Rabu, 15 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Mutiara Ramadan

Siklus Rehat Alat Pencernaan Selama Satu Bulan Ramadan (2)

Seorang tabib diutus oleh Muqauqis, Raja Mesir kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam sebagai ungkapan solidaritas sosial

Editor: Deddy Rachmawan
TRIBUN JAMBI/IST
Hasan Basri Husin Wakil Katib Syuriah PW Nahdlatul Ulama Provinsi Jambi 

Oleh: Hasan Basri Husin Wakil Katib Syuriah PW Nahdlatul Ulama Provinsi Jambi

DALAM tulisan Puasa Ajaran Universal yang Sehat dan Menyehatkan (Bagian I), telah dibahas bagaimana manusia mengonsumsi makanan dalam tiga tingkatan klasifikasi.

Pertama, tingkatan hajat atau makan makanan yang dibutuhkan yaitu beberapa suap makanan sekadar untuk bisa menegakkan tulang punggung. Kedua, tingkatan kifayah atau ukuran kecukupan, yaitu makan makanan yang mengisi sepertiga perut, sepertiga perut berikutnya untuk minuman dan sepertiga perut lagi untuk pernafasan. Ketiga, tingkatan fudlah atau makan yang kelewat batas atau berlebih-lebihan, yaitu makan makanan yang mengisi perut lebih dari sepertiganya.

Kita bisa belajar firman Allah dalam Alquran Surat Al-A’raf Ayat 31 yang artinya, “Makan dan minumlah dan jangan berlebih-lebihan, sesungguhnya Dia (Allah) tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”

Seorang tabib diutus oleh Muqauqis, Raja Mesir kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam sebagai ungkapan solidaritas sosial untuk mengobati penduduk Madinah secara cuma-cuma.

Setelah tabib ini bermukim beberapa lama di Madinah, ternyata tidak ada seorang pasien pun yang datang berobat kepadanya.

Hal ini bukan karena penduduk Madinah yang didominasi oleh para sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mampu membayar dan bukan juga karena mereka membencinya. Bahkan sebaliknya penduduk Madinah menyayangi dan menaruh hormat kepadanya.

Akhirnya dokter tersebut mohon diri pamit kepada Rasulullah, hendak pulang dengan alasan selama berada di Madinah tidak ada seorang pasien pun yang datang berobat kepadanya.

Namun sebelum beranjak pulang, dia mengutarakan kekagumannya terhadap tata kehidupan kaum muslimin sambil bertanya. “Tuan, izin saya untuk mengetahui rahasia apakah yang menyebabkan tidak seorang pun mengeluh sakit di sini?" tuturnya.

Rasulullah menjawab dengan bahasa yang sederhana namun mengesankan. Terjemahkan Bahasa Indonesia sebagai berikut, “Kami kaum yang tidak makan sehingga merasa lapar dan bila makan kami tidak sampai kekenyangan.” (HR Abu Dawud).

Pel rutinga boom dalam bukunya De zeikten van de maag menyatakan, “Makanan yang mudah dicerna dapat juga merusakkan jika dimakan melebihi batas, karena dikehendaki dari perut tenaga-tenaga lebih banyak dari semestinya dan datanglah bahaya perut menjadi besar dan buncit. Orang terlalu sering lupa bahwa perut adalah alat yang secara berkala harus melepas lelahnya juga (istirahat). Mengisi perut dengan terlalu cepat dan penuh bisa menimbulkan gejala reflek, juga gejala cardial dan cerbral kadang-kadang yang amat keras”.

Proses makan pada manusia dapat ditelaah dari sudut mekanis secara sederhana sebagai berikut: makanan dikunyah secukupnya di mulut kemudian di telan dan melewati pipa ushopogus sampai ke dalam lambung. Di lambung makanan di tampung dan dicerna selama kurang lebih empat jam.

Selama itulah makanan dicerna dan dipersiapkan pada kondisi keasaman tertentu dan mengamankannya dari infeksi-infeksi tertentu serta diteruskan sedikit demi sedikit menuju ke usus halus sampai lambung kosong.

Di usus halus makanan disempurnakan pencernaannya selama kurang lebih empat jam. Jadi, setelah menikmati makanan alat-alat pencernaan terus bekerja dan baru bisa beristirahat setelah kurang lebih delapan jam kemudian.

Kalau memakai jadwal makan rata-rata tiap orang seperti lazimnya, makan pagi pukul 07.00, makan siang pukul 13.00 dan makan malam pukul 19.30, maka akan diperoleh gambaran selama sehari semalam (24 jam) sebagai berikut :

Makan pagi pukul 07.00, system pencernaan bekerja menghaluskan, mencerna dan menyerap masuk ke dalam darah sampai terakhir kurang lebih pukul 15.00

Makan siang pukul 13.00, belum selesai pekerjaan memberesi makanan pagi, sistem pencernaan bekerja lagi memberesi makanan siang sampai kurang lebih pukul 21.00.

Makan malam pukul 19.30, belum selesai pekerjaan memberesi makanan siang plus pagi, sistem pencernaan bekerja lagi membereskan makanan malam sampai kurang lebih pukul 03.30, pagi.

Baca juga: Kisah Ramadan Mahasiswa Jambi dari Olak Kemang di Rusia, Puasa Hingga 19 Jam 

Baca juga: Mutiara Ramadan - Bulan Ramadan dan Dilema Pedagang Warteg

Baca juga: Standar Zakat Fitrah Kabupaten/Kota di Provinsi Jambi Telah Ditetapkan, Segini Besaranya

Baca juga: Cerita Pilu Istri Letda Rhesa Saat Antar Suami ke KRI Nanggala, Aku Pasti Kangen Banget Sama Kamu

Ada kenyataan lain lagi yang makin memberatkan pekerjaan sistem pencernaan yaitu kebiasaan makan cemilan atau kudapan atau makanan selingan yang waktunya sangat tidak beraturan.

Sekarang mari kita lihat gambaran kondisi sistem pencernaan dalam keadaan berpuasa, yaitu makan sahur pukul 03.30 pagi, sistem pencernaan bekerja menghaluskan, mencerna dan menyerap masuk ke dalam darah sampai terakhir lebih kurang pukul 11.30.

Berbuka pukul 18.15, maka antara pukul 11.30 sampai 18.15 menjelang malam yaitu lebih kurang enam jam, tidak ada beban baru berupa makanan yang masuk, alat-alat pencernaan istirahat selama kurun waktu lebih kurang enam jam dan baru akan bekerja lagi dimulai sejak berbuka sampai lebih kurang pukul 01.30 dini hari, kemudian istirahat lagi lebih kurang 2 (dua) jam sampai dimulainya makan sahur.

Siklus rehat alat pencernaan selama satu bulan Ramadan ini memberikan dampak positif yang sangat luar biasa bagi kesehatan fisik manusia yang berpuasa karena memberikan interval yang sangat panjang bagi kerja organ-organ tubuh seperti lambung, ginjal dan liver.

Selama itu tubuh tidak menerima masukan makanan maupun minuman sehingga menimbulkan efek berupa rangsangan terhadap seluruh sel, jaringan, dan organ tubuh, efek rangsangan ini menghasilkan, memulihkan dan meningkatkan fungsi-fungsi organ sesuai dengan fungsi biologisnya, misalnya panca indera menjadi lebih tajam.

Dengan berpuasa, organ-organ tubuh mengalami interval terpelihara, daya tahan tubuh dan taraf kesehatan menjadi prima, gerak dan mekanisme tubuh dalam keadaan fresh dan rileks sehingga memberi kesempatan kepada sel-sel dan jaringan-jaringan tubuh untuk memperbarui diri setelah sekian lama terus-menerus bekerja .

Menurut hasil penelitian di universitas Osaka Jepang tahun 1930, setelah memasuki hari ketujuh berpuasa, jumlah sel darah putih dalam darah orang-orang yang berpuasa meningkat. Pada minggu pertama (hari kesatu sampai hari keenam) berpuasa, tidak ditemukan pertumbuhan sel darah putih namun pada hari ketujuh sampai hari kesepuluh penambahan jumlah sel darah putihnya pesat sekali.

Penambahan jumlah sel darah putih ini secara otomatis meningkatkan kekebalan tubuh, sel-sel darah putih ini berfungsi melawan peradangan yang ada dalam tubuh sehingga banyak penyakit radang yang dapat disembuhkan dengan berpuasa seperti radang tenggorokan, radang hidung, radang amandel, radang lambung yang kronis, radang usus kronis dan radang persendian.

Eksperimen para peneliti di Amerika terhadap tikus-tikus putih yang tubuhnya diinjeksi dengan sel-sel kanker membuktikan bahwa kelompok tikus yang diberi terapi puasa tidak terkena kanker, sebaliknya tikus yang tidak diberi terapi puasa terkena kanker.

Hasil penelitian pakar kedokteran Taiwan membuktikan bahwa pada tubuh manusia normal setiap hari di produksi sel-sel kanker, akan tetapi ternyata jumlah orang yang tidak terkena kanker jauh lebih banyak, ini bisa terjadi karena tubuh manusia memiliki zat yang berfungsi menetralisir racun.

Sel getah bening yang berada dalam sel darah putih memiliki keampuhan menghancurkan sel-sel kanker yang disebut vaksinasi sel, dan sekali lagi patut dipertegas bahwa puasa adalah media penghasil sel darah putih yang sangat luar biasa pesat.

Dengan demikian, pengaruh puasa terhadap Kesehatan jasmani selain aspek pengobatan yang sangat signifikan ialah aspek pencegahan dan aspek perlindungan. Jadi pantaslah jika sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam Sayyidina Ali Bin Abi Tholib Karromallahu Wajhah menceritakan dengan semangat keyakinan yang sangat tinggi tentang jaminan kesehatan fisik jasmani bagi orang-orang yang berpuasa.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya: “Sesungguhnya Allah memerintahkan kepada nabi bani Israel dengan firmannya, umumkanlah kepada kaummu bahwa seorang hamba tidak berpuasa sehari demi mendapatkan keridhoan-Ku semata kecuali Aku akan memberinya kesehatan fisik jasmani dan memberinya pahala yang amat besar.” (HR. Baihaqi).

Maka “puasalah kamu niscaya kamu akan sehat” (HR.Ibnu Sunni dan Abu Nuaim). Wallahu a’alam bishshowab. (*)

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved