Jumat, 10 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Virus Corona

Masyarakat Diminta Jangan Panik Setelah Muncul Omicron Varian Baru Virus Corona

Masyarakata diminta jangan panik dengan munculnya varian Omicron varian baru Virus Corona.

Editor: Rahimin
screenshoot
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Masyarakat Diminta Jangan Panik Setelah Muncul Omicron Varian Baru Virus Corona 

TRIBUNJAMBI.COM - Varian Omicron varian baru Virus Corona pertama ditemukan di Afrika Selatan.

Ditemukannya varian baru Virus Corona B.1.1.529 atau Omicron membuat pemerintah melarang warga dari 11 negara untuk masuk ke Indonesia.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meminta masyarakat tak perlu panik menyusul munculnya varian Omicron.

Hal itu dikatakan Budi Gunadi Sadikin saat konferensi pers virtual, Minggu (28/11/2021) malam.

"Jadi kita tidak perlu terlalu panik, terburu-buru mengambil kebijakan yang tidak berbasis data," katanya. 

Budi Gunadi Sadikin meyakinkan kepada masyarakat bahwa Indonesia dan dunia saat ini sudah cepat dalam mengidentifikasi setiap kemunculan varian baru virus corona.

Sebab,  ketersediaan kapasitas laboratorium yang sangat mendukung dalam mengindentifikasi setiap kemunculan varian baru.

Makanya, kata Budi Gunadi Sadikin, bila muncul sebuah varian baru, pemerintah langsung bisa bergerak melakukan antisipasi.

"Kami ingin memastikan kemampuan jaringan lab sudah mampu untuk melihat penyebarannya di dunia, mengidentifikasi dengan cepat, dan membuat kita merespons kebijakan dengan cepat," ujarnya.

Saat ini, sudah ada sembilan negara yang mengonfirmasi adanya kasus varian baru ini.

9  negara tersebut,  Afrika Selatan 99 kasus, Botswana 19 kasus, Inggris 2 kasus, Hongkong 2 kasus, Australia 2 kasus, Italia 1 kasus, Belgia 1 kasus, Israel 1 kasus, dan Republik Ceko 1 kasus.

Ada juga empat negara yang kemungkinan terdapat kasus varian baru ini. Yakni, Belanda, Jerman, Denmark, dan Austria.

Melihat data itu, Budi Gunadi Sadikin  memastikan pemerintah akan mengamati setiap adanya kedatangan warga dari luar negeri.

Ini dilakukan untuk mengamati faktor risiko dari kedatangan warga tersebut.

"Kita lakukan ini bukan hanya untuk udara, tapi juga perbatasan pelabuhan laut dan juga darat karena pengalaman kita di Delta justru masuknya dari laut," ujar Budi Gunadi Sadikin.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved