Breaking News:

Penganiayaan di Sarolangun

Suami Penganiaya Istri di Sarolangun Tidak Ditahan Jaksa, JPU: Ada Yang Menjamin

Kasus penganiayaan suami terhadap istri di Kabupaten Sarolangun terus berlanjut. Tersangka menjadi tahanan kota dengan berbagai pertimbangan

Penulis: Rifani Halim | Editor: Rahimin
ist
ILUSTRASI Penganiayaan - Suami Penganiaya Istri di Sarolangun Tidak Ditahan Jaksa, JPU: Ada Yang Menjamin 

TRIBUNJAMBI.COM, SAROLANGUN - Kasus penganiayaan yang dilakukan SH (50) terhadap istrinya sudah dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Sarolangun.

Jaksa Penuntut Umum Raden Shandy membenarkan hal itu. "Kita sudah melakukan pemeriksaan terhadap tersangka," katany, Kamis (9/9/2021).

Menurut Shandy, kasus kekerasan  dalam rumah tangga yang dilakukan SH terhadap istrinya dilaporkan sekira Januari. 

Dalam kasus ini, pihaknya memiliki kewenangan dalam mengambil kebijakan sesuai aturan.  Tersangka dijadikan tahanan kota

"Kita melakukan penahan itu ada tiga jenis. Di rutan, tahanan kotan atau tahanan rumah. Berdasarkan adanya surat permohonan tidak dilakukan penahanan dari penasehat hukum TSK, setelah kami pertimbangkan berdasarkan alasan subyektif dan alasan obyektif, TSK dilakukan penahan kota di wilayah hukum Kabupaten Sarolangun," jelasnya.

"Secara aturannya tahan kota tidak boleh keluar dari wilayah hukum kabupaten sarolangun. Untuk menjaga keefektifan dalam penahanan nantinya," sambungnya.

Soal penjaminan, berdasarkan aturan yang berlaku, melihat persoalan penahanan tersangka Itu ada alasan subjektif dan objektif.

"Untuk alasan subjektif, kita akan melihat kemanfaatan penahanan dan siapa penjaminnya. Kalau objektifnya, lebih kepada tersangkanya. Apakah yang bersangkutan tidak akan mengulangi perbuatannya, tidak kabur selama dalam proses pemeriksaan dan tidak merusak serta menghilangkan barang bukti," ujarnya.

Sandy mengungkapkan, penjamin tersebut bisa menjamin tersangka tidak akan melakukan hal yang dapat menghambat proses pemeriksaan.

"Penjamin ini satu keluarga dari tersangka berinisial S dan E selaku penasehat hukumnya. Penjamin siap bertanggungjawab jika tersangka tidak objektif dalam proses pemeriksaan. Secara aturan hal itu diperbolehkan, demi menjaga lancarnya proses pembuktian di tahap Persidangan terhadap TSK," ujarnya.

Setelah berkas perkara dinyatakan lengkap, kemudian diserahkan pelimpahan tersangka dan barang bukti. Sebelum melakukan pelimpahan ke pengadilan.

"Kita cek dulu tersangka gimana, terus barang buktinya betul atau tidak," ujarnya.

Baca juga: Polisi Tahan Penganiaya Anak di Tanjung Jabung Timur

Baca juga: Permasalahan Rumah Tangga, Suami Aniaya Istri Menggunakan Keris Hingga Tewas

Baca juga: Kades Viral Dituding Aniaya Biduan Usai Karaokean, Sebut si Wanita Lari-lari Sendiri ke Sawah

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved