Breaking News:

Renungan Kristen

Renungan Harian Kristen - Mengasihi dengan Kasih Tuhan

Bacaan ayat: 1 Yohanes 4:19-20 (TB) - "Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan

Editor: Suci Rahayu PK
ist
Ilustrasi renungan harian 

Mengasihi dengan Kasih Tuhan

Bacaan ayat: 1 Yohanes 4:19-20 (TB) - "Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.
Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya".

Oleh Pdt Feri Nugroho

Pdt Feri Nugroho
Pdt Feri Nugroho (Instagram @ferinugroho77)

Setiap orang setuju bahwa mengasihi itu baik untuk dilakukan.

Tetapi tidak semua setuju untuk melakukan karena berbagai alasan. Jika melakukan pun, ternyata ada banyak syarat yang harus dipenuhi.

Paling tidak pertimbangan ekonomi cukup menonjol ketika untung atau rugi ketika mengasihi, dijadikan sebagai patokan. Kebanyakan akan mengasihi kalau dia dikasihi.

Sikap menunggu dan membalas kasih dengan kasih menjadi peristiwa alamaiah yang kita jumpai dalam banyak relasi.

Kasih menjadi bersyarat, baik itu batasan relasi atau hubungan, pengenalan atau domisili seseorang tinggal. Ikatan tertentu juga menjadi pengikat, misalnya keluarga, sesuku, sedaerah, hobby yang sama, dan lain-lain.

Sementara yang lain berkutat dengan kesulitan mengasihi karena banyak faktor.

Merasa tidak layak, tidak mampu, terlalu sempurna untuk dilakukan, biasanya menjadi alasan umum yang dipaparkan.

Beberapa bertahan untuk tetap mengasihi demi mendapatkan upah dimasa depan.

Iming-iming akan mendapatkan sorga menjadi magnet yang kuat bagi seseorang, sampai-sampai melakukan tindakan-tindakan ekstrim dalam mengasihi.

Apapun yang terjadi, semua orang setuju bahwa mengasihi itu benar; namun tidak semua orang dapat dan mau memilih kasih sebagai pilihan tindakan dalam membangun kehidupan.

Baca juga: Renungan Harian Kristen - Rencana Penyelamatan Allah Atas Manusia

Uniknya, Tuhan Yesus justru menempatkan kasih sebagai Hukum yang terutama dan yang pertama: bahwa mengasihi Tuhan Allah dan sesama, menjadi dua hukum yang terkait, bak dua sisi dari satu mata uang.

Pertanyaan besarnya, mengapa kasih ditempatkan atau berada pada posisi sentral dalam kehidupan?

Tidak adakah hukum lain yang bisa dijadikan sebagai pusat kehidupan?

Pertama, karena Allah adalah kasih. Karya Allah dalam menciptakan kehidupan, mengindikasikan bahwa dasar utamanya kasih.

Ketika selesai berkarya, Allah melihat yang diciptakan-Nya sungguh amat baik adanya.

Kasihlah yang membuat Allah berkarya menciptakan yang terbaik. Beragam tumbuhan dan hewan mencerminkan kemuliaan Allah.

Dalam berbagai perbedaan, kita dapat menyaksikan berapa kreatifnya Allah dalam berkarya.

Kedua, dalam kasih ada relasi. Diciptakannya manusia menurut gambar dan rupa Allah, bertujuan agar manusia dapat membangun relasi, baik dengan Allah yang menciptakannya maupun dengan ciptaan lain yang ada disekitarnya.

Baca juga: Renungan Harian Kristen - Hidup Takut Akan Tuhan

Tugas menguasai dan memelihara bumi, memungkinkan manusia membangun kehidupan dalam relasi. Manusia tidak sendirian.

Manusia terhadap sesamanya dikehendaki menjadi penolong yang sepadan dalam membangun kehidupan.

Ketiga, bahkan ketika manusia telah memberontak pun, kasih Allah tidak pernah berubah. Ia merancang penyelamatan demi memulihkan manusia pada tujuannya semula ketika Ia menciptakannya.

Tindakan Allah yang masuk dalam sejarah dengan menjadi manusia adalah wujud nyata bahwa Allah sangat mengasihi ciptaan-Nya. Allah berkenan menyelamatkan karena Allah mengasihi.

Rasanya tepat jika Yohanes memberikan kesimpulan bahwa jika ada tuntutan kepada manusia untuk mengasihi, dasar utamanya karena Allah telah mengasihi terlebih dahulu kepada manusia.

Allah telah memberikan teladan dan mewujudnyatakan kasih dalam tindakan yang nyata. Pengalaman dikasihi Allah seharusnya cukup memotifasi seseorang untuk berbuat kasih.

Andai pun harus berhadapan dan mengalami penghianatan sekalipun, tindakan Allah yang berkenan menjadi manusia untuk menyelamatkan setelah dikhianati, menjadi contoh nyata bahwa tidak ada alasan untuk berhenti berbuat kasih.

Baca juga: Renungan Harian Kristen - Penebusan: Nyawa Diselesaikan dengan Nyawa

Tindakan kasih diuji dalam perjumpaan. Tindakan kasih dipelajari dalam relasi.

Anak belajar kasih pertama kali dari orang tuanya. Seiring waktu, dia belajar dari orang-orang sekitar.

Dia memaknai banyak hak dengan rasa dan pikiran. Pada tahap inilah banyak yang tersesat dengan perlakukan buruk yang diterimanya, sehingga mengaburkan makna terdalam dari kasih Allah.

Apakah itu berarti tidak ada kesempatan untuk menata ulang kembali? Kesempatan selalu ada.

Yang diperlukan adalah kemauan untuk memilih memberikan makna ulang terhadap apa yang telah terjadi dan memaknainya secara benar sesuai kehendak Tuhan.

Sebab tidak mungkin seseorang dapat mengasihi Allah yang tidak dilihatnya, sedangkan terhadap saudara yang dilihatnya ia tidak mengasihi.

Pernyataan Yohanes ini tegas. Mengindikasikan bahwa kasih dimulai dan dipelajari dari tindakan-tindakan bagi sesama yang ada di sekitar.

Selalu berfikir baik terhadap segala hal menjadi benih yang pada saatnya akan bertunas dalam tindakan kasih.

Tabur benih kasih dimanapun kita berada. Pahami setiap saat bahwa Allah telah sedemikian dalam mengasihi kita. Pengalaman ini cukup untuk membuat kita tetap mengasihi apapun yang terjadi. Amin.

Renungan oleh Pdt Feri Nugroho S.Th, GKSBS palembang Siloam

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved