Sosok Ebrahim Raisi, Presiden Baru Iran yang Buat Israel Bereaksi Keras, Dikenal Sebagai Algojo

Israel bereaksi keras setelah Rakyat Republik Islam Iran sudah memilih Ebrahim Raisi sebagai presiden.

Editor: Teguh Suprayitno
AP PHOTO/EBRAHIM NOROOZI
Calon presiden Iran Ebrahim Raisi melambai ke media setelah memberikan suaranya di tempat pemungutan suara di Teheran, Iran, Jumat (18/6/2021). Iran menggelar pemungutan suara dalam pemilihan presiden pada Jumat. 

Ayahnya merupakan seorang pemuka agama dan meninggal saat Ebrahim berusia lima tahun.

Tak lama sebelum Revolusi 1979, Ebrahim mengenyam pendidikan agama di Kota Qom.

Saat berusia 15 tahun, ia telah berguru ke sejumlah ulama terkenal, seperti Ali Meshkini, Hossein Nouri Hamdani, dan Abul Qasim Khazali.

Kariernya dimulai sejak usia 20 tahun saat ia menjadi Jaksa di Kota Karaj pada 1980.

Ia ditugaskan ke beberapa ke kota, termasuk Kota Hamdan (1982) dan Teheran (1984) hingga 1990-an.

Ebrahim Raisi adalah seorang hakim sekaligus ulama Syiah garis keras yang berusia 60 tahun.

Dia dijatuhi sanksi oleh Amerika atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia.

Ulama ultrakonservatif ini mendukung dihidupkannya kembali kesepakatan nuklir.

Raisi menjadi Jaksa Agung Iran pada 2014.

Setelah kematian Imam Reza Vaezi Tabsi, Khamenei mengangkatnya sebagai kepala salah satu pusat agama dan ekonomi terpenting yang memiliki miliaran dana abadi.

Raisi juga diangkat sebagai kepala kehakiman pada 2019, dua tahun setelah kalah telak dari Hassan Rouhani dalam Pemilu

Raisi dipandang sebagai kandidat terpilih dari pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei dan memberikan dorongan besar untuk peluangnya.

Dia adalah seorang ulama ultrakonservatif, meskipun dia tidak memiliki status ayatollah, peringkat tertinggi untuk ulama Syiah.

Dia mengklaim garis keturunan yang ditelusuri kembali ke nabi Muhammad, yang memungkinkan dia untuk memakai sorban hitam.

Raisi adalah seorang hakim di pengadilan revolusioner Teheran, yang sedang menjalani pembersihan lawan-lawan Republik Islam, yang mengambil alih kekuasaan dalam revolusi 1979 di negara itu.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved