Renungan Kristen
Renungan Harian Kristen - Harus Siap Menjadi Saksi
Bacaan ayat: Lukas 24:10-11 (TB) - "Perempuan-perempuan itu ialah Maria dari Magdala, dan Yohana, dan Maria ibu Yakobus. Dan perempuan-perempuan lain
Harus Siap Menjadi Saksi
Bacaan ayat: Lukas 24:10-11 (TB) - "Perempuan-perempuan itu ialah Maria dari Magdala, dan Yohana, dan Maria ibu Yakobus. Dan perempuan-perempuan lain juga yang bersama-sama dengan mereka memberitahukannya kepada rasul-rasul. Tetapi bagi mereka perkataan-perkataan itu seakan-akan omong kosong dan mereka tidak percaya kepada perempuan-perempuan itu"
Oleh Pdt Feri Nugroho
Dalam banyak budaya, perempuan berada pada posisi dinomorduakan ketika berhadapan dengan laki-laki.
Didasarkan pada kondisi fisik, perempuan dinilai lebih lemah dari laki-laki.
Dalam hal berfikir, perempuan didominasi oleh perasaan sehingga dipandang lemah untuk dijadikan dasar sebuah keputusan.
Kombinasi kondisi tersebut, memposisikan perempuan selalu pada nomor dua ketika berhadapan dengan persaingan dan perebutan kekuasaan.
Misal ada perempuan yang mempunyai kekuasaan, ia harus berjuang lebih keras karena harus menyingkirkan banyak laki-laki yang menjadi saingannya. Keluarga yang menikah, tanpa disadari, selalu berharap mempunyai anak laki-laki daripada perempuan.
Jika yang lahir anak laki-laki, akan dinilai berbahagia; sementara jika yang lahir perempuan, biasanya didorong untuk bersabar demi anak berikutnya yang diharapkan akan lahir laki-laki. Ketika menikah, perempuan juga pada posisi yang lemah.
Baca juga: Renungan Harian Kristen - Merenungkan Firman Tuhan
Kekerasan selalu yang menjadi korban adalah perempuan. Dan dalam banyak kasus, perempuan yang menjadi korban pun masih dipersalahkan sebagai penyebab terjadinya kekerasan.
Alkitab memberikan data yang menarik. Allah menciptakan laki-laki dan perempuan sederajat di hadapan Tuhan.
Sama-sama sebagai gambar dan rupa Allah, yang dikehendaki oleh Allah untuk bertambah banyak, mengelola dan menguasai bumi.
Dalam hal relasi, laki-laki dan perempuan dikehendaki menjadi penolong yang sepadan; diwarnai dengan penghargaan dan penempatan posisi sesuatu dengan potensinya masing-masing.
Bukankah ini yang harus terus kita pahami dalam sejarah perjalanan kehidupan kita dalam ruang dan waktu yang telah Allah ciptakan?
Dalam budaya Yahudi, wanita tidak masuk dalam hitungan. Beberapa kali Yesus memberi makan: lima ribu orang, ternyata yang dihitung adalah laki-laki, sementara perempuan dikategorikan sejajar dengan anak-anak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/08012021-renungan.jpg)