Renungan Kristen
Renungan Harian Kristen - Hidup dalam Perdamaian dengan Saudara
Bacaan ayat; Kejadian 4:7 (TB) Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip
Hidup dalam Perdamaian dengan Saudara
Bacaan ayat; Kejadian 4:7 (TB) Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya."
Oleh Pdt Feri Nugroho
Hal yang sangat menyedihkan hati orang tua adalah melihat anak-anaknya bertengkar. Dalam benak mereka anak-anak menjadi kebanggaan.
Kesadaran bahwa keluar dari rahim yang sama, sudah sepantasnya membuat mereka selalu rukun dan damai dalam segala hal.
Faktanya justru bertolak belakang. Berantem dengan saudara terasa lebih mudah dilakukan dari pada bertengkar dengan orang lain.
Kadang hanya persoalan sepele. Berebut mainan di teras, membagi makanan di dapur, atau sekedar berebut bantal guling ditempat tidur.
Entah mengapa, jika tidak menciptakan kegaduhan rasanya tidak nyaman. Ajaibnya, lima menit berikutnya sudah terlihat rukun dan damai, saling memeluk dan tertawa bersama.
Itu jika mereka masih balita. Akan lain ceritanya jika sudah beranjang remaja bahkan dewasa.
Caci maki bahkan golok bisa teracung keluar sebagai alat untuk mengintimidasi.
Menyedihkan bukan? Bahkan semakin parah jika perselisihan berlanjut ke meja hijau dan hakim harus ketok palu untuk memutuskan.
Bukankah hati orang tua akan sedih, bagai tersayat sembilu? Luka hati terasa perih melihat kegaduhan yang dibuat oleh anak-anaknya.
Persaudaraan Kain dan Habel harus berujung maut.
Kasusnya sederhana, masing-masing memberikan persembahan sesuai dengan apa yang dimiliki: Kain memberikan persembahan hasil tanah dan Habel mempersembahkan korban anak sulung kambing domba.
Ternyata persembahan Habel diindahkan Tuhan dan persembahan Kain tidak. Jujur, siapa saja pada posisi Kain pasti murka.
Argumentasi umumnya adalah pertanyaan; mengapa?
Inilah yang menjadi persoalan abadi dalam sejarah, yaitu sikap iri hati terhadap yang lain. Iri hati itulah yang membuat Kain merancang untuk membunuh Habel dan berhasil.
Dari kisah mereka, kita dapat belajar tentang otoritas Tuhan yang mutlak atas kehidupan.
Tentang diindahkannya persembahan Habel dan bukan persembahan Kain, adalah hak prerogatif Allah.
Ia mempunyai kebebasan untuk menentukan pilihan, mana yang hendak diindahkan dan mana yang tidak diindahkan.
Pemahaman ini penting agar menghindarkan diri kita dari sikap iri hati yang mengancam dan mengintip setiap saat.
Iri hati dapat menjadi benih yang akan bertumbuh menjadi dosa.
Dalam hal ini, Habel hanyanya korban dari iri hati Kain yang merasa tidak adil karena persembahannya tidak diindahkan Tuhan.
Kain melampiaskan kekesalannya pada Habel dengan cara membunuhnya.
Pada sisi lain terdapat benang merah yang terangkai dalam sejarah bahwa hanya korban darah yang dapat mendamaikan antara manusia dengan Allah.
Adam dan Hawa membuat cawat dari daun pohon ara dan gagal menutupi ketelanjangannya. Allah berinisiatif memberikan kulit binatang.
Habel mempersembahkan korban anak kambing domba dan diindahkan Tuhan, sementara persembahan hasil bumi yang dipersembahkan Kain tidak diindahkan.
Dimasa berikutnya, selalu diulang bahwa untuk berdamai dengan Allah, harus ada korban anak kambaing domba yang disembelih.
Ritual Kemah Pertemuan selalu berkait dengan korban bakaran. Bait Allah menjadi sentral pemberian korban bakaran.
Menjadi tersambung, dapat dipahami dan masuk akal jika Yesus Kristus juga mati diatas kayu salib, dan darah-Nya dicurahkan menjadi tebusan manusia dari kuasa dosa.
Itu sebabnya Ia dinyatakan sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia, oleh Yohanes Pembaptis.
Dan perdamaianpun terjadi.
Memprihatinkan jika antar saudara tidak rukun dan damai.
Sudah seharusnya saling mengampuni menjadi gaya hidup dalam ikatan persaudaraan.
Pada sisi lain, para orang tua harus waspada, jangan sampai memberi komentar yang dapat berpotensi menjadi lahan subur bagi iri hati untuk anak-anaknya.
Bagaimanapun juga, sebagai mana Allah berotoritas atas kehidupan maka orang tua juga mempunyai otoritas atas anak-anaknya.
Namun sebagaimana Allah menghormati pilihan manusia maka orang tua juga perlu melakukan hal yang sama.
Tidak perlu iri hati jika adik atau kakaknya diperlakukan berbeda oleh ayah atau ibu. Itulah bentuk kasih yang dinamis dalam kehidupan.
Mari bersama-sama menikmati kasih Tuhan yang dinamis dalam kehidupan melalui ikatan kekeluargaan.
Amin
Renungan harian oleh Pdt Feri Nugroho S.Th, GKSBS Palembang Siloam
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/18112020_feri-nugroho.jpg)