Renungan Kristen
Renungan Harian Kristen - Percaya dan Diselamatkan Adalah Sebuah Pilihan
Bacaan ayat: Roma 10:9 (TB) Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitka
Percaya dan Diselamatkan Adalah Sebuah Pilihan
Bacaan ayat: Roma 10:9 (TB) Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.
Oleh Pdt Feri Nugroho
Sudah menjadi paham yang umum bahwa keselamatan itu diperoleh karena berbuat baik dan benar sebagai wujud ketaatan.
Seseorang beribadah, sembahyang, berbuat baik, bersedekah, hidup taat, melakukan perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya; demi mendapatkan keselamatan yaitu hidup berkenan kepada Tuhan dan mendapat sorga; menjadi konsep umum yang dikenal oleh siapa saja.
Konsep ini membuat manusia berlomba untuk berbuat baik, berjuang untuk ibadah dan semangat dalam berbuat kebajikan demi memperoleh sorga kelak setelah hidup di bumi ini berakhir.
Konsep yang sama juga dimiliki oleh banyak orang Kristen.
Ajaran yang umum bahwa Perjanjian Lama mengajarkan untuk hidup taat kepada ritual ibadah untuk selamat.
Kitab Imamat penuh dengan aturan-aturan yang harus ditaati agar seseorang berkenan kepada Tuhan.
Berbagai larangan dan ancaman diberlakukan agar umat didorong lebih taat dan setia kepada Tuhan.
Sementara itu, dipahami bahwa anugerah baru mulai masuk Perjanjian Baru, terjadi perubahan yaitu masuk dalam zaman anugerah.
Seseorang cukup percaya kepada Yesus Kristus dan diselamatkan.
Ritual ibadah tidak lagi berlaku sebagai cara untuk memperoleh keselamatan; cukup percaya dan selamat.
Akibatnya, banyak pertanyaan muncul: masih berlakukan Perjanjian Lama dengan berbagai aturannya, sementara kita sudah hidup dalam masa anugerah?
Mari mencoba membaca Alkitab dengan lebih cermat.
Sejak Adam dan Hawa memilih tidak taat, Allah kemudian merancang penyelamatan.
Bukankah ini anugerah? Melompat agak jauh kepada panggilan kepada Abraham.
Bukankah di dalamnya ada inisiatif Allah yang memanggil Abraham keluar dari Ur-Kasdim menuju tanah Perjanjian yang akan ditunjukan kepadanya? Bukankah inisiatif Allah ini juga anugerah?
Berlanjut kepada anak dan cucunya, yaitu Ishak dan Yakub. Perjalanan hidup mereka pernah lika liku dan tragedi dan berulang kali Allah bertindak menyelamatkan.
Bukankah itu juga anugerah?
Yakub berubah nama menjadi Israel, menjadi bangsa budak di Mesir.
Empat abad berikutnya Allah berinisiatif membebaskan bangsa ini dibawah pimpinan Musa. Bukankah ini juga anugerah?
Bahkan sepuluh hukum Tuhan diberikan untuk ditaati, pun diawali dengan firman Tuhan yang menyatakan: "Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan."
Bukankah itu berarti bahwa hukum tersebut diberikan untuk ditaati juga menjadi bentuk anugerah dari Allah agar umat hidup taat sebagai rasa syukur bahwa Allah telah bertindak membebaskan mereka dari perbudakan?
Jika pada akhirnya konsep anugerah menjadi semakin kuat dalam Perjanjian Baru, tentu itu bukan hal baru lagi.
Anugerah semakin ditegaskan bahwa Allah terus berinisiatif dalam sejarah untuk menyelamatkan.
Berulang kali Allah memperlihatkan karya penyelamatan-Nya dalam Perjanjian Lama. Umat menolak dengan tidak taat. Akhirnya hukuman diberlakukan.
Kembali Allah bertindak mengambil inisiatif menyelamatkan, dan berulang pula umat memberontak.
Namun pointnya, Allah tetap berupaya memberikan anugerah keselamatan kepada umat.
Bahkan pemberontakan umat tidak pernah menggagalkan rancangan Allah.
Menjadi tepat dan semakin mudah dipahami jika kepada jemaat di Roma, Paulus menegaskan perihal anugerah dengan cara yang sederhana.
Anugerah Allah pada akhirnya berpuncak pada tindakan-Nya yang berinkarnasi menjadi manusia dalam Yesus Kristus.
Itulah tepat adanya pernyataan ini: "Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan."
Pernyataan ini membawa kita paham bahwa Paulus sedang berbicara tentang anugerah. Untuk kesekian kalinya anugerah dinyatakan secara langsung.
Allah telah bertindak memberikan jaminan keselamatan dalam Yesus Kristus, sebagai Anak Domba Allah yang telah mati di kayu salib untuk melakukan penebusan bagi manusia dari dosa.
Kebangkitan-Nya memberikan jakinan keselamatan.
Manusia, siapa saja, hanya perlu kembali percaya kepada anugerah yang telah Allah karuniakan.
Hari ini kita hidup dalam anugerah. Di sepanjang sejarah pun setiap orang hidup dalam anugerah Allah. Anugerah Allah tanpa pandang bulu diberikan.
Siapa saja dan kapan saja memperoleh kesempatan yang sama untuk mendapatkan anugerah. Secara umum, siapa saja menjadi sasaran penyelamatan Allah, karena anugerah itu untuk semua ciptaan.
Anugerah itu telah mengerucut pada Yesus Kristus. Bagi yang belum percaya atau ragu, segeralah ambil pilihan dan keputusan, karena waktunya terbatas.
Pada saatnya kesempatan hilang ketika Yesus datang kembali.
Bagi yang sudah memilih percaya, jangan sia-siakan anugerah itu. Ada tugas dipundak kita untuk mewartakan anugerah tersebut.
Hiduplah sebagai orang-orang yang mendapatkan kesempatan kedua untuk menjalani kehidupan.
Percaya dan diselamatkan, itu sebuah pilihan. Allah menunggu respon manusia untuk menjawab.
Amin.
Renungan oleh Pdt Feri Nugroho S.Th, GKSBS Palembang Siloam
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/08012021-renungan.jpg)