Sosok Inspiratif
Sempat Berpikir untuk Menyerah, Kisah Inspiratif GM Kopi Paman Kristonsen Tanuar (Bagian 2-habis)
Banyak jalan untuk mencapai kesuksesan, jika ragu dengan jalan yang akan di tempuh ada jalan lain yang dapat di pertimbangankan,
Penulis: Ade Setyawati | Editor: Fifi Suryani
TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Banyak jalan untuk mencapai kesuksesan, jika ragu dengan jalan yang akan di tempuh ada jalan lain yang dapat di pertimbangankan, seperti kisah Kristonsen Tanuar sebagai General Manager Kopi Paman.
Sebelum ia berada di titik seperti sekarang, banyak hal yang telah ia lewati, ia melewati lelah, airmata, tawa dan bahkan hampir menyerah, ini bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilalui.
Cara Kristonsen menyelesaikan masalah di dalam tim, tidak luput juga dari masa yang telah ia lalui, seperti di perkuliahan, menganggur dan juga saat ia menjadi karyawan dan ini merupakan cara yang ia terapkan.
"Saya pernah kuliah dan disana saya diajarkan bagaimana mencari solusi, kemudian saya sempat nganggur setahun, dan saya belajar idealis tidak bagus. Terakhir saya pernah jadi karyawan, saya tau feeling seperti apa yang dirasakan oleh teman-teman dan ketiga hal itu saya jadikan modal jadi pimpinan dan modal mengatasi masalah tim ini," lanjutnya.
Penempatan diri sangat penting di dalam tim, pemimpin yang egois maupun otoriter juga sangat berdampak bagi perusahaan dan kinerja karyawan itu sendiri.
"Karena tiga faktor itu juga yang membuat saya tahu kapan saya menjadi abang, kapan saya menjadi pimpinan yg harus mengambil keputusan dan kapan saya bisa menjadi adik dari beliau dan saya banyak belajar dari mereka juga, saya sangat percaya yang paling penting itu SDM nya dan sistem akan mengikuti," jelasnya.
Meskipun sudah melewati beberapa masalah dalam perusahaan, baik dari luar maupun masalah tim yang ia tangani dengan baik, namun masalah akan selalu datang selama kita masih berjuang dan perjuangan tidak pernah benar-benar berakhir.
Masalah datang lagi dan bisa dikatakan ini merupakan masalah yang sangat membuatnya down dalam hidup, bertubi-tubi masalah hadir silih berganti, dan meskipun ia sempat ingin menyerah tapi itu tidak ia lakukan.
Masalah pertama ialah ketika anak pertamanya step pukul 2 subuh, yang membuat ia dan istrinya sangat panik melihat wajah anaknya membiru, ia merasa memiliki jabatan dan anak buah tapi tidak bisa menggunakannya, ia memiliki uang di rekening tidak bisa secepat itu memberikan pertolongan kepada anaknya.
Setelah itu, masalah yang lain mulai hadir, ia dipanggil ke pihak berwajib dan dijemput di rumah sakit, hingga perusahaan hampir disegel.
"Saat anak saya di rumah sakit, saya dipanggil pihak berwajib ke rumah sakit, karyawan mulai panik, dan perusahaan juga hampir disegel, dan ternyata ada pengaduan dari masyarakat. Saya ajak lihat ke pabrik, di pabrik semua karyawan sudah melakukan yang terbaik dan saya hampir setiap hari minum Kopi Paman tapi tidak apa-apa," jelasnya.
Tidak hanya berhenti di situ, permasalahan yang lain hadir lagi, selesai pihak kepolisian masalah internal yang datang, dan masalah ini yang membuatnya berfikir untuk menyerah.
"Selesai masalah kepolisian ada lagi yang berbuat curang, hampir mencapai ratusan juta, dan inilah titik rendah saya, saya kumpulkan tim, saya tanya ke semua karyawan. Kenapa kalian curangi saya? Saya gak pernah curangi kalian. Dan di saat itu saya emosi, saya marah, saya dan saya tidak stabil," ucapnya.
"Jika kalian tidak mau bantu saya silahkan pergi, saya akan bubarkan perusahaan ini, semua diam, dan saya tidak tahu harus seperti apa, saya keluar pintu dan saya kerumah sakit, saya sharing sama istri," lanjutnya.
Setelah beberapa masalah yang datang silih berganti tidak ada jeda, ia membutuhkan waktu untuk berfikir, ia berkeliling-keliling menggunakan mobil, ia mulai mempertanyakan lagi kepada diri sendiri kenapa tahun 2010 ia memutuskan untuk pulang dan apa yang sudah ia dapatkan dari keputusan yang telah ia buat.