Kelakuan Pejabat Damkar Depok Dibongkar, Sandi Ngaku Diming-imingi Uang Segepok Biar Diam
Sandi Butar Butar memilih membongkar dugaan korupsi di Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) dan Penyelamatan Kota Depok.
Ditawari Uang Segepok, Sandi Pilih Bongkar Dugaan Korupsi Damkar Depok
TRIBUNJAMBI.COM - Sandi Butar Butar memilih membongkar dugaan korupsi di Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) dan Penyelamatan Kota Depok.
Ia mengaku sempat ditawari "uang damai" oleh seorang bendahara di instansi tersebut, tapi menolak.
Tawaran tersebut disampaikan setelah dirinya membongkar dugaan korupsi di dinas tempat dia bekerja.
"Di situ saya dapat pengakuan dia," ujar Sandi kepada Kompas.com, Selasa (25/5/2021).
Sebagai informasi, pengakuan dari bendahara yang disebut berinisial A itu sebelumnya juga disinggung oleh kuasa hukum Sandi, Razman Nasution, dalam sebuah konferensi pers April lalu.
Baca juga: Motif M Buat Konten Bakar Alquran Terungkap, Niat Balas Dendam pada Mantan Pacar Biar Viral
Baca juga: Pengakuan Istri Presiden Mesir Kejutkan Dunia, Ini yang Terjadi Sebelum Anwar Sadat Tewas Ditembak
"Bendahara, bidang keuangan mereka, sudah mengakui bahwa ada pemotongan dan mark up anggaran," ujar Razman, 19 April 2021 lalu.
"Pengakuannya berupa rekaman, lengkap. Sudah disimpan sama beliau dan sudah dikirim ke kita," ujarnya.
Sandi menceritakan lebih jauh soal hal ini. Peristiwa bermula tak lama setelah bendahara tersebut dipanggil ke Polres Metro Depok pada pertengahan April 2021 lalu.
"Waktu itu dia (bendahara) suruh anak-anak (anggota Damkar) tanda tangan menerima uang kelebihan BPJS, muter tuh dia, tapi (kelebihan) duitnya nggak (dikembalikan)," ungkap Sandi.

Peristiwa itu diketahui Sandi dari salah seorang kolega yang membocorkannya.
"Nah ketahuan lah sama saya. Saya telepon melalui ponsel danru (komandan regu) saya, 'Pak berjiwa besar lah, jangan kayak gitu, jangan melibatkan anggota lain, kenapa anggota lain diadu domba sama saya? Kalau begini mah panjang, Pak'," ujar Sandi.
Bendahara itu kemudian mengajak Sandi bertemu. Sandi mengiyakan tawaran itu, namun dengan syarat pertemuan dilakukan di rumah komandan regunya, yang diharapkan berperan sebagai saksi.
"Di situ saya ketemu. Di situ dia menawarkan sejumlah uang. Danru saya tahu dia menawarkan. Tapi saya tetap nggak mau. Saya bilang tetap, saya tetap lurus, ini hak anak-anak," kata Sandi.
"Dan di situ dia mengakui untuk uang BPJS ada anggarannya, sedangkan untuk anak-anak masih dipotong, terus (ada) uang lebihannya," lanjutnya.