MUTIARA RAMADAN
Mutiara Ramadan - Pilih Berkah atau Bahagia ?
Sebab tidak semua kebahagiaan itu membawa keberkahan. Contoh ketika saya menang taruhan, uang dapat, hati senang. Atau ketika uang yang saya dapat dar
Hanya tertinggal satu orang bayi yatim, cucu Abdul Muthalib. Teman-temannya enggan menyusui bayi yatim itu. Ini dikarenakan wanita-wanita itu selalu menaruh harapan kebaikan dan bayaran dari ayah si anak asuh.
Akhirnya, daripada pulang dengan tangan kosong, Halimah pun pergi ke rumah anak yatim itu. Ketika Halimah mengambil bayi itu dan menggendongnya. Tetiba ia merasakan ada yang berubah pada dirinya.
Ia yang semula berjalan dengan menggeletar sempoyongan karena lelah dan lapar yang menderanya, kini merasa segar dan bertenaga. Bahkan ketika bayi Muhammad menangis dan ingin menyusui, ajaib payudaranya terasa penuh.
Dan saat mulai menyusui, air susunya mengalir dengan deras. Suaminya bangkit dan melihat kantong susu kambingnya juga penuh. Sehingga bisa diperas dan diminum bersama hingga puas dan kenyang.
Mereka tertidur nyenyak di malam yang baik itu. Ketika pagi tiba, suaminya berkata, “Demi Allah, wahai Halimah, engkau telah mengambil seorang bayi yang penuh dengan berkah”.
Ketika pulang pun keledai Halimah yang tadinya pincang, kini berjalan penuh semangat dengan amat ringan.
Sesampainya di kampung pun kemudian kambing-kambing Halimah selalu pulang dari padang gembalaan dalam keadaan kenyang dan air susunya penuh. Sementara kambing orang lain tidak. Padahal mereka berada di padang gembalaan yang sama. Diceritakan kemudian kambing Halimah beranak pinak, berlipat lebih banyak dari kambing tetangga.
Seluruhnya sehat dan gemuk. Seisi rumah diliputi keceriaan dan cinta. Anak-anak di keluarga pun tumbuh sempurna tanpa penyakit dan bahaya.
Sungguh bayi yatim itu membawa berkah. Membawa kebaikan yang sangat banyak pada Halimah daan keluarganya. Halimah menjadi saksi atas keberkahan anak yatim itu.
Kedua, kisah Nabi Musa dalam surat al-Qashash ayat 15-29. Ketika ia berlari meninggalkan Mesir karena akan dibunuh oleh Fir’aun dan pembesar negeri setelah mengetahui Musa muda memukul seorang lelaki Qibhty hingga meninggal.
Musa yang memukul karena membela kaumnya itu kemudian bergegas lari, dengan penuh waswas dan galau. Tanpa tahu jalan dan tanpa ada kawan.
Langkahnya lebar dan tanpa jeda, pandangan lurus ke depan tanpa menoleh. Dan setelah menempuh jarak yang jauh, menguras tenaga hingga lemas. Sampai akhirnya ia tiba di sebuah mata air.
Musa melihat orang yang berdesak-desakan memberi minum ternak. Dan terlihat dua orang gadis yang menahan kekang kambingnya agar tak mendekat ke mata air sambil menahan haus.
Di dalam Al-Qur’an, Musa disebut sebagai lelaki yang kuat dan dapat dipercaya (Al-qashash: 26) . Bukan karena kekuatan pukulannya, akan tetapi karena menolong di saat dia sendiri lapar dan haus, keletihan, ketakutan, serta asing dengan lingkungan barunya.
Musa menawarkan bantuan walaupun pada saat itu sesungguhnya dia sendiri sangat memerlukan bantuan. Dan ternyata amalnya itu benar-benar membawa berkah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/tribun-jambi-edisi-3-mei-2021.jpg)