Renungan Kristen
Renungan Harian Kristen - Tidak Ada Alasan Untuk Membela Diri
Bacaan ayat; Ibrani 4:12 (TB) Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai
Tidak Ada Alasan Untuk Membela Diri
Bacaan ayat; Ibrani 4:12 (TB) Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.
Oleh Pdt Feri Nugroho
Kata-kata itu tajam. Sayatannya membawa luka yang perih, seperti tersayat sembiluh (sembiluh: kulit bambu yang tipis dan tajam).
Ungkapan tersebut hendak menyatakan betapa kuatnya sebuah kata-kata dalam memberi pengaruh. Luka yang ditimbulkannya akan membekas seumur hidup.
Terasa perih ketika diingat dan derai air mata bisa tidak terbendung.
Dalam sejarah penyelamatan Allah, Allah telah berulang kali berinisiatif untuk berkata-kata kepada manusia.
Ia berkenan memilih, memanggil dan menyatakan apa yang menjadi kehendak-Nya meskipun Ia sejatinya tidak mempunyai kewajiban untuk melakukannya.
Perkataan-Nya, yang lebih familiar dengan istilah Firman-Nya, selalu datang menghampiri manusia untuk kembali kepada-Nya. Abraham, Ishak dan Yakub adalah tokoh utama dalam karya penyelamatan yang pada akhirnya berpuncak pada Yesus Kristus.
Dengan cara-Nya yang kreatif, Ia berkenan menjumpai manusia. Berulang-ulang Ia hadir dalam pengalaman hidup; berjanji dan ditepati.
Baca juga: Renungan Harian Keisten - Aku Tahu yang Aku Percaya
Namun apa respon manusia? Sebanyak Ia memanggil, sebanyak itu pula manusia menolak panggilan tersebut.
Beberapa merespon dengan taat dan melalui mereka panggilan tersebut berlanjut.
Bagi yang memilih tidak taat dan menolak, akhirnya kebinasaan menghampiri.
Fakta ini menjadi bukti paling kuat bahwa benar adanya, Allah mempunyai otoritas mutlak untuk memanggil seseorang untuk percaya, dan membinasakan ketika seseorang memilih untuk menolak.
Fakta inilah yang dipakai oleh penulis Surat Ibrani untuk meyakinkan pembacanya tentang kedaulatan Allah yang mutlak dan tidak bisa diganggu gugat.
Apa yang dialami oleh umat Tuhan pada masa lalu, memberikan peringatan bahwa Allah tidak main-main dalam karya penyelamatan-Nya.
Berulang-ulang Ia memberikan peringatan, memberikan kesempatan untuk bertobat dan berbalik, serta memberi waktu yang cukup untuk merespon.
Saatnya akan tiba, bahwa hari perhentian itu akan tiba dengan pasti. Dan jika hari itu telah tiba maka tidak ada yang bisa tersembunyi dan disembunyikan
Firman Allah yang berulang kali datang kepada manusia telah mewujud sebagai manusia, yaitu Yesus Kristus. Firman itu hidup dan kuat. Firman itu tajam melebihi pedang bermata dua.
Di tangan seorang prajurit, pedang bermata dua sangat berbahaya. Setiap gerakan tangan prajurit mempunyai potensi besar untuk melukai.
Ketika menusuk akan menciptakan luka yang mengerikan. Firman Allah lebih tajam dari pedang tersebut. Firman itu dapat memisahkan jiwa dan roh; sendi dan sumsum.
Baca juga: Renungan Harian Kristen - Mengosongkan Siri seperti Kristus
Menurut paham Ibrani, manusia terdiri dari tiga bagian, yaitu tubuh, jiwa, dan roh. Yang pertama yaitu tubuh, dijadikan dari tanah liat.
Yang kedua ialah kehidupannya (nyawa / jiwa), sedang yang ketiga ialah roh yang dapat merasa, mendengar, melihat, memikirkan, dan sebagainya.
Tubuh, jiwa dan roh menjadi satu kesatuan yang utuh dan tidak mungkin dipisahkan. Tanpa ketiganya maka kehidupan akan menjadi binasa.
Itu artinya, Firman Allah mempunyai kemampuan untuk membinasakan. Tidak ada yang tersembunyi, yang tidak akan terlihat.
Tidak ada tempat untuk bersembunyi. Tidak ada kesempatan untuk berdalih.
Firman Allah sanggup membedakan antara pertimbangan dan perkataan yang masih tersembunyi dalam hati.
Firman Allah dapat mengetahui motif terdalam, sekalipun belum terungkap dalam perkataan.
Jika saatnya tiba maka tidak ada yang bisa lolos dari penghakiman.
Untuk itulah, selama masih ada kesempatan untuk bertobat, bertobatlah.
Selagi masih ada nafas kehidupan untuk melakukan pilihan, pilihlah untuk percaya dan hidup dalam ketaatan.
Terlalu sering waktu berlalu tanpa makna. Kita berfikir bahwa masih banyak waktu.
Meskipun kita sadar bahwa waktu akan berakhir, namun pilihan menunda-nunda segala sesuatu sering jadi pilihan terdepan.
Selama Tuhan masih memberikan kesempatan kepada kita, mari kita pergunakan untuk hidup dalam ketaatan.
Sebab jika waktunya tiba, setiap kita tidak akan bisa berdalih.
Hidup kekal bagi yang memilih untuk percaya dan taat dan kebinasaan bagi yang menolak.
Amin
Renungan oleh Pdt Feri Nugroho S.Th, GKSBS Palembang Siloam
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/ilustrasi-depresi-dan-frustasi.jpg)