Renungan Kristen
Renungan Harian Kristen - Hidup Dalam Perdamaian
Bacaan ayat: Markus 9:50 (TB) - "Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempuny
Hidup Dalam Perdamaian
Bacaan ayat: Markus 9:50 (TB) - "Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain."
Oleh Pdt Feri Nugroho
Dalam budaya modern, garam minimal mempunyai dua fungsi yaitu memberi rasa dan sebagai bahan pengawet.
Masakan akan terasa nikmat ketika diberi garam.
Rasa hambar akan hilang dan berganti dengan citarasa yang lezat.
Garam juga dapat mengawetkan makanan. Daging yang diberi garam yang cukup, akan bertahan lama.
Garam menghindarkan daging dari bakteri pengurai yang dapat membuatnya cepat membusuk.
Dalam tradisi Perjanjian Lama, garam terkait erat dengan ritual korban sajian kepada Allah.
Korban sajian dibubuhi garam sebagai simbol perjanjian antara Allah dengan manusia.
Korban sajian yang menjadi pengantara terhubungnya antara Allah dan manusia yang dibubuhi garam menjadi tanda perdamaian, yaitu perjumpaan antara Allah dengan manusia melalui korban sajian.
Yesus memberikan pengajaran berharga bagi kita bahwa garam yang hambar tidak ada lagi gunanya, selain dibuang dan diinjak-injak orang.
Baca juga: Renungan Harian Kristen - Rancanganmu Bukan Rancangan-Ku
Makna penting bagi kita adalah menyadarkan setiap kita akan identitas diri yang ada dalam diri kita sebagai orang-orang percaya.
Identitas dasar, bahwa setiap kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Setiap kita memancarkan kemuliaan Allah.
Setiap kita diciptakan dengan potensi untuk membangun kehidupan. Menatap bumi dan menaklukkannya.
Hal ini sudah seharusnya membawa kita pada pemahaman akan adanya kesederajatan setiap orang di hadapan Allah.
Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Sikap menghargai dan saling menghormati terus dikembangkan dalam kehidupan.
Berikutnya, setiap kita dilahirkan dalam dosa.
Kecenderungan berdosa selalu melekat dalam setiap pribadi. Potensi untuk melakukan kejahatan selalu ada, menunggu waktu yang tepat untuk berkreasi.
Fakta ini membawa kita pada posisi untuk tidak saling menghakimi satu dengan yang lain.
Kebenaran terus dikumandangkan dalam berbagai cara dan bentuk. Dalam hal ini setiap orang bebas untuk memilih.
Selanjutnya, karya penyelamatan Allah dalam Yesus berfokus pada penyelamatan: berdamainya antara Allah dengan manusia.
Perdamaian ini berimbas pada perdamaian dalam segala hal: berdamai dengan Allah, berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan sesama dan berdamai dengan alam.
Baca juga: Renungan Harian Kristen - Menemukan Karya Tuhan
Itulah sebabnya setiap orang percaya adalah garam dunia.
Ia mempunyai identitas diri sebagai garam untuk memberi rasa bagi dunia dan mencegah 'bakteri dosa' datang untuk membusukkan kehidupan.
Setiap orang percaya adalah garam, yang dibubuhkan dalam korban sajian, sebagai tanda telah hidup damai dengan Allah.
Maka sudah seharusnya damai tersebut terwujudnyatakan dalam relasi kehidupan dengan sesama.
Hiduplah damai seorang akan yang lain. Ampunilah karena engkau sudah diampuni. Amin
Renungan oleh Pdt Feri Nugroho S.Th, GKSBS Palembang Siloam
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/18112020_berdoa2.jpg)