Breaking News:

Bahaya Duet Karhutla dan Corona, Siti Nurbaya: Semua Harus Kerja Keras

Jelang musim kemarau Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya mewanti-wanti ancaman karhutla di tengah pandemi Covid-19.

Editor: Teguh Suprayitno
IST/KKI WARSI
Kebakaran hutan dan lahan di Jambi 

Bahaya Duet Karhutla dan Corona, Siti Nurbaya: Semua Harus Kerja Keras

TRIBUNJAMBI.COM - Jelang musim kemarau Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya mewanti-wanti ancaman karhutla di tengah pandemi Covid-19.

Ia meminta semua pihak untuk bekerja keras mengendalikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di seluruh wilayah Indonesia. 

"Kerja pengendalian karhutla harus terus dilakukan, harus kerja keras agar tidak terjadi duet bencana corona dan karhutla," kata Siti saat kunjungan kerja ke Kota Dumai, Provinsi Riau mengunjungi Daops Manggala Agni Dumai, dilansir dari Tribunnews.com, Minggu (11/4/2021).

Kata Siti berkat kerja keras semua pihak, pada 2020 lalu Riau tidak lagi mengalami kegelapan karena kabut asap karhutla.

Baca juga: Prabowo Bentuk Detasemen Kawal Khusus Kemenhan, DPR Tak Tahu Apa Itu?  

Oleh karena itu, tahun ini kerja keras yang sama harus dilakukan karena pandemi Covid-19 masih berlangsung.

"Indonesia pernah melalui masa-masa sulit karhutla. Namun sejak kejadian tahun 2015, berbagai langkah koreksi dan koreksi kebijakan (corrective action and corrective policy) terus dilakukan," kata dia.

Namun jika menggunakan baseline 2015, ujar Siti, pada 2016-2019 luas karhutla di Indonesia mengalami penurunan.

Kebakaran hutan dan lahan di wilayah Provinsi Jambi tahun 2019 lalu
Kebakaran hutan dan lahan di wilayah Provinsi Jambi tahun 2019 lalu (TRIBUNJAMBI/IST)

Karhutla di Indonesia pada tahun 2016 turun 83 persen, tahun 2017 turun 94 persen, 2018 turun 80 persen, 2019 turun 37 persen, dan 2020 turun 89 persen.

"Luas karhutla pun mengalami penurunan 82 persen pada tahun 2020 dibandingkan tahun 2019," kata dia.

Sementara berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), di Provinsi Riau menunjukkan tren dua kali puncak periode rawan karhutla, yakni pada periode Februari-Maret, dan periode Juni-September.

Perbandingan total jumlah hotspot tahun 2020 dan 2021 pun mengalami penurunan 310 titik atau 58,94 persen.

Baca juga: Pemerintah Pusat Kirim Helikopter Patroli ke Jambi dari BNPB Untuk Antisipasi Karhutla Sudah Tiba

Pada 1 Januari – 8 April 2020 terdapat 526 titik. Jumlah tersebut turun pada 2021 menjadi 301 titik.

Siti mengatakan, data tersebut berdasarkan Satelit Terra/Aqua (LAPAN) Conf. Level ?80%.

"Jadi harus dikawal betul, lebih baik mencegah daripada memadamkan," ucap dia

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved