Jumat, 12 Juni 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Mutiara Ramadan

Ramadan Adalah Perjumpaan

Mayoritas umat Islam pasti menolak informasi sembrono tersebut dan menolak tiga konsep mulia Islam dihubungkan dengan tindakan aniaya diri sendiri

Tayang:
Editor: Deddy Rachmawan
TRIBUN JAMBI/IST
Arfan Aziz, M.Soc.Sc., Ph.D Dosen di Fakultas Dakwah UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi 

Selain masih dalam suasana pandemi, Ramadan 1442 Hijriah ini diliputi dua peristiwa duka.

Pertama adalah musibah yang dialami saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat yang pada akhir Maret lalu diterjang Badai Siklon Seroja.

Kedua, tindakan yang dilakukan dua anak muda di dua tempat berbeda, satu tempat ibadah umat Nasrani di Makassar dan satu lagi di Kantor Polisi di Jakarta, yang menuai keprihatinan mendalam dan menciderai kedamaian yang ada di negara tercinta ini.

Kita semua pasti mendoakan segera pulihnya suasana psikologis masyarakat NTT dan NTB pascamusibah badai siklon, berharap segera terjadinya revitalisasi semua fasilitas umum dan pribadi masyarakat yang terdampak di dua provinsi tersebut.

Pada saat sama, kita juga pasti mendukung semua usaha deradikalisasi, apalagi terhadap kaum muda yang akan memikul tanggungjawab sejarah Republik ini.

Anak muda yang akan menjadi tulang punggung kemaslahatan bangsa, negara dan agama pada masa yang akan datang.

Pembangunan kesadaran deradikalisasi penting sekali, karena istilah intoleransi, radikalisme dan terorisme menjadi semakin akrab dengan masyarakat.

Media mendekatkannya. Suka atau tidak suka, istilah-istilah itu didampingi pula dengan konsep-konsep mulia Islam yang mengalami peyorasi atau pendangkalan makna dan tafsirnya tercemar akibat tindakan kekerasan di lapangan oleh penganut paham kekerasan, seperti konsep jihad, tauhid dan amaliyah.

Padahal, sungguh tiga konsep ini adalah konsep mulia, karena Islam mengajarkan kemuliaan, bukan aniaya.

Sebagian kecil, saya yakin kecil sekali, ada pula mungkin yang percaya berita palsu dari akun-akun palsu medsos, bahwa bunuh diri teror itu drama dan atau konspirasi.

Kepercayaan yang melawan fakta, dan harus dibasuh dengan air penyadaran secara terus menerus.

Mayoritas umat Islam pasti menolak informasi sembrono tersebut dan menolak tiga konsep mulia Islam dihubungkan dengan tindakan aniaya diri sendiri, apalagi aniaya sesama muslim yang tidak terkait langsung dengan sasaran kegusaran para pelaku.

Namun, teknologi informasi era digital mengantarkan dengan cepat peristiwa aniaya ini kepada khalayak, sekaligus tafsir sempit para pelaku terhadap konsep-konsep keagamaan yang mengiringi tindakannya.

Karenanya, pada hari-hari mulia Ramadan ini, di tengah keprihatinan banyak orang tertimpa musibah, kehilangan pendapatan, sebagian orang terpapar Covid-19, sebagian anak sekolah dan kaum muda mahasiswa tidak bisa kuliah tatap muka, sebagian lain ada juga tengah mendekam di penjara karena didakwa melanggar protokol kesehatan dan akibat melancarkan kritik tajam;

penting nian kiranya menggaungkan lagi perdamaian, persaudaraan Islam serta solidaritas kemanusiaan yang menjadi melting pot, titik pertemuan semua kalangan pada saat Ramadan.

Persaudaraan
Ajaran persaudaraan adalah ajaran azazi manusia.

Orang berpuasa terikat dalam persaudaraan sosial. Ramadan membuat semua orang yang berpuasa merasa lapar di tengah hari dan merasa kenikmatan buka pada ujung hari. Sama rasa.

Sahur bersama, puasa bersama, buka bersama, tadarus dan tarawih. Persaudaraan dalam kepatuhan kepada ajaran agama.

Pertikaian, permusuhan dan konflik mungkin terjadi di kalangan elit ekonomi, militer, politik dan mencuat serta tercatat sejarah. Namun, sejarah persaudaraan, sejarah persahabatan, dan cerita solidaritas lebih banyak lagi.

Baca juga: Banyak Jamaah Salat Tarawih di Masjid Al Sulthon Sarolangun Tak Bermasker, Ini Kata Wakil Bupati

Baca juga: Benarkah Tidur Orang yang Berpuasa Bernilai Ibadah? Begini Penjelasan Ustaz Abdul Somad

Baca juga: Jadwal Buka Puasa Selasa 13 April 2021 Jambi

Baca juga: Hari Pertama Puasa, Aktivitas di Kantor Gubernur Jambi Berjalan Seperti Biasa, Ini Jam Kerja ASN

Terutama di kalangan rakyat biasa yang tidak terlibat dalam hiruk pikuk perdebatan kebijakan dan politik. Ramadan ini milik semua kelas sosial.

Ajakan persaudaraan dalam kepatuhan adalah untuk semua, rakyat biasa hingga warga negara utama. Titik bertemu bagi semua.

Hadis riwayat Imam al-Bukhari menyatakan bahwa dari Abdullah ibn Umar Radiyallahu‘anhuma, bahwa Rasulullah Muhammad SAW bersabda: “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya disakiti. Barang siapa yang membantu kebutuhan saudaranya maka Allah akan membantu kebutuhannya. Barang siapa yang menghilangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah menghilangkan satu kesusahan baginya dari kesusahan-kesusahan hari kiamat. Barang siapa yang menutupi (aib) seorang muslim maka Allah akan menutupi (aibnya) pada hari kiamat”.

Sabda Nabi ini mengajarkan pentingnya persaudaraan dan solidaritas. Jika kita membantu orang, Allah akan bantu kita. Jika kita hilangkan susah orang, Allah hilangkan kesusahan kita.

Pada konteks itu pula, jika kita bantu kaum muda untuk menghadapi perubahan sosial masyarakat serta masalah hidup yang semakin kompleks, Allah mudahkan berbagai masalah generasi anak cucu kita kelak.

Solidaritas untuk Kaum Milenial
Kompleksitas masalah kaum muda hari ini adalah dimulainya transformasi sosial digital sehingga hilangnya sektor pekerjaan incumbent.

Diperkirakan 70 juta pekerjaan lenyap. Namun, sektor pekerjaan baru juga bermunculan seiring lahirnya berbagai start-up atau perusahaan rintisan berbasis teknologi digital, dan transformasi organisasi incumbent ke arah digitalisasi. Diperkirakan lebih dari 100 juta lapangan kerja baru yang melibatkan teknologi juga muncul.

Apa yang penting adalah usaha keras kaum muda untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang ada ini. Dan, segera harus dicatat juga, perkembangan teknologi tidak akan mengubah sifat utama yang menjadi kehormatan abadi manusia.

Kejujuran, integritas, ketepatan janji, kerendahan hati dan empati adalah nilai-nilai yang tidak akan lekang oleh waktu.

Orang tua harus merawat nilai-nilai itu, memberikan contohnya dan terus mewariskannya kepada kaum muda. Inilah bentuk solidaritas kepada mereka sekaligus menjaga keberlanjutan hidup umat manusia.

Sebaliknya, menolak dinamika teknologi dan menjauhkan diri dari nilai-nilai kehormatan dasar manusia itu, dapat berarti berputus asa. Keputus-asaan bukanlah sesuatu yang dianjurkan dalam Islam.

Kisah Ya’qub Alaihissalam jelas sekali mengabadikan kekuatan seorang tua menolak keputus-asaan dan memotivasi anak-anaknya untuk terus berusaha mendapatkan saudaranya, Yusuf Alaihissalam.

Kata Nabi Ya’qub dalam Surat Yusuf ayat 87: “Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir".

Semoga motivasi dari para orang tua, guru-guru kita, ulama-ulama kita, membawa kaum muda Indonesia semakin berdaya. Selamat berpuasa, selamat menikmati persaudaraan dan kedamaian. Ramadan adalah titik perjumpaan, bukan pertikaian.[*)

PenuliS: Arfan Aziz, M.Soc.Sc., Ph.D
Dosen di Fakultas Dakwah UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 02:00 WIB
Mexico
Meksiko
2 - 0
South Africa
Afrika Selatan
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 09:00 WIB
South Korea
Korea Selatan
2 - 1
Czechia
Ceko
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved