Bencana Banjir Menerjang Eropa Barat, Dua Hari Hujan Setara Hujan Selama Dua Bulan
Apalagi berdasarkan keterangan pakar meteorologi, daerah barat Eropa menerima hujan setara dua bulan hanya dalam dua hari.
TRIBUNJAMBI.COM - Banjir menerjang Eropa barat, Belgia, dan Belanda.
Banjir tersebut menghanyutkan mobil, merusak bangunan, dan menewaskan ratusan orang.
Hingga Minggu (18/7/2021) setidaknya 183 orang tewas akibat banjir Jerman dan Belgia. Jumlah korban dikhawatirkan masih terus bertambah.
Di Jerman barat sendiri korban tewas mencapai 143 orang.
Banjir Eropa juga melanda Salzburg, kota di Austria yang berbatasan dengan Jerman, sampai membuat penghuni sejumlah bangunan harus dievakuasi.
Baca juga: Ini 5 Penyebab Parahnya Banjir di Eropa, Ribuan Orang Hilang
Baca juga: Inilah Data Perkembangan Kasus Covid-19 di Provinsi Jambi Sepekan Terakhir Update 18 Juli 2021
Baca juga: BREAKING NEWS: Pecah Rekor Lagi, Kasus Covid-19 di Jambi Bertambah 442 Pada Minggu 18 Juli 2021
Melansir Sky News pada Sabtu (17/7/2021), bendungan dekat Cologne di region Rhine-Westphalia Utara, Jerman, rusak akibat tekanan besar pada struktur bangunan dari debit air yang terus meningkat.
Warga setempat akhirnya dievakuasi karena ada kemungkinan bendungan bakal hancur. Petugas juga memperingatkan tentang ancaman kabel putus di jalan.
Gubernur Rhineland-Palatinate Malu Dreyer mengatakan perubahan iklim sebagai penyebab banjir besar yang menerpa mereka.
Apalagi berdasarkan keterangan pakar meteorologi, daerah barat Eropa menerima hujan setara dua bulan hanya dalam dua hari.
"Perubahan iklim bukan lagi isu abstrak. Kita mengalaminya secara menyakitkan," ujar Dreyer seraya menyerukan percepatan penanganan.
Sementara itu di Erfstadt sebagian kota terblokir selama berhari-hari dan ada lubang besar yang menganga.
Sekitar 15.000 polisi, tentara dan pekerja layanan darurat dikerahkan di Jerman untuk melakukan pencarian dan penyelamatan.
Pejabat di distrik Ahrweiler Jerman barat mengatakan sekitar 1.300 orang belum ditemukan.
Adapun di Belgia 27 orang dilaporkan tewas serta tanggul di sepanjang sungai terancam ambruk.
Perdana Menteri Belgia Alexander De Croo kemudian menyatakan 20 Juli sebagai hari berkabung nasional.
"Kami masih menunggu jumlah korban terakhir, tetapi ini bisa menjadi banjir paling dahsyat yang pernah terjadi di negara kami," katanya mengutip BBC pada Jumat (16/7/2021).