Breaking News:

Sungai Kandang Tercemar

Warga Tanjung Lebar Muarojambi Keluhkan Air Sungai Berwarna Hitam Pekat, Diduga Tercemar Limbah

Berita Muarojambi - Sungai Kandang itu melewati unit 15,18,17 dan unit 8, sebelumnya air di sungai tersebut sering digunakan masyarakat

Penulis: Hasbi Sabirin | Editor: Rahimin
Tribunjambi/hasbi sabirin
Warga Tanjung Lebar Muarojambi Keluhkan Air Sungai Berwarna Hitam Pekat, Diduga Tercemar Limbah Perusahaan 

Warga Tanjung Lebar Muarojambi Keluhkan Air Sungai Berwarna Hitam Pekat, Diduga Tercemar Limbah Perusahaan

TRIBUNJAMBI.COM, SENGETI - Sungai Kandang yang berada di Desa Tanjung Lebar Kecamatan Bahar Selatan Kabupaten Muarojambi diduga dicemari oleh limbah perusahaan kelapa sawit.

Diketahui, sungai tersebut sebelumnya dijadikan tempat mata pencaharian para nelayan disana kini sudah tercemar.

Sejak 2016 hingga sekarang, pemerintah desa di sana juga telah menerbitkan aturan pelarangan penggunaan setrum dan racun ikan untuk menjaga kelestarian dan kebersihan sungai tersebut. 

Hal ini disampaikan oleh Kepala Desa Tanjung Lebar Kecamatan Bahar Selatan Rustam Effendi saat dikonfirmasi pada Jum'at (16/7/2021).

Kata Effendi, Sungai Kandang itu melewati unit 15,18,17 dan unit 8, sebelumnya air di sungai tersebut sering digunakan masyarakat untuk melaksanakan kegiatan sehari-hari baik mandi, mencuci bahkan airnya juga untuk dikonsumsi.

Melihat kondisi air sungai sudah berwarna hitam kecoklatan tersebut diduga, tercemari oleh limbah perusahaan kelapa sawit yang beroperasi tidak jauh dari tempatnya.

"Sebelumnya airnya sedikit jernih dan digunakan oleh warga kami untuk mandi, mencuci hingga untuk konsumsi, namun saat ini sudah berwarna hitam kecoklatan diduga dicemari limbah perusahaan," kata Effendi.

Menurutnya, pencemaran sungai oleh limbah ini sudah berulangkali terjadi, kondisi sungai tersebut kini airnya hitam pekat dan tak bisa digunakan oleh masyarakat. 

Berubahnya kondisi air tersebut diduga gegara tercemari oleh limbah dari perusahaan yang berada di hulu sungai tersebut 

"Limbah dari perusahaan di hulu sungai yakni PT Asiatik Persada atau BSU, kami juga sudah melakukan mediasi pihak perusahaan akan menangapi hal itu, hingga kini belum ada tindakan mereka,"ucapnya.

Bahaya atau tidak limbah yang membuat air sungai menjadi hitam masyarakat nya sering mengalami gatal-gatal setelah mandi, yang jelas masyarakat mereka merasa dirugikan.

"Izin operasional perusahaan itu ada di Batanghari, akibat limbah tersebut, tetap merugikan masyarakat kami dan merusak atau menggangu ekosistem yang ada di dalamnya dan masyarakat yang menggantungkan hidup dari sungai tersebut," pungkasnya.(tribunjambi.com/ Hasbi Sabirin)

Harga Hewan Kurban di Tanjab Timur, Sapi Mulai Rp 16 Jutaan, Kerbau mulai Rp 20 Juta

Jenis Makanan yang Tak Boleh Dikonsumsi Secara Berlebihan saat Pandemi Covid-19, Kurangi Gorengan

VIDEO Covid-19 Meningkat Drastis di Jambi, Benarkah Ada Varian Delta? (part 2)

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved