Kamis, 23 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Renungan Kristen

Renungan Harian Kristen - Allah Selalu Hadir Untuk Menyertai

Bacaan ayat: Kisah Para Rasul 18:10 (TB) Sebab Aku menyertai engkau dan tidak ada seorang pun yang akan menjamah dan menganiaya engkau, sebab banyak

Editor: Suci Rahayu PK
Instagram Kasih Kristen
Ilustrasi renungan Kristen 

Allah Selalu Hadir Untuk Menyertai

Bacaan ayat: Kisah Para Rasul 18:10 (TB) Sebab Aku menyertai engkau dan tidak ada seorang pun yang akan menjamah dan menganiaya engkau, sebab banyak umat-Ku di kota ini."

Oleh Pdt Feri Nugroho

Pdt Feri Nugroho
Pdt Feri Nugroho (Instagram @ferinugroho77)

Bagi seorang anak, kehadiran ayah dan ibu adalah hal yang paling menenangkan. Dua wajah tersebut pertama kali dikenalinya.

Wajah tersebut selalu tersenyum, memberikan ketenangan dan kenyamanan.

Setiap kali rasa takut datang, wajah itulah yang hadir dengan sentuhan dan gendongan yang membuat nyaman.

Sesekali wajah tersebut tidak terlihat, namun sang anak tetap tenang karena yakin wajah itu akan hadir kembali saat diperlukan.

Wajah yang membawa damai saat dunia terasa keras dan kejam. Wajah yang selalu menyiratkan bahwa ia akan hadir untuk menjaga dan melindungi.

Sudah seharusnya hal yang sama terjadi dalam kehidupan beriman.

Perjalanan hidup yang sering berbatu-batu dan terjal tidak akan menyembunyikan wajah Allah yang selalu memandang umat-Nya.

Wajah Bapa yang selalu setia dan siap menolong saat diperlukan. Itu sebabnya kita diijinkan menyapa-Nya dengan sebutan Bapa, sebagai tanda bahwa ada relasi yang istimewa; Bapa akan selalu ada untuk anak-anak-Nya.

Persoalannya, mengapa kita seringkali merasa ditinggalkan? Mengapa terkesan Allah diam sementara kita bergumul dengan berbagai-bagai pergumulan kehidupan?

Baca juga: Renungan Harian Kristen - Memberi Tempat pada Murka Allah

Mengapa Dia terkesan acuh disaat kita paling membutuhkan kehadiran-Nya?

Masalah sebenarnya bukan ada pada Allah, namun pada kita yang tidak mengimani kehadiran-Nya. Seringkali segala hal diukur dalam kenyamanan personal.

Rasa menjadi begitu dominan sehingga logika terasa mandeg untuk berfikir lebih dalam.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved