Renungan Kristen
Renungan Harian Kristen - Hidup Bersama dalam Kerukunan
Bacaan ayat: Mazmur 133:1 (TB) Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun
Hidup Bersama dalam Kerukunan
Bacaan ayat: Mazmur 133:1 (TB) Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!
Oleh Pdt Feri Nugroho
Rukun dapat dipahami sebagai baik dan damai. Para orang tua selalu menasihati anak-anaknya untuk hidup rukun, apalagi ketika orang tua telah tiada.
Alasanya, karena mereka terikat dalam persaudaraan. Orang bilang, darah itu lebih kental dari air.
Hubungan darah seharusnya lebih kuat untuk berdamai jika dibandingkan dengan hubungan-hubungan yang lain.
Sebuah ironi jika ditemukan justru perseteruan antar anggota keluarga justru bertahan lebih lama jika dibandingkan dengan perseteruan antar sesama.
Memprihatinkan jika ada orang tua yang memusuhi anaknya, atau anak yang membenci orang tuanya, kakak terhadap adiknya, atau sebaliknya.
Gereja sebagai persekutuan orang-orang yang telah percaya kepada Yesus pun tidak mampu membebaskan diri dari persoalan perseteruan.
Sejarah gereja dengan jujur merekam banyak peristiwa penting yang bersimbah darah dan perpecahan; padahal Hukum Kasih tidak pernah absen untuk diwartakan setiap kali ada kesempatan.
Mengapa bisa demikian? Adakah penyelesaiannya?
Paling tidak kita perlu memahami, penyebab terjadinya perseteruan, untuk membuat strategi terbaik menyelesaikannya.
Perseteruan pertama terjadi ketika manusia memilih tidak taat kepada Allah. Manusia memilih untuk menjadikan dirinya sendiri sebagai standar yang dalam pemandangannya, benar.
Manusia mengalihkan fokus hidup, dari fokus kepada Allah dengan taat dan beralih pada diri sendiri, yang berkaitan dengan hal-hal yang menarik hati.
Persekutuan pun berubah menjadi perseteruan. Pola tersebut menjadi warisan abadi dalam sejarah manusia.
Coba cermati, apa yang menyebabkan perseteruan bisa terjadi.
Faktor utamanya, ketika seseorang hanya fokus pada dirinya sendiri; benar dalam pandangannya sendiri, diukur dalam ide dan gagasannya sendiri, dan menutup diri dengan sudut pandang yang lain.
Dapat kita bayangkan, dua kepala duduk betsa dalam pola yang sama, yaitu tentang diri sendiri: dipastikan akan terjadi perseteruan.
Apakah solusi yang Allah lakukan untuk menyelesaikan perseteruan tersebut? Ternyata Allah proaktif dalam tindakan menyelamatkan.
Didasarkan pada kasih yang melekat pada diri-Nya sendiri, Allah bertindak untuk membangun perdamaian dengan manusia. Allah aktif menyatakan diri kepada manusia.
Orang-orang tertentu secara khusus dipakai oleh Allah untuk menyatakan kehendak-Nya untuk menyelamatkan, membangun perdamaian dan menyelesaikan perseteruan.
Meskipun manusia menolak, itu tidak pernah menghentikan Allah untuk terus berupaya merancang ulang perdamaian yang telah Dia rancang.
Penolakan manusia tidak pernah menggagalkan kasih Allah dalam merancang penyelamatan.
Puncaknya terjadi ketika Allah bertindak mengosongkan diri, mengambil rupa seorang hamba, mati di kayu salib demi tujuan rekonsiliasi antara Allah dengan manusia.
Fakta ini menjadi dasar bagi kita untuk melakukan hal yang sama dalam menyelesaikan perseteruan yang dialami.
Kasih menjadi dasarnya, proaktif menjadi strateginya, pilihan untuk mengampuni menjadi kekuatan yang mampu meruntuhkan tembok pertahanan dari perseteruan.
Jika Allah telah melakukan itu untuk menyelamatkan kita, bukankah pola yang sama dapat kita pakai untuk menyelesaikan sisa-sisanya?
Pemazmur menyaksikan arak-arakan umat yang datang beribadah ke Bait Allah di Yerusalem.
Iring-iringan berarak adalah umat Allah yang telah berdamai dengan sesamanya.
Fokus mereka adalah rumah Tuhan. Dalam persekutuan tersebut Pemazmur menemukan keindahan yang luar biasa; bahwa kerukunan yang terjadi membawa mereka hidup dengan baik dan penuh damai.
Ia mengkaitkan suasana tersebut sebagai susana kehidupan yang penuh berkat, kehidupan yang berkenan kepada Tuhan bak minyak urapan di kepala Harun pada saat ditahbiskan sebagai imam besar.
Dalam kedamaian hidup yang berkenan kepada Tuhan, maka berkat Tuhan mengalir dalam beragam bentuk.
Kerukunan akan menolong seseorang untuk hidup dalam perdamaian dan dalam perdamaian, apapun akan dimaknai sebagai berkat dari Tuhan.
Beberapa diantara kita akan menarik nafas panjang: setuju, namun tidak rela.
Sepakat namun terasa terjal untuk mewujudkannya. Ketika sejenak menoleh pada masa lalu, tentang luka, sakit hati, terabaikan, berbagai-bagai pertengkaran, membuat bank kesalahan orang lain dan menyimpan kesalahan orang lain dalam brankas, berbagai akar kepahitan dalam hati; mungkinkah perseteruan dapat diselesaikan?
Pilihan ada pada kita. Jika kita telah menerima pendamaian dengan Allah dalam Yesus, konsekuensi logisnya, perdamaian tersebut akan mendasari pembaharuan kehidupan.
Yesus sendiri ketika melihat hukum terbesar menyatakan, 'dan hukum kedua yang sama dengan itu'.
Hukum kasih, yaitu kasih pada Allah dan sesama, menjadi dua sisi dari satu mata uang.
Fokuslah pada Allah, maka pengampunan akan mengalir.
Jangan fokus pada diri sendiri atau orang lain, atau kesalahannya. Roh Kudus akan menolong dan memampukan kita untuk hidup rukun.
Amin
Renungan hari ini oleh Pdt Feri Nugroho S.Th, GKSBS Palembang Siloam
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/02052019_persahabatan.jpg)