Breaking News:

Berita Batanghari

Sulit Terapkan Sistem IP 400 di Batanghari, Pane Sebut Bisa Asalkan Pemda Bikin Embung

Mara Mulya Pane mengaku kesulitan melakukan program Indeks Pertanaman 400 (IP 400) dari program Kementan RI

Penulis: A Musawira | Editor: Rahimin
istimewa
Kelompok tani di Batanghari sedang melakukan panen padi bersama masyarakat. Sulit Terapkan Sistem IP 400 di Batanghari, Pane Sebut Bisa Asalkan Pemda Bikin Embung 

TRIBUNJAMBI.COM, MUARABULIAN - Kabupaten Batanghari belum bisa melaksanakan sistem pertanaman padi empat kali dalam setahun yang merupakan terobosan dari Kementerian Pertanian (Kementan) dalam meningkatkan produksi padi.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Batanghari Mara Mulya Pane mengaku kesulitan melakukan program Indeks Pertanaman 400 (IP 400) dari program Kementan RI.

Sistem IP 400 sebelumnya berhasil dilakukan di daerah Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah, Pane menyampaikan daerah ini belum bisa mengarah ke sana. 

“Sawah kita bukan sawah irigasi. Mengejar 4 kali tanam dalam satu tahun itu memang full tekhnologi yang kita terapkan di sana sehingga waktu tanam itu tidak ada terlalu panjang,” katanya kepada Tribunjambi.com.

Rumah Dijual
Rumah Dijual (TRIBUN JAMBI)

Sementara di Batanghari, Mara Mulya Pane menyebut akan merubah kebiasaan petani, mudah-mudahan ke depan dengan adanya perubahan ini paling tidak kita bisa meningkatkan menjadi IP 200 atau dua kali dalam setahun.

“Saat ini kita sudah melaksanakan sistem IP 250 dalam arti kata dua tahun lima kali tanam. Kita yang dua kali tanam baru seluas 456 hektare, karena lahan kita itu adalah lahan tadah hujan dan lahan rawa lebak,” ujarnya.

Menurut Mara Mulya Pane, memang ada beberapa potensi lahan ke depan yang akan didukung dari APBD dan APBN paling tidak ia harus bisa mengejar dua kali tanam dalam setahun.

“Luasan angka tanam pada tahun ini sudah seluas 7.606 hektare dari total lahan sawah baik itu sawah tadah hujan dan sawah rawa lebak seluas 13.518 hektare. Sisanya ini, akan kita jadikan ke depan untuk peningkatan melalui optimalisasi lahan atau pun pembukaan lahan baru dan cetak sawah,” ucapnya.

Diakuinya memang luasan lahan sawah paling banyak di Kecamatan Maro Sebo Ulu seluas 1.983 hektare di Kecamatan Mersam seluas 4.435 hektare dan Muara Bulian seluas 2.020 hektare.

Selama ini kata Mara Mulya Pane yang tidak bisa terlaksana adalah untuk pengaturan air.

Sedangkan untuk yang tiga poin itu sudah dimaksimalkan dari empat poin yang diharapkan bisa mengejar IP lebih dari sekarang. Hanya pengaturan air yang sulit dilakukan di Batanghari.

“Lahan kita adalah lahan tadah hujan dan lahan rawa lebak yang tidak memungkinkan kita untuk mengatur airnya. Disaat hujan tinggi lahan kita tenggelam disaat kemarau lahan kita kekeringan. Inilah satu diantaranya dengan pola teknologi pompanisasi, harapan kita ke depan akan didukung dari APBD dan APBN,” ujarnya.

Solusi untuk mengejar IP 400 perlu pembiayaan yang begitu besar. Mara Mulya Pane bilang harus menciptakan embung dan pengatur pintu air karena ketika debit air tinggi lahan ini tidak bisa menghadang air.

Tapi, kalau masalah kekeringan masih ada upaya untuk mengaliri air di sawah tersebut.

“Embung ini pula tergantung dari pada luasan, kalau kita berbicara pompanisasi atau sumur bor hanya untuk lima hekatre, ini kan tidak memungkinkan untuk lahan dengan luasan 200 hektare tidak mungkin kita gunakan sumur bor. Embung harus ada sambungan dari petani sehingga petani menyiapkan lahan sekian hektare untuk dijadikan embung supaga air hujan disaat kemarau ketersediaan air tetap terjaga,” pungkasnya.

Baca juga: Penangkar Benih Padi di Batanghari Ditargetkan Hasilkan Produksi Benih Capai Ratusan Ton

Baca juga: Kabupaten Batanghari 2021 Targetkan Tanam Padi Seluas 8.707 Hektare, Berikut Capaiannya

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved