, karena memikirkan istri dan dua anaknya, serta badannya masih sakit meskipun tidak ada luka. 

Namun, ia merasa senang bisa bebas sementara, setelah mendapatkan penangguhan penahanan dari penyidik Polres Lombok Tengah yang telah menetapkannya sebagai tersangka.

"Jangan sampai di (ke) persidangan. Saya harap bisa bebas dengan cepat," harapnya, dilansir dari Antara.

Baca juga: Korban Begal di NTB Jadi Tersangka, Kompolnas: Kalau Terbukti Membela Diri, Kasus Patut Dihentikan

Seperti diketahui, Amaq Sinta menjadi tersangka atas kasus yang menimpanya setelah menewaskan dua begal dari empat pelaku yang ingin merampas sepeda motor miliknya.

Dalam penuturannya, Amaq Sinta membunuh kawanan begal itu dalam keadaan terpaksa. Lantaran, jika tidak melawan, nyawanya yang akan melayang diserang kawanan begal di jalan raya Desa Ganti, ketika akan mengantarkan makanan dan air panas buat ibunya di Kabupaten Lombok Timur.

"Kalau saya mati, siapa yang akan bertanggung jawab? Jadi saya harus melawan," kata dia. 

Adapun kasus itu bermula ketika Amaq Sinta akan pergi ke Lombok Timur untuk mengantarkan makanan untuk ibunya.

Sesampai di TKP, ia dihadang dan diserang para pelaku menggunakan senjata tajam. 

Selanjutnya, ia melawan para pelaku dengan sebilah pisau kecil yang dia bawa sambil berteriak meminta tolong. Namun, tidak ada warga yang datang.

Halaman
12
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved