Breaking News:

Berita Tanjabtim

Besarnya Biaya Uji Lab Bebas Jembrana Dikeluhkan Para Peternak Sapi di Tanjabtim

Lamikun peternak sapi menuturkan, untuk proses pemasaran sapi saat ini terbilang bagus, tidak ada kendala. Namun untuk saat ini pengiriman sapi ke wil

Penulis: Abdullah Usman | Editor: Rian Aidilfi Afriandi
tribunjambi/abdullah usman
Ilustrasi hewan kurban. 

TRIBUNJAMBI.COM, MUARASABAK - Harga penjualan sapi di luar Provinsi terbilang tinggi, para peternak keluhkan sulitnya proses dan tingginya biaya pemeriksaan laboratorium.

Lamikun peternak sapi menuturkan, untuk proses pemasaran sapi saat ini terbilang bagus, tidak ada kendala. Namun untuk saat ini pengiriman sapi ke wilayah luar seperti Batam ada beberapa hal yang membebani peternak maupun pedagang.

"Sebab dalam proses pengiriman hewan sapi ke Batam ada biaya Lab Jembrana yang sangat besar. Untuk satu ekornya bisa mencapai Rp 650.000, dan itu sangat membebani peternak dan pedagang sapi, " jelas Lamikun belum lama ini.

Dengan kondisi tersebut para peternak berharap kepada pemerintah, mudah-mudahan biaya Lab itu dibebaskan, atau diringankan harganya. Sebab pengiriman sapi yang dikirimkan hanya untuk dipotong, bukan untuk dipelihara di sana, jadi umurnya pun tidak lama.

"Selain itu, sapi yang dikarantina untuk diuji Lab itu bisa berminggu-minggu di lokasi uji Lab. Dan tentunya kondisi berat sapi juga bisa menurun jika terlalu lama di sana, belum lagi waktu tempuh pengiriman ke Batam. Jadi bobot sapi sampai lokasi pengiriman biasanya menurun. Itu juga berpengaruh dengan harga jual sapi," jelasnya

Sementara itu, Dokter Hewan Bidang Keswan Kesmavet Disbunnak Tanjab Timur Samsurizal mengatakan, pihaknya selalu menghimbau dan berkoordinasi dengan peternak maupun pedagang sapi, kerbau dan hewan ternak lainnya untuk mengantisipasi adanya penyakit berbahaya pada hewan ternak.

"Termasuk pengawasan terhadap penyakit sapi, karena kita ada satu penyakit yang pada saat ini hanya ada pada sapi bali dan keturunannya, yaitu Jembrana Disease yang disebabkan oleh virus," ucapnya.

Pedagang yang mengirim sapi ke luar Kabupaten Tanjab Timur, seperti ke pulau Batam, pihak Pemerintah Daerah di sana mensyaratkan untuk bebas jembrana. Jadi mereka tidak mau daerah mereka ditulari oleh penyakit jembrana, walaupun jumlah hewan ternak seperti sapi di wilayah Batam tidak terlalu banyak.

"Mereka mensyaratkan untuk uji Lab, karena kita dari Disbunnak Tanjab Timur hanya memeriksa kesehatan, tapi di luar Pemda kita itu ada dari Kementerian Pertanian yang namanya karantina hewan. Dari karantina hewan itu akan memantau sapi-sapi yang keluar dari antar pulau. Jadi mereka ada mengawasi itu dan mereka akan memeriksa dokumen," jelasnya.

Terkait kewenangan uji lab itu ada di Pemerintah Daerah masing-masing. Seperti halnya di Kepulauan Riau, minat beli dari sana cukup tinggi. Akan tetapi disana ada syarat terkait pengawasan sapi yang masuk bebas jembrana. Karena sapi ini sifatnya hanya sementara dan segera dipotong setibanya disana, seharusnya pemerintah disana memberikan sedikit peluang bagi peternak dan pedagang sapi dari Kabupaten Tanjab Timur dan peraturan itu agak melunak sedikit.

Baca juga: Pembeli Hewan Kurban Tahun Ini Diprediksi Melonjak, Peternak di Tanjabtim Gelar Pasar Luar Daerah

Baca juga: 10 Instansi Ini Paling Sedikit Pesaingnya di CPNS 2021 Karena Sepi Peminat, Buruan Daftarnya

Baca juga: Melebihi Target, Pemprov Jambi Dapat Rp 88,1 Miliar Dari Pemutihan Pajak Tahun 2021

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved