Rrnungan Kristen
Renungan Harian Kristen - Memberi Tempat pada Murka Allah
Bacaan ayat: Roma 12:19 (TB) Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah,
Memberi Tempat pada Murka Allah
Bacaan ayat: Roma 12:19 (TB) Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.
Oleh Pdt Feri Nugroho S.Th
Memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan buruk telah membuat manusia berdosa.
Manusia tidak taat dan memberontak kepada Allah. Manusia ingin seperti Allah, yaitu dapat menentukan apa yang baik dan buruk dalam penilaiannya sendiri.
Keinginan tersebut terkabul bahwa manusia sama seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang buruk.
Hanya persoalannya, kemampuannya menilai baik dan buruk tidak diimbangi dengan pengetahuan, sehingga penilaiannya terbatas dalam pemahamannya sendiri. Kemampuan ini diwariskan manusia dari generasi ke generasi.
Seiring dengan waktu, ketika pengetahuan manusia berkembang, penilaian tentang baik dan burukpun berubah.
Apa yang dinilai baik pada masa lampau, bisa dinilai buruk pada masa kini, atau sebaliknya, apa yang dinilai buruk pada masa lalu bisa menjadi baik dimasa kemudian.
Baca juga: Renungan Harian Kristen - Hidup Dalam Persekutuan dengan Tuhan
Dalam setiap pribadi manusia, ada kemampuan untuk menilai dan menentukan baik atau buruk didasarkan pada pengalaman dan penilaiannya.
Biasanya terkait erat dengan kepentingan dan kebutuhan. Jika itu menguntungkan, akan sangat mudah dinilai baik meskipun hukum yang menjadi kesepakatan sosial menilainya sebagai kejahatan.
Bukankah seorang pencuripun bisa berdalih bahwa tindakannya itu benar, meskipun merugikan orang lain?
Salah satu fungsi penilaian untuk menentukan baik dan buruk berlaku dalam relasi dengan sesama. Sangat mudah kata adil itu didefinisikan dengan makna sama, berimbang dan tidak berat sebelah.
Jumlah dan ukuran yang sama menjadi indikator umum bagi segala hal untuk bisa disebut adil.
Dalam hal perbuatanpun hal yang sama berlaku. Jika seseorang dipukul dan merasa sakit, maka ia mempunyai hal untuk membalas dengan menyakiti.
Hukum tabur tuai diberlakukan, bahwa apa yang ditabur seseorang, itulah yang akan dituainya kelak di kemudian hari.
Aturan ini legal, menjadi aturan tertulis dalam bentuk hukum.
Baca juga: Renungan Harian Kristen - Memelihara Hidup Dudus dengan Berdamai
Dunia pengadilan mempunyai hak dan kewenangan untuk menentukan hukuman bagi para pelaku kejahatan.
Persoalan muncul ketika dalam ranah personal, rasa keadilan setiap orang bisa berbeda-beda.
Ada kecenderungan terselubung bahwa balasan bisa menjadi lebih berat untuk ditanggung dari pada dampak kejahatan yang dilakukannya.
Cap mantan napi (narapidana) menjadi beban psikologis seumur hidup yang harus disandang, tidak sebanding dengan tindakan pencurian barang yang tidak seberapa nilainya.
Ada indikasi bahwa pemberian hukuman mengarah pada tindakan balas dendam yang legal, ketika hukuman bisa diperjualbelikan.
Apalagi ketika yang menjadi korban merasa sebagai pihak yang benar, proses hukum telah selesai, namun luka hati atau akar pahit bahkan dendam bisa saja masih tersimpan dalam hati.
Seiring waktu, sakit hati akan siap untuk kembali tampil dalam tindakan membalas dendam.
Hukum Kasih hendak menyelesaikan persoalan tersebut. Paulus mengajak Jemaat di Roma untuk memiliki pola pikir yang berbeda.
Ketika tindakan membalas dinilai sebagai tindakan yang mulia untuk menegakkan keadilan, ia justru memiliki ide cemerlang ketika menulis, 'janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan'.
Sebuah pilihan untuk memutus lingkaran balas dendam yang bisa jadi tidak akan selesai dari generasi ke generasi.
Ide ini terkesan tidak masuk akal; dan memang tidak masuk akal, karena ide ini justru melampaui akal.
Bayangkan, ketika seekor ular saja pasti berbalik arah untuk menggigit ketika ekornya disakiti, bagaimana mungkin seseorang dapat memilih untuk tidak membalas?
Justru inilah yang membedakan manusia dengan ular: manusia dapat memilih tindakannya berdasarkan penalaran dan pemahaman yang lebih luas dibandingkan seekor ular yang hanya memakai naluri nya semata.
Lalu, apakah itu berarti membebaskan yang bersalah untuk melakukan kejahatan dengan merajaralela? Tentu tidak.
'Berilah tempat kepada murka Allah.' Itu artinya, kita kembali menempatkan Allah sebagai Hakim atas kehidupan. Dia yang mempunyai otoritas mutlak atas segala-galanya.
Mengapa? 'Sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.'
Allah pemilik kehidupan maka hanya Dia yang mempunyai hak prerogatif untuk menentukan apa yang terbaik dalam keadilan-Nya.
Bukan hal mudah untuk dilakukan, namun bukan pula hal mustahil untuk dipilih.
Roh Kudus akan memampukan kita untuk memilih pilihan tersebut.
Itu artinya, mengampuni menjadi pilihan yang paling logis untuk penyelesaian sebuah konflik. Beri ruang kepada Allah untuk menyatakan kehendak-Nya.
Tugas utama kita adalah memberikan makna baru dalam setiap pergumulan.
Maknai dengan makna untuk membangun kehidupan, bukan menghancurkannya.
Amin
Renungan oleh Pdt Feri Nugroho S.Th, GKSBS Palembang Siloam
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/23052021-renungan1.jpg)