Puasa Ajaran Universal  yang Sehat dan Menyehatkan (1)

Selama hidupnya, Nabi melakukan Puasa Ramadan sebanyak 9 kali,  8 kali dengan hitungan 29 hari dan sekali saja dengan hitungan yang sempurna 30 hari.

Editor: Deddy Rachmawan
TRIBUN JAMBI/IST
Hasan Basri Husin Wakil Katib Syuriah PW Nahdlatul Ulama Provinsi Jambi 

Oleh: Hasan Basri Husin, Wakil Katib Syuriah PW Nahdlatul Ulama Provinsi Jambi

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya, “Puasalah kamu niscaya kamu akan sehat.” (HR. Ibnu Sunni dan Abu Nuaim). 

Dalam Bahasa Arab puasa disebut shaum atau shiyam yang bermakna menahan diri atau berpantang dari sesuatu yang dilarang menurut ketentuan syariat Islam seperti makan, minum, seks dan beberapa perkara lainnya yang dapat membatalkan puasa dari sejak masuknya waktu subuh sampai masuknya waktu maghrib.

          Deklarasi wajibnya puasa Ramadan pertama kali disampaikan oleh Baginda Rasulullah Saw pada bulan Sya’ban tahun kedua Hijriah seiring dengan turunnya Firman Allah dalam Surat Al-Baqarah Ayat 183.

Selama hidupnya, Nabi melakukan Puasa Ramadan sebanyak 9 kali,  8 kali dengan hitungan 29 hari dan sekali saja dengan hitungan yang sempurna 30 hari.

Sementara Nabi dan Rasul terdahulu beserta ummatnya juga telah menjalankan syariat puasa seperti yang pernah Allah perintahkan kepada Nabi Musa AS sebagaimana diceritakan dalam Al-Qur’an Surat Al-A’raf Ayat 142.

          Syarat sebelum menerima Kitab Taurat, Nabi Musa AS diperintahkan untuk melakukan puasa 40 hari terlebih dahulu.

Sejarah Islam mencatat bahwa Nabi Musa AS mengerjakan puasa dari tanggal 1 Dzulqa’dah sampai 10 Dzulhijjah dan Taurat diterima Nabi Musa bersamaan dengan Hari Raya Idul Adha.

Puasa empat puluh hari ini lalu dilakukan oleh rohaniawan di antara orang-orang Yahudi sampai kini, meraka puasa pada hari kesepuluh bulan ketujuh menurut perhitungan mereka.

          Dalam kitab Zakariya ditemukan bahwa bani Israel sesudah diusir dari Babilonia mereka melakukan puasa di antaranya pada hari tiga belas dari bulan “adar” (Maret) untuk memperingati peristiwa “haman dan astir”.

Haman adalah perdana menteri raja Persia, aksarsis, sedangkan astir adalah adalah permaisurinya.

Haman Menyusun siasat untuk memusnahkan seluruh bangsa yahudi tetapi tipu muslihat ini diketahui oleh permaisuri astir, Haman lalu ditangkap raja kemudian dibunuh, dan untuk memperingati tragedi ini bangsa Yahudi melakukan puasa.

          Bangsa-bangsa primitif yang tidak terjangkau oleh dakwah agama ternyata juga melakukan puasa.

Bangsa Mesir kuno misalnya, biasa melakukan puasa pada hari-hari besar mereka, sebagaimana kebiasaan para tokoh dan dukun bangsa mesir melakukan puasa tujuh hari sampai enam minggu setiap tahunnya.

          Begitu juga bangsa Cina melakukan puasa pada hari-hari tertentu yang dianggap sebagai hari malapetaka.

Selain mereka juga berpuasa pada hari-hari besar, mereka berpuasa ketika ada anggota keluarganya meninggal. Sebagian orang Cina yang tinggal di Tibet bahkan berpantang makan selama 24 jam terus-menerus tanpa berhenti sampai tidak mau menelan ludahnya sendiri.

          Bangsa Yunani mengambil tradisi puasa dari bangsa Mesir kuno, mereka berpuasa pada sebelum musim bunga dan sebelum masa panen.

Baca juga: PENAMPAKAN KRI Nanggala 402 yang Ditemukan di Kedalaman 838 Meter, Terpecah Jadi 3 Bagian

Baca juga: Susi Pudjiastuti Beri Penghormatan untuk Awak KRI Nanggala 402, Kenang Kebersamaan Kolonel Harry

Baca juga: Dihadiahi Timah Panas, Pelaku Pembobol ATM Diringkus Tim Gabungan Polda Jambi di Muara Bulian

Baca juga: Jalani Taaruf dengan Pria Sumatera, Roro Fitria Sempat Minta Break Karena Gaya Bicara

Sebagian mereka berpuasa beberapa hari berturut-turut sebelum berangkat menuju ke medan perang supaya memperoleh kemenangan.

Tradisi berpuasa bangsa Yunani ini juga sama persis seperti yang dilakukan oleh bangsa Romawi dan Persia.

          Para biksu agama Budha di Vietnam melakukan puasa sebagai protes terhadap orang atau bangsa lain yang dianggap berlaku tidak adil kepada mereka.

Konon Mahatma Ghandi berpuasa selama 21 hari demi persahabatan dan persatuan antara umat Hindu dan umat Islam di India.

          Dalam masyarakat Jawa kuno, tradisi puasa juga sangat terkenal, seakan-akan puasa sudah menjadi keakraban hidup mereka.

Beberapa istilah membuktikan ini, ada puasa mutih, tidak memakan makanan berwarna putih misalnya nasi putih, garam, putih telur dan lain-lain.

Puasa ngrowot atau brakah, menghindari makan nasi dan umumnya hanya memakan dedaunan, ketela atau jagung.

Puasa patigeni, berdiam di ruangan tertutup yang gelap gulita dengan tidak makan dan minum yang umumnya dilakukan selama tiga hari tiga malam.

Ada pula puasa ngalong, tidak makan minum dengan menggelantungkan diri pada batang pepohoinan di alam bebas.

          Terlepas dari sekian banyak tujuan dan latar belakang puasa yang dilakukan oleh umat dan bangsa terdahulu, yang jelas telah terlihat dengan nyata bahwa puasa itu adalah ajaran universal.

Puasa hadir pada sisi kehidupan manusia sebagai sumber pemenuhan kebutuhan naluri bahkan bisa jadi menjadi kebutuhan fitrah.

          Sejarah puasa sangat tua setua umur manusia itu sendiri, dimulai sejak zaman Nabi Adam AS lalu terus mengalir mengikuti arus kehidupan dunia sampai kiamat dengan model dan tujuan yang berbeda-beda seperti yang sudah dijelaskan di atas.

Namun puasa menurut syariat ajaran Islam konsep dan juklaknya jauh lebih konkret dan elegan. Bahkan manfaatnya bisa dibuktikan lewat penelitian ilmiah dunia kesehatan, sebagaimana dicatat dalam realita rekam jejak medis bahwa puasa itu sehat dan menyehatkan.

          Manusia mengonsumsi makanan dalam tiga tingkatan klasifikasi.

Pertama, tingkatan hajat atau makan makanan yang dibutuhkan yaitu beberapa suap makanan sekadar untuk bisa menegakkan tulang punggung.

Kedua, tingkatan kifayah atau ukuran kecukupan, yaitu makan makanan yang mengisi sepertiga perut, sepertiga perut berikutnya untuk minuman dan sepertiga perut lagi untuk pernafasan.

Ketiga, tingkatan fudlah atau makan yang kelewat batas atau berlebih-lebihan, yaitu makan makanan yang mengisi perut lebih dari sepertiganya.

          Makanan dan minuman yang dikonsumsi setiap saat, tempat penyimpanannya adalah di lambung, sedangkan lambung ada di dalam perut. Pernafasan berpusat pada paru-paru di dalam bagian dada.

Rongga perut dan rongga dada letaknya bersusun, sedangkan di antara rongga-rongga perut itu ada sekat, dan sekat ini berbentuk jaringan pengikat dan otot.

Maka jika perut terisi penuh,  sekat tersebut akan terdesak ke atas sehingga mempersempit ruang gerak paru-paru akibatnya pasti menggangu kelancaran system pernafasan. Di lain sisi, lambung yang penuh akan menimbulkan gangguan pada sistem pencernaan karena lambung merupakan bagian dari organ pencernaan, akibatnya perut jadi sakit, badan terasa berat dan dapat merusak jantung.

          Ada ungkapan yang menyebutkan bahwa lambung yang terus menerus diisi makanan yang tidak terkendali akan sakit dan akan menjadi sarang penyakit.

Jika lambung yang menjadi organ vital pencernaan ini sakit, organ tubuh yang lain akan menjadi sakit pula. Ada hubungan yang erat antara fungsi perut dan fungsi seluruh tubuh sehingga tidak ada penderitaan sesuatu alat tubuh atau gangguan atas susunannya kecuali perut terbawa-bawa olehnya.

Tentang lambung atau perut ini, Rasulullah mengungkapkan dalam sabdanya.

“Lambung (perut) adalah kolam tubuh, urat-urat seluruhnya bermuara kepadanya. Karena itu jika lambung (perut) sehat maka urat-urat akan tumbuh sehat, dan jika lambung (perut) sakit, maka urat-urat akan tumbuh sakit,” (HR. Thabrani).

Atas dasar ini, perlu adanya suatu usaha pengendalian diri dari mengonsumsi makanan dan minuman secara berlebihan dan melampaui batas dengan diet atau menahan atau dalam bahasa Agama disebut puasa.

Seorang dokter Arab terkenal pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bernama Al-Haris Bin Kaldah pernah ditanya oleh seseorang tentang,  apakah esensi obat ? dia menjawab dengan jawaban lugas, singkat, padat dan berisi, yang jawabannya ini  telah dijadikan sebagai dasar ilmu kedokteran hingga saat ini, “melakukan diet dengan tepat karena lambung akan menjadi rumah penyakit dan diet atau berpantang/puasa adalah pangkal segala obat.”

Hal ini sejalan dengan Firman Allah dalam Al-Quran Surat Al-A’raf Ayat 31 yang artinya, “Makan dan minumlah dan jangan berlebih-lebihan, sesungguhnya Dia (Allah) tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (bersambung)

Sumber: Tribun Jambi
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved