MUTIARA RAMADAN
Mutiara Ramadan - Sekali Tarawih, Terus Tarawih
SEPERTI biasa, euforia dalam spirit tarawih jelas akan tampak pada minggu-minggu pertama. Minggu selanjutnya, fatwa MUI tahun lalu tentang salat ...
Bisa jadi, alasan pertama adalah karena ibadah hanya milik orang tua. “Ah nantilah ibadahnya kalau sudah tua”. Jelas ini merupakan anggapan yang keliru. Karena harusnya, yang muda lah yang lebih dominan. Badan sehat, akal sehat, dan langkah masih tegap. Tapi faktanya, justru para orang tua yang mampu bertahan dan menjaga spirit tarawih dari awal sampai akhir bulan Ramadan. Lalu, siapa yang lebih sehat?
Alasan kedua mengapa anak muda malas tarawih ke masjid, karena tarawih hukumnya sunnah. Yang wajib saja berat, apalagi yang sunnah. Begitu kira-kira motivasi yang tertanam. Ini jelas berbeda dengan motivasi para pendahulu.
Dulu, orang-orang menjalankan tarawih karena tahu dan paham bahwa tarawih hukumnya sunnah. Kini, orang-orang malas tarawih karena tau hukumnya sunnah.
Maka, upaya yang harus digalakkan adalah memberikan pemahaman apa itu sunnah dan bagaimana posisinya dalam hukum Islam. Sebagian ulama berpendapat bahwa tarawih hukumnya sunnah muakad, sebagian yang lain berpendapat bahwa hukumnya sunnah saja.
Anggaplah para generasi saat ini mengambil pendapat yang kedua, yaitu hukum tarawih sunnah saja. Lantas, bagaimana sebenarnya sunnah dalam salat tarawih?
Setidaknya, terdapat dua kategori sunnah. Pertama, sunnah yang mengikat atau sunnah yang disyariatkan. Kedua, sunnah yang tidak mengikat, atau nonwahyu.
Nah, salat tarawih merupakan sunnah yang menempel dengan sebuah hukum yang mengikat dan sangat disyariatkan. Khalifah Umar sampai-sampaikan mengeluarkan pengumuman bahwa spirit salat tarawih harus terus dilaksanakan secara berjemaah meskipun Nabi Muhammad Saw tidak lagi salat tarawih di masjid karena khawatir akan dianggap wajib.
Bagiamana dengan sunnah yang tidak mengikat? Misalnya, sunnah memanjangkan janggut, makan menggunakan tangan, memakai gamis, serban dan lain-lain yang bersifat tradisi dan tabiat. Sunnah ini dipersilahkan kepada manusia untuk memilih. Berbeda dengan salat tarawih, hukumnya merupakan Sunnah yang disyariatkan. Tidak ada pilihan lain kecuali untuk terus menjaga spirit tarawih dan melaksanakannya secara berjamaah.
Jadi, salat tarawih ini pembahasan serius dong?
Ya iyalah, harus serius dan fokus. Tapi tetap dilaksanakan dengan santai. Tapi, apa iya sesantai itu?
Tadinya iya, tapi kemudian para ulama khususnya di Indonesia, membuat format santai dengan versi yang berbeda. Yaitu menyisipkan bacaan-bacaan selawat dan membaca sekilas tentang sirah atau kisah para sahabat. Terutama sahabat nabi yang menjabat sebagai khalifah setelah nabi Muhammad Saw.
Siapa yang bertugas membacakan shalawat dan sirah tersebut?
Di Indonesia mereka disebut bilal. Inspirasinya sederhana, yaitu dari salah seorang sahabat nabi yang bernama Bilal bin Rabah yang memiliki tugas mengumandangkan azan, iqomah dan informasi-informasi penting lainnya. Ijtihad dalam menyisipkan selawat, sirah dan kisah para sahabat tentu bukan tanpa alasan. Satu di antara banyak alasan tersebut yaitu agar waktu jeda atau istirahat antara rakaat salat tarawih menjadi lebih khidmat.
Jadi, santai minum kopi tadi tidak boleh lagi?
Tetap boleh, namun harus selalu dalam koridor khusu dan tidak mengganggu jalannya salat tarawih.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/mutiara-ramadan-sekali-tarawih-terus-tarawih.jpg)