Mutiara Ramadan

Ramadan Adalah Perjumpaan

Mayoritas umat Islam pasti menolak informasi sembrono tersebut dan menolak tiga konsep mulia Islam dihubungkan dengan tindakan aniaya diri sendiri

Editor: Deddy Rachmawan
TRIBUN JAMBI/IST
Arfan Aziz, M.Soc.Sc., Ph.D Dosen di Fakultas Dakwah UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi 

Selain masih dalam suasana pandemi, Ramadan 1442 Hijriah ini diliputi dua peristiwa duka.

Pertama adalah musibah yang dialami saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat yang pada akhir Maret lalu diterjang Badai Siklon Seroja.

Kedua, tindakan yang dilakukan dua anak muda di dua tempat berbeda, satu tempat ibadah umat Nasrani di Makassar dan satu lagi di Kantor Polisi di Jakarta, yang menuai keprihatinan mendalam dan menciderai kedamaian yang ada di negara tercinta ini.

Kita semua pasti mendoakan segera pulihnya suasana psikologis masyarakat NTT dan NTB pascamusibah badai siklon, berharap segera terjadinya revitalisasi semua fasilitas umum dan pribadi masyarakat yang terdampak di dua provinsi tersebut.

Pada saat sama, kita juga pasti mendukung semua usaha deradikalisasi, apalagi terhadap kaum muda yang akan memikul tanggungjawab sejarah Republik ini.

Anak muda yang akan menjadi tulang punggung kemaslahatan bangsa, negara dan agama pada masa yang akan datang.

Pembangunan kesadaran deradikalisasi penting sekali, karena istilah intoleransi, radikalisme dan terorisme menjadi semakin akrab dengan masyarakat.

Media mendekatkannya. Suka atau tidak suka, istilah-istilah itu didampingi pula dengan konsep-konsep mulia Islam yang mengalami peyorasi atau pendangkalan makna dan tafsirnya tercemar akibat tindakan kekerasan di lapangan oleh penganut paham kekerasan, seperti konsep jihad, tauhid dan amaliyah.

Padahal, sungguh tiga konsep ini adalah konsep mulia, karena Islam mengajarkan kemuliaan, bukan aniaya.

Sebagian kecil, saya yakin kecil sekali, ada pula mungkin yang percaya berita palsu dari akun-akun palsu medsos, bahwa bunuh diri teror itu drama dan atau konspirasi.

Kepercayaan yang melawan fakta, dan harus dibasuh dengan air penyadaran secara terus menerus.

Mayoritas umat Islam pasti menolak informasi sembrono tersebut dan menolak tiga konsep mulia Islam dihubungkan dengan tindakan aniaya diri sendiri, apalagi aniaya sesama muslim yang tidak terkait langsung dengan sasaran kegusaran para pelaku.

Namun, teknologi informasi era digital mengantarkan dengan cepat peristiwa aniaya ini kepada khalayak, sekaligus tafsir sempit para pelaku terhadap konsep-konsep keagamaan yang mengiringi tindakannya.

Karenanya, pada hari-hari mulia Ramadan ini, di tengah keprihatinan banyak orang tertimpa musibah, kehilangan pendapatan, sebagian orang terpapar Covid-19, sebagian anak sekolah dan kaum muda mahasiswa tidak bisa kuliah tatap muka, sebagian lain ada juga tengah mendekam di penjara karena didakwa melanggar protokol kesehatan dan akibat melancarkan kritik tajam;

penting nian kiranya menggaungkan lagi perdamaian, persaudaraan Islam serta solidaritas kemanusiaan yang menjadi melting pot, titik pertemuan semua kalangan pada saat Ramadan.

Sumber: Tribun Jambi
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved