Breaking News:

MUTIARA RAMADAN

Mutiara Ramadan - Puasa Ajaran Universal yang Sehat dan Menyehatkan (Bagian I)

Para biksu agama Budha di Vietnam melakukan puasa sebagai protes terhadap orang atau bangsa lain yang dianggap berlaku tidak adil kepada mereka...

Editor: Edmundus Duanto AS
Tribun Jambi
Hasan Basri Husin, Wakil Katib Syuriah PW Nahdlatul Ulama Provinsi Jambi 

Hasan Basri Husin
Wakil Katib Syuriah PW Nahdlatul Ulama Provinsi Jambi

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya, “Puasalah kamu niscaya kamu akan sehat.” (HR. Ibnu Sunni dan Abu Nuaim). Dalam Bahasa Arab puasa disebut shaum atau shiyam yang bermakna menahan diri atau berpantang dari sesuatu yang dilarang menurut ketentuan syariat Islam seperti makan, minum, seks dan beberapa perkara lainnya yang dapat membatalkan puasa dari sejak masuknya waktu subuh sampai masuknya waktu maghrib.

Deklarasi wajibnya puasa Ramadan pertama kali disampaikan oleh Baginda Rasulullah Saw pada bulan Sya’ban tahun kedua Hijriah seiring dengan turunnya Firman Allah dalam Surat Al-Baqarah Ayat 183. Selama hidupnya, Nabi melakukan puasa Ramadan sebanyak 9 kali, 8 kali dengan hitungan 29 hari dan sekali saja dengan hitungan yang sempurna 30 hari. Sementara Nabi dan Rasul terdahulu beserta ummatnya juga telah menjalankan syariat puasa seperti yang pernah Allah perintahkan kepada Nabi Musa AS sebagaimana diceritakan dalam Al-Qur’an Surat Al-A’raf Ayat 142.

Syarat sebelum menerima Kitab Taurat, Nabi Musa AS diperintahkan untuk melakukan puasa 40 hari terlebih dahulu. Sejarah Islam mencatat bahwa Nabi Musa AS mengerjakan puasa dari tanggal 1 Dzulqa’dah sampai 10 Dzulhijjah dan Taurat diterima Nabi Musa bersamaan dengan Hari Raya Idul Adha. Puasa empat puluh hari ini lalu dilakukan oleh rohaniawan di antara orang-orang Yahudi sampai kini, meraka puasa pada hari kesepuluh bulan ketujuh menurut perhitungan mereka.

Dalam kitab Zakariya ditemukan bahwa bani Israel sesudah diusir dari Babilonia mereka melakukan puasa di antaranya pada hari tiga belas dari bulan “adar” (Maret) untuk memperingati peristiwa “haman dan astir”. Haman adalah perdana menteri raja Persia, aksarsis, sedangkan astir adalah adalah permaisurinya. Haman Menyusun siasat untuk memusnahkan seluruh bangsa yahudi tetapi tipu muslihat ini diketahui oleh permaisuri astir, Haman lalu ditangkap raja kemudian dibunuh, dan untuk memperingati tragedi ini bangsa Yahudi melakukan puasa.

Bangsa-bangsa primitif yang tidak terjangkau oleh dakwah agama ternyata juga melakukan puasa. Bangsa Mesir kuno misalnya, biasa melakukan puasa pada hari-hari besar mereka, sebagaimana kebiasaan para tokoh dan dukun bangsa mesir melakukan puasa tujuh hari sampai enam minggu setiap tahunnya.

Begitu juga bangsa Cina melakukan puasa pada hari-hari tertentu yang dianggap sebagai hari malapetaka. Selain mereka juga berpuasa pada hari-hari besar, mereka berpuasa ketika ada anggota keluarganya meninggal. Sebagian orang Cina yang tinggal di Tibet bahkan berpantang makan selama 24 jam terus-menerus tanpa berhenti sampai tidak mau menelan ludahnya sendiri.

Bangsa Yunani mengambil tradisi puasa dari bangsa Mesir kuno, mereka berpuasa pada sebelum musim bunga dan sebelum masa panen. Sebagian mereka berpuasa beberapa hari berturut-turut sebelum berangkat menuju ke medan perang supaya memperoleh kemenangan. Tradisi berpuasa bangsa Yunani ini juga sama persis seperti yang dilakukan oleh bangsa Romawi dan Persia.

Para biksu agama Budha di Vietnam melakukan puasa sebagai protes terhadap orang atau bangsa lain yang dianggap berlaku tidak adil kepada mereka. Konon Mahatma Ghandi berpuasa selama 21 hari demi persahabatan dan persatuan antara umat Hindu dan umat Islam di India.

Dalam masyarakat Jawa kuno, tradisi puasa juga sangat terkenal, seakan-akan puasa sudah menjadi keakraban hidup mereka. Beberapa istilah membuktikan ini, ada puasa mutih, tidak memakan makanan berwarna putih misalnya nasi putih, garam, putih telur dan lain-lain. Puasa ngrowot atau brakah, menghindari makan nasi dan umumnya hanya memakan dedaunan, ketela atau jagung. Puasa patigeni, berdiam di ruangan tertutup yang gelap gulita dengan tidak makan dan minum yang umumnya dilakukan selama tiga hari tiga malam. Ada pula puasa ngalong, tidak makan minum dengan menggelantungkan diri pada batang pepohoinan di alam bebas.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved